Testimoni menarik tentang Adjie Massaid yang ditulis oleh Linda Djalil.

“Sekedar tulisan ringan bagi pembaca di akhir pekan ini”

Aku tidak sanggup dulu berpanjang lebar, Djie. Tenagaku terkuras sejak
ajalmu tiba. Enerjiku seakan-akan habis. Air mataku kering sudah. Hari ini
hari ketujuh. Acara tahlilan di kediamanmu akan digelar lagi seusai sholat
Isya bersama. Aku bersama keluarga besar telah menyiapkan segala sesuatunya.
Dari hari pertama, Djie. Dan sebagian sudah ambruk flu berat. Biasanya,
kamu selalu memberikan aku permen khusus untuk flu. Permen apa ya itu Djie?
“Hehe..ini permen vitamin C. Kakak gitu aja nggak tau, gimana sih?”, begitu
katamu saat itu sambil tertawa lebar.

Siang ini sudah gelap gulita. Apakah akan hujan lebat setelah ini? Aku tidak
berharap begitu, agar tahlilan nanti berjalan lancar dan rapi. Sebagaimana
kamu selalu mengatur acara apapun di rumahmu, selalu harus necis, tertata
rapi, dan nyaman. Aku, adik-adik, tentunya Ibu, juga istrimu yang tak henti
mengalirkan air matanya, tetap menginginkan acara semua berjalan baik. Semua
demimu, Djie.Apalagi yang bisa kami berikan padamu bila semua sudah
terlanjur lenyap seperti ini? Ketiga anakmu terpana, semua pembantu rumah
tanggamu, sopir, staf yang lain, tersedu-sedu di malam kamu pergi itu. Aku
yang pertama kali lari dari Rumah Sakit Fatmawati untuk kembali ke rumahmu.
Bagaimana aku sanggup melihatmu terbujur di ruang jenazah yang mencekam,
sementara Angiemu begitu pilu tersedu-sedu. Di rumah belum ada yang tahu,
dan belum dipersiapkan apapun. Pikiranku langsung ke lokasi kelak kamu
dibujurkan nanti, pakai tempat tidur apa, pakai kain apa untuk
menyelimutimu, meja mana yang harus digeser.., kursi mana yang harus juga
dipindah-pindahkan.

Aku muncul di rumah yang sepi. Perih! Aku bingung harus berbuat apa.
Pelan-pelan kubangunkan pembantu setiamu. Dia harus membantu aku membereskan
segalanya. Dengan berurai air mata, kami mengangkut meja jatimu yang berat
itu, merapikan karpet. Keanu yang berada di kamarnya harus aku pindahkan
sementara, karena kasurnya akan dipakai. Untungnya ibuku tak kehilangan
akal. Dalam kepanikannya di Rumah Sakit ia menghubungi adiknya untuk
mendapatkan tempat tidur jenazah.

Aku panik begitu kamu sudah muncul di halaman depan dengan ambulans yang
mencekam itu. Duh… gemetarnya seluruh tubuh ini, bercampur panik dan pedih
luar biasa, tak bisa dibayangkan lagi! Lalu anak-anakmu muncul dari kamar
masing-masing…. ya Allah… kubayangkan wajah Zahwa dan Alliyah, Djie. Betapa
mereka kaget luar biasa dan sedih tak terkira. Aku tak sanggup memeluk
mereka, ketimbang aku semakin larut dalam nestapa pada detik itu.

Istrimu luar biasa dukanya. Panggilan kesayangan yang selalu ia lontarkan
kepadamu,’Dal’.., selalu ia sebut di telingamu yang sudah mulai membiru. Air
matanya menyentuh seluruh wajahmu yang cakep, Djie. Duh, adikku… kamu cakep
sekali tertidur di dipan jenazah itu. Senyummu yang selalu tulus tetap
muncul di situ. Aku sudah tidak ingat lagi siapapun yang datang karena
semua bagaikan kerumunan tawon di tengah sebongkah madu. Berdengung tiada
henti. Saat Presiden SBY dan istrinya melayat dan menyapa aku saat
mendampingi Angie istrimu, aku juga bagai tak perduli lagi. Yang aku hanya
ingat hanyalah duka, duka, dan duka.

Djie, kamu tahu tidak, aku terakhir membohongi kamu lho. Waktu kamu bilang
mau berziarah ke makam ayahmu yang tidak jauh dari rumahku, ada nada tanya
seolah-olah memang kamu mau mampir ke rumahku setelah dari makam. Aku
buru-buru bilang mau pergi segera. Sebetulnya aku berbohong… ya ampun..
mengapa pula aku harus membohongimu. Aku katakan itu semua karena pada jam
itu aku masih malas mandi, dengan baju tidur yang lusuh, dan rumah sedang
berantakan bagai kapal pecah. Adjie mau datang ke rumahku yang heboh itu,
duh, jangaaaaan… karena aku malu memperlihatkan rumahku yang jauh dari
kerapihan ketimbang rumahmu yang super necis itu. Pokoknya, aku lagi malas
deh kedatangan siapapun pada hari itu. Sebelumnya, selama seminggu terakhir
itu kamu juga agak setengah memaksa aku untuk sering-sering datang ke rumah.
Saat itu memang aku sedang repot luar biasa, mempersiapkan buku biografi
seorang sahabat. Aku enggan diganggung siapapun agar inspirasiku tidak
hilang dalam penulisan. Aku hanya berjanji, “Nanti ya Djie, aku masih
repot.. aku datang deh, kita nyanyi-nyanyi lagi, aku main piano yang lama
untuk kamu!”

“Kakak mau dimasakin apa? Kakak mau dibeliin makanan apa? Adjie suruh ya,
apa mau dianter ke rumah?” , itu kata-katamu. Duh… mengapa kamu selalu saja
ingin menyenangkan hati orang. Ibumu yang di Jakarta ini, kenyang mendapat
perhatian penuh bertumpah ruah darimu. Ibumu yang di Belanda begitu pula.
Adik-adikmu, kakakmu, selalu kau sirami dengan atensi yang berlebih. Ini
bukan soal kebendaan., Bukan soal materi, melainkan perhatian dan sapaan
hangat selalu.

Kadang kamu telepon aku dari gedung DPR, “Darling, lagi apa kak?” Dan aku
hanya tertawa singkat, lalu ngobrol sebentar, lalu tutup telepon. Kadang
aku melontarkan kritik pedas untuk orang-orang partaimu. Kamu hanya
senyum-senyum saja. Dan kita tidak sampai berdebat soal politik.Banyak orang
heran ya Djie, kita sama sekali tidak sekandung, tapi hubungan kita
Alhamdulillah akrab terpelihara. Dan selama ini kan aku jarang cerita ke
banyak orang, bahwa ayahmu dan ibuku menikah selama 23 tahun sampai ajal
ayahmu tiba tahun lalu itu. Tak dapat kupungkiri bahwa kita pernah pula tak
bertegur sapa sebentar, karena aku membelamu dalam suatu hal, namun kamu
salah paham. Akhirnya hubungan cair kembali dan kita kembali kerapkali
mengadakan pertemuan keluarga di mana-mana. Di restoran, di rumahmu, di
rumah ibu.

Djie, Keanu masih saja memanggil-manggilmu sampai sekian hari setelah kamu
pergi, “Papa..papa..!” Duh.. segala macam mainannya, mobil-mobilannya yang
lucu itu terasa sepi karena pengemudinya tidak lagi bersama ayahnya
menjalankan mobil-mobilan itu. Biasanya kamu yang memainkan kemudi, lalu
Keanu yang mondar-mandir dengan mobilnya. Kamu berteriak seru, Keanu juga.
Belum lagi kalau aku ingat, kamu selalu memeluk mencium Zahwa dan Alliyah
setiap saat. Cintamu kepada mereka sungguh luar biasa. Bagaimana kamu
menjadi bapak dan ”ibu’ rumah tangga secara luar biasa cermatnya, tak akan
aku lupa sepanjang hayatku, Djie. Dan anak-anak pasti juga tak bisa
melupakan begitu saja kedekatan mereka denganmu, terlebih saat-saat kamu
masih hidup sendiri.

Apabila seseorang diwawancarai wartawan dan berbicara ini itu, aku hanya
tersenyum geli, Djie. Sebab aku tahu ada beberapa uraiannya sama sekali
tidak benar. Dari mana aku tahu? Tentu dari cerita-ceritamu , curhatmu
selama ini kan tentang orang itu? Dan aku lebih mempercayai omonganmu.
Jadi, aku, dan keluarga besar hanya senyum-senyum saja menanggapi itu semua
saat ini. Biarlah berbicara maunya apa. Yang penting Tuhan Maha Tahu.., dan
kamu yang kini sudah pergi tokh ‘dari awang-awang’ akan mendengar jelas
seberapa jauh memang si pembohong itu selalu berkata-kata… hhhhmm..!!

Djie, aku tidak mau bercerita lain dulu. Kamu kan masih melihat kami. Betapa
pontang-pantingnya kami semua selama tujuh hari ini. Tapi kami melakukannya
dengan ikhlas. Kepedihan Angie menjadi kepedihan kami bersama. Tapi kami
tahu Djie, kamu tidak akan suka melihat orang bersusah hati. Cintamu kepada
Angie yang begitu besar luar biasa, semoga menjadi perekat keluarga kita dan
membawa ketabahan yang tiada batas.

Di pusaramu tiap hari ada bunga sedap malam putih kesenanganmu. Si Yanto
penjual bunga langganan kita itu Djie, sekarang jadi top banget gara-gara ia
diwawancarai oleh berbagai media, bahkan ia dipanggil dalam acara Tukul. Ia
bercerita banyak tentang kamu di layar televisi. Angie nonton si Yanto
dari sofa kesayanganmu ditemani kami ramai-ramai, sambil tersenyum pedih….
dan ia tetap tak berhenti bertasbih, dari tasbih emas darimu yang lalu….

Adjie, surat ini untukmu. Yang terbaca oleh orang lain. Biar saja. Agar
orang tahu betapa cinta dan persaudaraan kita memang indah selama ini. Aku
tak putus doa untukmu, adikku. Amal ibadahmu selama ini menjadi bekalmu di
’sana’. Semoga pula segala kekhilafanmu terhapus dan menjadi ringan adanya
menuju Sang Khalik. Selamat jalan, adikku. Semua berasal dari NYA, kembali
lagi kepadaNYA. Dan saat ini memang giliranmu. Esok hari suatu saat nanti
kamipun mengalami hal yang sama. Cium sayang dari kakakmu, LINDA

http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/11/surat-untukmu-adjie-massaid/

One thought on “Testimoni menarik tentang Adjie Massaid yang ditulis oleh Linda Djalil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s