Jurnalis TV Ibarat Video Shooting

        Datang liput, ambil gambar lalu pulang, tulis naskah, edit, langsung produksi. Situasi inilah yang sering dihadapi sebuah media televisi lokal dalam memproduksi sebuah berita. Situasi ini serupa tapi tak sama dengan produksi video shooting.  Tanpa melihat kaidah dan kriteria yang jelas, hasil shootingnya diproduksi dan ditayangkan. Hanya saja  televisi lebih kredibilitas, karena dapat ditayangkan ke masyarakat luas dan mempunyai unsur jurnalisitik. Kemasan sama tapi, bajunya beda..iya toh..

        Lihat saja sebuah video shooting, banyak yang melakukan kesalahan dalam pengambilan gambar, tapi…mau tidak tetap harus di edit dan diproduksi. Sama dengan televisi, ya….karena petugas shootingnya mengambil gambar banyak, tapi kualitas gambar yang bagus sedikit, mau tidak mau…ya tetap tayang.

        Kesamaan ini memang sering terjadi, meski serupa tapi tak sama. Si jurnalis dalam melakukan peliputan mempunyai sebuah kepentingan jurnalistik dan profesionalisme. Kalau video shooting hanya berdasarkan orderan yang masuk ke produksi mereka. Namun sering sekali si jurnalis bisa berubah menjadi “video shooting” jika ada klien yang ingin diliput oleh si jurnalis, tentunya si klien akan membayar mahal ke instansi si jurnalis bekerja. Sayanya tetap seperti “video shooting” pengambilan gambarnya ngawur…tanpa menggunakan tripod, gambar itu akan jadi. Pasalnya mereka tidak pernah mendapatkan pelatihan selama bekerja di instansi mereka bekerja.

        Kurangnya pelatihan ini memang selalu “disadari” perusahaan itu bekerja. Karena minimnya pendanaan untuk mendatangkan si pelatih, maka timbul rasa enggan untuk melatih si jurnalis. Atau si perusahaan merasa “ogah-ogahan” untuk memberikan pelatihan, yang penting si jurnalis mampu dan mau untuk membuat sebuah berita.

         Kuranya kualitas visual gambar, membuat kredibilitas tersebut menjadi hilang. Perisitiwa yang semestinya penting untuk diinformasikan ke penonton, ternyata tidak mampu menggaet pemirsa. Hasilnya? Tidak ada yang menonton.

        Bayangkan jika liputan tersebut merupakan liputan “request” dari klien, bisa-bisa mereka tidak akan mempercayakan lagi ke media tersebut, dan beralih ke video shooting.

        Jika diberi perbedaan secara umum, bedanya jurnalis tv dengan video shooting: hanya terletak pada image institusinya dan angle sebuah shootingan. Selebihnya dari segi teknik sama..ambil gambar asal-asalan, yang penting shooting. Hal inilah yang membuat image dan kualitas televisi lokal  masih sangat rendah. Ibarat semua orang bisa menulis, tapi jangan samakan menulis biasa dengan menulis segi jurnalistik. Jangan samakan mengambil gambar dan menulis berita, ibarat anda beke

rja di sebuah video shooting, tapi tempatkan diri anda pada institusi lembaga jurnalistik. Karena hasil liputan anda, akan ditonton masyarakat dan menjadi sebuah kredibilitas tempat anda bekerja.   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s