kenangan cerita yang tak pernah kulupakan

 Diantara tugas dan Teman-teman yang Hilang…

             

26 meil 2006…

 

“sungguh tidak disangka, pertemuan kita yang hanya selama lima jam, dari yang tidak bermakna menjadi bermakna,membuat hati ini menggugau, ntah kenapa jadinya, peristiwa itu terjadi pada pukul 06.00, harapan dan keinginan teman saya hilang dalam sekejap akibat suara bumi yang bergetar… ,mereka yang saya temui selang lima jam hilang untuk selamanya” 

 

Awalnya…

Waktu itu masih pukul 10 malam, saya dan keempat teman saya, sedang asik berkumpul di tempatku. Ya, kami jarang sekali berkumpul semenjak kita sudah mempunyai kesibukan masing-masing. Bayu, masih kuliah, Charles, juga masih kuliah. Harry, kini belum bekerja dia sedang asik mencari-cari pekerjaan, ketiganya tinggal di kabupaten bantul, yang berada di pusat gempa.  sementara saya sudah bekerja di salah satu stasiun televisi lokal namun tinggal di kabupaten sleman. Ya… jarak yang cukup jauh.

 

Selama empat bulan, kami jarang bertemu, asik dengan kegitannya sendiri. Yang satu sedang asik membolak-balik koran, yang lainnya asik di depan kamera, yang lainnya asik sedang bermain gamenet.

 

Dibelakang kesibukan itulah, kita kangen untuk berkumpul bersama. Awalnya untuk pengen berkumpul itu adalah saya, karena pengen ngobrol apa aja..sambil membicarakan kisah-kisah hidup kita bersama, yang selama ini sering  lupakan.

 

Pada pukul sepuluh malam. kia janjian untuk bertemu dengan teman-teman, di kontrakan saya, karena jam tersebut merupakan jam asik untuk ngumpul-ngumpul. Karena saya yang ngajak dan saya yang ingin ketemu. Lagian mereka jarang sekali ke tempat saya, semenjak kita berpisah, meski masih dalam satu propinsi. Bahkan jarang sekali kita ngumpul secara komplit. Biasanya kita ngumpul palingan cuma tiga orang saja. 

 

Kita banyak membicarakan hal –hal yang kita inginkan di masa akan datang, baik  bayu dan charles yang ingin cepat selesai dalam perkuliahannya. Harry yang ingin cepat dapat pekerjaan dan aku yang ingin pindah ke jakarta, karena kerja di sini kurang menantang bagi saya. Semua unge-uneg kita keluarkan, semua ambisi yang ingin kita capai dibicarakan.

 

Sungguh mengasikan, mengobrol sambll, menyantap kacang garing yang saya beli dari warung dekat kontrakan saya, sambil minum minuman hangat untuk menyegarkan tubuh. Sambil bernyanyi. Tidak ada yang istimewa memang, hanya saja obrolan yang mengasikan bagi teman-teman saya.

 

27 meil 2006

“hari itu, tanggal yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku. Tanggal yang paling kubenci dan yang paling menyedihkan, bagi diriku dan mungkin bagi semua orang yang merasakan, tanggal yang mengajak orang untuk insaf dari kesalahannya”

 

pagi itu, tiba-tba pada pukul 6 pagi, sebuah suara yang tidak asing lagi bagi diri saya. Suara tersebut semakin lama semakin membesar di telinga saya, di saat mimpi masih menggeruti pikiran aku akan getaran tersebut. Dan tidak terasa, saya terguncang..semua dinding kamar saya bergetar tiada henti…Di situlah saya terbangun dari mimpi saya, dan dalam keadaan setengah sadar, saya merasa bahwa itu adalah gempa. Ya..gempa yang paling besar, yang pernah saya rasakan selama ini di Yogykakarta.

 

Tanpa pikir panjang sayapun beranjak dari tempat tidur saya, segera kaki saya melangkah ke ruang tamu dan hendak keluar. Saat itu saya di rumah bersama kakak dan saudara saya. Bahkan kedua-duanya sedang terkena asam urat, membuat mereka susah untuk bergerak.

 

Saat  suara itu semakin keras, kamipun keluar dari rumah, satu sama lainnya saling berebut engsel pintu yang sulit dibuka, mungkin akibat getaran gempa yang membuat gaya gravitas menjadi kebingungan. Namun dengan menenangkan pikiran, akhirnya saya berhasil membuka engsel pintu sialan itu, dan kamipun berhasil keluar dari rumah. Masih di luar rumah, kami masih merasakan getaran gempa yang dahsyat, sambil menunggu, kapan rumah tersebut akan ambruk. Bayangkan kakak dan saudara saya,yang biasanya sulit menggerakan kakinya, tiba-tiba saja mampu mengerakan kakinya untuk melangkah cepat ke luar rumah.

 

Getaran gempa itu terasa sekali hingga mencapai sekitar 1 menitan dech.. sayang kita tidak mengukur waktunya. Getaran gempa itu sangat dahsyat, dan kita tidak sadar bahwa gempa itu terasa di jateng-diy, saya kirain hanya disekitar tempat saya saja.  Setelah gempa reda, kami masih belum berani untuk masuk ke dalam rumah, karena masih trauma.  Namun saya berfikir mungkin itu hanyalah gempa biasa, yang berasal dari gunung merapi, karena belakangan ini, gunung merapi menjadi “trend” dengan kesombongan dan kegagahannya.

                    

Di saat itu, saya bersama kakak dan sudara saya, masih berkumpul di luar bersama teman-teman kost sebelah kontrakan saya, sambil menceritakan peristiwa gempa yang baru mengguncang DIY. Mereka khawatir kalau-kalau gempa susulan datang. Wargapun ramai di luar, karena takut masuk ke dalam rumah. Mereka masih saja di luar, ada yang memaka sarung saja, bahkan piyama yang tembus pandang…

 

Sejenak saya merenung, apa yang terjadi, perasaan saya bingung…takut…khawatir..

semua mengumpul di benak saya, sambil saya bercerita apa yang terjadi di luar sana. Kabar dengan kabar, teman saya dari Jakarta menelepon, bahwa di Yogyakarta diguncang gempa yang sangat besar. “Tau dari mana”….teman saya menjawab”dari metro tv.. besar banget lho, gedung amongrogo ambruk tidak karuan ” “apa? Gedung amongrogo..ndak salah..” di yogyakarta kami tidak bisa mendapatkan informasi sedikitpun karena, listrik mati dan jaringan televisi rusak. Akibat mendengar kabar tersebut, sayapun menyalakan radio dari walkman saya, dan di situlah saya tau bahwa, gempa tersebut berasal dari pantai selatan kabupaten bantul, berkekuatan 5,9 skala richer, setelah itu saya memutar ke channel radio lainnya, di situ saya mendengar kabar, bahwa seluruh rumah sakit dipenuhi oleh korban-korban gempa, yang berasal dari kabupaten bantul.

 

mendengar kabar tersebut saya mencoba untuk menghubungi teman satu profesi saya, namun semua jaringan tidak bisa masuk, semuanya gagal tidak bisa dihubungi satupun. Nah mendengar dari situ, saya langsung mencoba sms teman saya yang di bantul. Saya mencoba berulang kali sms mereka, namun satupun tidak ada yang menjawab. Curiga dan was-was semakin terasa di dalam diri saya.  

           

“Bayu, Charles,Deny, ..bagaimana kabar kalian kenapa tidak ada kabar sama sekali dari kalian, mohon beri kabar dong..”

 

            lebih lanjut saya mencoba menelepon teman sekantor saya Luh eka yang tidak jauh dari kontrakan saya , untuk menanya kondisi gempa

.

luh..kamu terasa gempa ndak? Apa ada telpon dari BPPTK? Tentang gempa atau BMG sendiri? Karena saya mau tau kabar lokasi gempa…”

 

ndak ada har, yang ada Cuma kepala BBPTK, coba aja hubungi di nomor 081xxxxxxxxxx, mana tau bisa, tempat tinggalmu bagaimana?”

 

“tempat tinggalku tidak apa-apa bagaimana dengan teman-teman ya”

 

“aku juga belum bisa mencoba menghubungi teman-teman se kantor”

 

setelah itu saya menyiapkan semua barang-barang saya untuk liputan (tas yang berisi handycam, bateraiku, catatan dan segala isinya), hal yang saya pikirkan adalah ketiga teman saya tadi malam. Ndak mungkin, tidak ada kabar sama sekali dari mereka..tidak mungkin.

 

Saya pun bergegas untuk berangkat dari kontrakan saya untuk menuju ke amongrogo. Ingin tau.. seberapa para sebenarnya kerusakan bangunan tersebut. Namun hati dan pikiran saya masih tetap saja tertuju kepada ketiga teman saya, yang tidak ada kabar sama sekali. Apa mereka sibuk gara-gara gempa ini, apa sinyal hp mereka rusak? Ah.. ndak taulah, pikiranku masih resah saja.

 

Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri untuk mendengar kembali siarang radio di yogyakarta, nah laporan terakhir ini sangat mengejutkan hati saya, ribuan rumah di kabupaten bantul ambruk…ratusan mayat tertimbun di dalam bangunan, di jalanan. Hingga kini mereka belum dapat teridentifikasi. Bangunan mall, ruko ambruk.

 

“aduh jangan..jangan” hati saya masih terus tergugah. Untuk menghilangkan perasaan itu, saya pergi untuk melakukan liputan ke beberapa lokasi di kota, melihat situasi bangunan yang ambruk. Dengan mengendarai sepeda motor, saya memperhatikan berbagai bangunan ambruk akibat gempa sialan itu.

 

Perisitiwa kedua adalah, menghadapi isu tsunami. Sayapun melewati jalan gejayan, yang merupakan jalur yang setiap hari saya lalui untuk menuju ke kantor. Ketika saya melihati jalan gejayan, saya melihat ada beberapa keganjilan, satu dua motor sedang melaju cepat dari arah yang berlawanan.

 

Ada apa ya?

 

Dengan sekejap, puluhan sepeda motor, melaju kencang dari arah berlawanan, mereka seperti dikejar setan, kesurupan (semua dech..) sambil menyalakan lampu dan klakson yang memekana telinga. Rasanya adrenalin kekhawatiran semakin terasa, kecurigaan muncul di mata saya. Sepertinya puluhan sepeda motor ini, tidak bertuan, saling ngebut.

 

Ketika itu saya menghampiri salah satu pengendara yang juga ikut lari dengan wajah ketakutan“ada apa mas..kenapa pada berlarian?

 

Dengan tergesa gesa pengendara itu “tsunami mas, air naik, cepet lari selamatin diri”

 

Akhirnya saya pun balik arah untuk menuju ke tempat tinggal saya, untuk memberitahukan teman-teman saya, bahwa terjadi tsunami, tapi ntah dimana. Masa bodoh lah.. yang penting saya menyelamatkan diri  dan balik ke rumah.

 

Di tengah jalan, orang-orang pada ketakutan, sebagian warga melarikan diri menuju ke datara rendah, berarti ke sleman. Warga pada berlarian..menumpang kendaraan-kendaraan yang melintas jalan tersebut. Semua panik, tampa berpikir panjang, apa tsunami itu benar atau tidak, warga hanya berfikir mereka harus menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. Banyak warga minta tumpangan dari pengedara lain, termasuk saya, memberikan tumpangan kepada salah satu anak SMA yang sudah menangis histeris minta pertolongan.

 

Suasa jalanpun padat, tangisan dari warga dan anak-anak tampak tampak terlihat di raut wajah mereka. Persitiwa ini seperti mengingatkan saya pada peristiwa tsunami yang terjadi tahun Desember 2004 lalu. Di tengah jalan saya, berfikir jika benar demikian, berarti bantul sudah tidak ada lagi, semua teman-teman saya..hilang, mereka sudah tiada.

 

sesampainya di rumah saya sudah menemui kakan dan teman2 saya telah menyiapkan segala keperluan untuk menuju ke siap-siap melarikan diri. Rumah sudah dikunci, dengan berbekalkan pakaian seadanya saja, mereka siap untuk berangkat.

 

Semua warga menuju ke atas? Tapi, Bukannya merapi sedang aktif-aktifnya, wah semua menjadi panik dan kebingunan. namun saya sadar, bahwa itu hanyalah isu, jarak dari pantai selatan ke kota cukup jauh, dan tsunami tidak mungkin datang dengan sesingkat itu.

 

Dengan handycamku yang tinggal hanya beberapa menit, saya langsung membidik semua peristiwa isu tsunami, kemacetan, tangis warga, kecelakaan yang terjadi dimana-mana. Ada warga yang kehilangan anaknya, ada yang mengalami kecelakaan gara-gara panik. Antrian panjang sekitar 2 kilometer. Sangking paniknya, pengendara mobil rela meninggalkan kendaraanya di tengah jalan, karena panik adanya isu tsunami.

 

….next

 

Beruntun SMS datang dari mana-mana untuk menyakan kondisi di Yogyakarta. Termasuk sesama profesi yang belum mengetahui sumber gempa tersebut.

 

“har..bagaimana di daerah turi sendiri, idi ada yang di atas khan kru kita, apa yang sebenarnya terjadi , kata tetanggaku lahar merapi njebol lewat tengah gunung, bukann dari puncak, apa benar”

 

kemudian isi sms berlanjut:

 

“kata saudaraku, justru gempa di pantai selatan, kondisi di daerah pantai dan sekitarnya rusak berat, dan menurut sumber, akan ada gempa susulan jam 8 pagi”

 

“ada sms dari warga-akibat gempa, kondisi di desa kokosan prmabanan rusak berat. Ada satu korban dibawa ke ruah sakit, dusun Gading Turi, dan bantul dekat pantai”

 

ada pesan singkat dari teman aku di bantul, Novi “har, daerah bantul banjut”

 

 

 

………

Balasan SMS, telpon belum juga terdengar dari ketiga teman saya, mudah-mudahan mereka tidak apa-apa, dan selamat dari musibah tersebut.

……..

seelesai mengambil gambar, saya langsung menuju kantor. Suasana jalanan masih terasa ramai, dan kondisi menakutkan karena warga takut untuk masuk ke dalam rumah. Di saat perjalanan saya melihat bangunan rumah dan ruko ambruk total, perisitiwa ini masih di sleman dan kota, bagaimana dengan bantul.

 

Selama perjalanan, saya tidak bisa berpikir panjang, pikiran saya kemana-mana. Bagaimana dengan kondisi warga, bagaimana dengan bangunan, bagaimana pula dengan nasib kami, jika kantor kita juga ikut ambruk… terlalu mumet kepala ini memikirkan akan segalanya. 

 

Saya mencoba kembali mengirim kepada tiga teman saya, sewaktu di perjalanan. Saya pun langsung menuju ke kantor untuk melihat bagaimana kondisi di sana, saya yakin kondisinya seperti yang tidak kami bayangkan.  

 

“saya tidak tau, harus bagaimana untuk mencari kalian bertiga lagi, saya janji akan menemui kalian bertiga, Mudah-mudahan kalian bertiga tidak apa-apa. Kalaupun kita tidak bertemu lagi, kalian merupakan sahabat terbaikku, dalam waktu lima jam terakhir..karena harapan kita untuk berkumpul semua, terwujud sudah, thanks my friends”

 

beberapa menit kemudian, saya sampai di kantor. Sesampainya di sana, tatapan mata saya tidak bisa terlepas dari gedung yang masih setengah garap ini. Apa yang saya pikirkan ternyata benar. Gedung yang kokoh itu, tampak cacat dengan retakan-retakan yang cukup besar. Alangkah malang benar nasibmu, bangunan yang masih dalam tahap garapan, rusak seketika ketika gempa mengguncang dengan skala yang besar.

 

Ketika itu, saya berangkat dengan kameraman saya. Dengan mengandalkan kamera dan sebuah notes, pena, kita mengambil perisitiwa tersebut. Ya bersama dia, kami melihat dengan seksama seluruh perisitiwa gedung itu. Tigapuluh warga yang dominan oleh mahasiswa, mati seketika ketika bangunan lantai satu, menimpa lantai dasar. Selama 4 jam, mereka tidak terselamatkan,  rasa takut masih menghantui masyarakat sekitar. Sementara jeritan kesakitan, minta tolong terdengar jelas di dalam gedung tersebut. Namun naas…suara tersebut hanya terdengar dalam setengah jam. Apa yang terjadi…mereka telah dipanggil oleh Tuhan, menghadap yang kuasa.

….

“forget that story” lupakan cerita detail itu….

 

saya bersama kameraman, trus menuju ke seluruh rumah sakit yang ada di yogyakarta. Setidaknya saya ingin melihat keempat teman saya, yang tidak terdengar hingga saat itu. Saya tidak tau..saya masih belum dapat menerima kenyataan ini, serasa saya berada dalam mimpi, ya…dalam mimpi. Sepertinya ini tidak mungkin. Sembari berjalan menuju rumah sakit, saya melihat, bangunan-bangunan yang tak bertuan lagi.

ketika itu sesampainya di Rumah sakit, “Ya Tuhan..jeritan itu terdengar di mana-mana” di dalam ruangan, di luar ruangan. Semua menjerit terasa kesakitan. Jerit tangis dan kepedihan terpancari dari pandangan mereka. Rasa haus dan lapar terasa sekali di dalam diri mereka. Tidak disangka pasien yang berjatuhan sangat besar. Benar ternyata ribuan orang “berjatuhan”akibat gempa itu.

 

Saya berjalan pelan, melihat mereka. Tak sadar air mata itu, keluar dari mata saya. Tatapan itu sangat dalam di dalam diri saya, ketika melihat banyak korban di rumah sakit tersebut, anak-anak yang tidak berdaya lagi dirangkul oleh orang tuanya. Setiap menit mayat terus berdatangan, setiap detik suara kesakitan terdengar olehku. Bahkan tempat pasien tidak mencukupi lagi, hingga ada yang tergeletak di pinggir-pinggir jalan.

 

Saya terus mengitari lingkungan rumah sakit itu, sambil kameraman saya mengambil gambar. Memang sangat pahit, kita berdua sejujurnya tidak kuat untuk melihat situasi ini, di saat mereka berada dalam gambar itu. Tapi…tugas ya tugas… kita tetap untuk mengambil gambar itu. Saya tidak tau mau ngapain di rumah sakit itu, bingung.

 

Ketika itu saya menghampiri salah satu ruangan, yang dipenuhi warga. Ntah mau ngapain, semua pandangan tertuju kepada seluruh nama-nama yang terpampang di dinding.

 

Ternyata nama-nama itu adalah, mereka yang telah meninggal, yang belum teridentifikasi. Ada yang terpampang hanyalah  wajah mereka yang belum teridentifikasi oleh pihak keluarga.

 

Tanpa sengaja saya melihat gambar itu, dan ternyata….

 

Salah satu dari puluhan wajah yang terpampang, adalah teman akrab saya, ya orang yang saya temui selang 5 jam, bercerita akan masa depan, bercerita akan seluruh permasalahan hidup. Mungkin itulah permasalahan hidup yang mungkin terkesan bagi dirinya, sebelum  Bayu dipanggil oleh Tuhan.

 

Ketika melihat wajah itu, yang penuh dengan luka-luka akibat tertimbun bangunan, sepertinya itu bukan dia…itu bukan orang yang aku kenal. Tapi..tapi…itu memang Bayu. “Ya Tuhan…”mengapa…mengapa orang terdekat aku kamu Ambil” Apakah seluruh cerita hidup itu, berakhir seperti itu saja, apa selama ini akhir hidup ini cukup engkau berikan sampai di situ saja, tidak adakah yang lebih engkau berikan kepada dia?

 

sekejap saya langsung menangis, melihat perisitiwa itu. Saya tidak sanggup untuk memandangnya. Ketika itu saya langsung meletakana mic di lantai, saya berdoa sejenak untuk dirinya.

 

Ketika itu, saya langsung mencari kamar jenazah bersama teman saya, saya berjalan dengan tergesa-gesa dengan rasa yang masih belum percaya akan peristiwa ini.  Sesampainya di kamar itu, puluhan mayat terbaring di kamar itu. Satu persatu saya melihat inisial dari nama itu. Ya…saya menemukan jenazahnya, saya lihat…saya lihat…dia sudah tidak bernafas lagi. Dia meninggal penuh dengan senyum, penuh dengan sukacita. Mungkin sukacita yang dia terima adalah, apa yang telah dia ceritakan kepada kami. Cerita yang tidak akan saya ceritakan dalam perisitiwa hidup ini, sesuatu yang istimewa bagi kami.

 

Bayu meninggal, selang beberapa menit ketika saya baru sampai. Itu dikatakan warga yang melihatnya, ketika itu bayu merasakan kesakitan yang sangat pedih akibat luka yang dia rasakan. Sangat parah memang, luka yang dia derita saat itu. Dia meninggal seperti meninggalkan pesan kepada kami  bawa

 

“sobat..saya lebih baik pergi, daripada kalian akan melihat diri saya sekarang ini, saya tidak ingin kalian bersedih terus, dan saya tidak ingin menanggung rasa yang sangat sakit ini, biarlah saya pergi dengan rasa tersenyum bagi kalian semua, agar kalian juga tetap tersenyum, bahwa kalian adalah teman terbaik yang saya kenang selama akhir hidupku, terima kasih sobat, terima kasih atas cerita kita semua ini”

 

Tidak ada yang menjaga dia, karena keluarganya juga tertimpa musibah. Ibu dan Ayahnya juga dirawat di rumah sakit itu. Terasa sakit sangat terasa pada peristiwa itu. Ketika itu saya keluar sejenak, untuk mencari udara, dan menghilangkan segala perasaan sedih itu.

 

Namun  apa yang tejadi, lagi-lagi sesosok tubuh mayat hadir dihadapan saya. Ya, mayat tersebut juga tidak asing lagi bagi saya. Mayat itu baru saja diantarkan oleh salah satu tetangga korban, dan ternyata mayat itu adalah charles. Jenazah baru saja sampai diantar ke rumah sakit itu. Deru tangis mendalam terasa di dalam hati saya. Perasaan itu selalu terbawa hingga sampai kapanpun.

 

Ya Tuhan, apa yang terjadi..dua-duanya berada di tempat ini. Mengapa di saat pertemuan kali ini, mereka telah tiada dan membisu. Hanyalah sesosok tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi yang tampak dalam diri aku.

 

Sesaat itu, saya langsung menemui salah satu tetangga korban.

“Mas apa yang terjadi, mengapa teman saya bisa jadi korban..”

 

“wah ndak tau mas, gempa itu terjadi tiba-tiba saja, kita tidak bisa melihat jelas peristiwa itu. Kami taunya, hanya dari jeritan korban yang sempat minta tolong..”

 

‘Trus habis itu bagaimana….”

 

“dia sempat minta tolong dengan memanggil nama… tapi ndak tau teman yang mana, apakah korban atau siapa..apa mungkin”

 

“ benar mas, saya yang dipanggil, beserta teman-teman saya…tapi teman saya yang satunya telah meninggal dunia yang juga jadi korban..tapi saya belum menemui teman saya yang satunya…”

 

kemudian, charles dibawa ke kamar mayat, namun..seluruh ruangan telah penuh. Akhirnya, almarhum dibawa kembali oleh tetangganya ke tempat tinggalnya di Bantul

 

tapi….sesuatu yang tidak enak terdengar di telinga saya, begitu menyakitkan:

 

“Wes..mule wae…orangnya wes mati..bawa pulang aja..”

 

Rasa sedih semakin muncul di benak diri ini, lalu saya meminta alamat jelas mereka..almarhum akan dikuburkan dimana. Setelah itu almarhum langsung dibawa balik oleh tetangga mereka.

 

Tapi aku ingin mengantarkan almarhum, aku ingin menemani mereka, sampai ke tempat tidur mereka. Perisitiwa itu terus membayangi pikiran dan hati saya.

…..

setelah itu saya bersama kameraman saya, menuju ke bantul untuk mengetahui kondisi harry. Dengan membawa kamera dan mengendarai sepeda motor, kami melaju denga pelan-pelan sambil mengamati situasi dan kondisi lingkungan sekitar kota. Ya…kita berdua tidak banyak berbicara banyak, kita hanya memperhatikan lingkungan sekitar. Sesekali kita turun dari kendaraan untuk melihat, apakah ada yang perlu dibantu untuk mengevakuasi korban.

 

Sesampainya di bantul saya sampai di lingkungan rumah Harry, tapi saya ndak tau lagi, rumahnya yang mana? Karena semua rumah di tempat itu, hancur rata. Apa yang tersisi, saya rasa tidak ada lagi.

 

Aku hanya terbengong melihat kondisi seperti itu, tanpa ada yang tersisa. Hanya beberapa detik, seluruh pemukiman di tempat itu hancur semua, nyawapun menghilang.

 

Sesaat saya sampai di tempat itu, hanya jeritan tangis saja yang terdengar, dan ratapan mata masyarakat yang begitu mendalam di lingkungan ini. Sesaat kemudian gempa susulan masih terasa di sekitar lingkungan tersebut. Sayapun langsung  mencari informasi keberadaan harry. Dengan mengubrak-abrik seisi reruntuhan bangunan rumah mereka, saya langsung ditemui warga di tempat itu.

 

 

            “mas…mas…mencari siapa…”

           

lalu saya berpaling ke bapak itu sembari berkata,

 

“saya mencari teman saya pak, harry yang tinggal di tempat ini, bapak tau harry dimana”

    

“mas harry? Bagaimana ya mas… saya hanya tau bahwa harry dilarikan ke RSUD bantul, dengar-dengar dia luka parah tertimpa reruntuhan”

    

     “bapak sempat melihat dia?

 

“saya tidak sempat, tapi say a taunya dari warga setempat, tentang warga yang tertimpa reruntuhan”

 

tanpa berpikir panjang, akupun berangkat ke RSUD bantul, ntahpun benar ato tidak, tapi hanya itulah petunjuk yang saya peroleh.

 

sesaat kemudian…….

 

jeritan tangis juga terdengar dari rumah sakit ini..banyaknya korban membuat rumah sakit ini tidak mampu menampung seluruh korban gempa. Akupun langsung mencari-cari harry di segala penjuru rumah sakit ini.

 

Memang untuk mencari sangat sulit, dikarenakan banyaknya korban, dan banyaknya mayat yang sudah terbungkus oleh kain serban, ato jangan-jangan…… ah aku tidak mau berpikir seperti itu, karena saya telah kehilangan kedua teman saya, aku tidak mau ada korban lagi…

 

Namun kehendak Tuhan beda, saya menjumpai harry sudah tergeletak di lantai sudut rumah sakit, tidak bernyawa lagi. Almarhum yang ditemani kedua orang tuanya, kondisinya sangat memprihatinkan. Seluruh tubuhnya terkena reruntuhan bangunan. Almarhum tertimbun bangunan selama satu jam, mengakibatkan tidak dapat bernafas.

 

Semuanya hilang dalam sekejap, namun kenapa ketika kehilangan mereka, semuanya terencana. Dalam satu hari saya menemukan mereka dengan tanda-tanda. Apakah ini sebuah pesan bahwa mereka akan pamit, pergi jauh selama-lamanya. Kelak kami akan bertemu di masa akan datang, tapi bukan di sini namun di dunia yang penuh dengan suka cita, dunia yang tidak pernah ada gempa. Melainkan dunia yang penuh dengan tanah surga. Selamat jalan teman-temanku, semoga persahabatan kita selama ini tidak akan terlupakan sepanjang masa.

 

 

***

 

2 thoughts on “kenangan cerita yang tak pernah kulupakan

  1. I still remember your face when you wanna meet me at the boarding house, very sad and talked through the event and about your frined who replaced your duty, life is fragile i am glad we meet again my friend and keep up your good work🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s