MEDIA SUMBER INFORMASI TERORIS

               Belakangan ini sejumlah teroris telah tertangkap oleh satuan anti tetoris densus 88 Mabes Polri, bahkan sejumlah titik terang tempat persembunyian kalangan teroris di Indonesia seperti, Yogyakarta, Surakarta dan Surabaya mulai terungkap oleh densus 88. berbagai informasi penangkapan teroris terungkap di seluruh media, baik televisi, radio dan media cetak. Bahkan semakin berkembangkannya penangkapan jaringan teroris ini, media terus secara gencar-gencarnya memberitakan penangkapan jaringan teroris. Informasi ini tentunya informasi yang sangat penting untuk diketahui oleh masyarakat, bahwa jaringan teroris di Indonesia masih ditemukan.

              Informasi pencarian jaringan teroris lainnya di Indonesia ini, terus dilakukan dengan melihat berbagai sisi, mulai dari modus penangkapan, letak lokasi jaringan, para pelaku berkutnya, bahkan segala gerak-gerik tindakan dari para tersangka teroris. Hal hasil keberadaan titik terang para tersangka teroris tersebutpun, diketahui banyak masyarakat.

              Semakin berkembangnya dan terbukanya informasi yang disampaikan oleh kalangan media kita anggap sebuah sisi positif sebuah pemberitaan, agar masyarakat mengetahui siapa para tersangka teroris berikutnya. Namun tidak kita sadari bahwa dibalik sisi positinya tersebut ada sumber informasi yang mungkin sangat menguntungkan para teroris ini. Media rasanya tidak dapat menghindar dan tidak bisa disalahkan, namun media juga mesti waspada akan pemberitaannya. Mengapa tidak? Semakin  berkembangnya informasi yang disampaikan oleh media tentang perkembangan para tersangka teroris dengan berbagai sisi tadi, ternyata secara tidak langsung telah menguntungkan sebagai informasi para teroris yang belum tertangkap.

Berbagai sumber informasi yang disampaikan sebuah media mampu memberikan informasi bagi para teroris, alasannya:

1.            Pers sebagai sumber informasi para jaringan teroris untuk mengetahui, keberadaan mereka telah dilacak oleh kepolisian.

2.            Pers telah membantu para teroris untuk mengetahui gerak-gerik dan strategi dari kepolisian, termasuk perkembangan investigasi.

3.             Pers sebagai bahan pertimbangan jaringan teroris untuk menyusun strategi dikemudian hari.

4.            Pers sebagai bahan pelajaran dari para teroris, agar mereka tidak terkecoh lagi dan lebih berhati-hati dalam melakukan tindakan.

                 Jika melihat dari opsi tersebut, kita memang tidak bisa menyalahkan media begitu saja, karena tugas media adalah memberikan informasi terpenting kepada masyarakat, dan tidak ada niat untuk menuju hal tersebut. Media hanya diminta untuk selektif dalam menyampaikan informasi mana yang sifatnya rahasia, mana yang sifatnya boleh untuk diberitakan.

                Berbagai informasi tentang teroris terus diberitakan. Sebagai sumber informasi dan pembentuk pendapat umum, media tentunya dapat berfungsi sebagai katalisator untuk menunjang kinerja dari para teroris untuk menyusun rencana lain dari modus yang telah diketahui oleh kepolisian.

                Dengan kebebasan informasi yang ditegakan pers kali ini semakin mengkhawatirkan dengan penyebaran informasi tentang teroris, jika seorang gatekeeper tidak mampu menjembatinya, dimana ingin mengungkap kebenaran tanpa batas, maka pihak kepolisian semakin kewalahan dalam melakukan penyelidikan.  

                Setiap pemberitaan terkait tentang pencarian para tersangka teroris, media sering sekali memberitakan hal-hal yang mestinya dirahasiakan, meski informasi tersebut sangat kecil terutama masalah tempat dan perkembangan ciri-ciri mereka. Meski media ingin menyampaikan agar masyarakat waspada dan mengenal para teroris tersebut, namun informasi tersebut sangat menguntungkan para teroris karena mereka akan segera berpindah lokasi atau merubah wajah palsu mereka. Karena itulah banyak masyarakat tidak mengenal wajah-wajah para  teroris meski foto mereka telah diedarkan. Setiap teroris yang tertangkap, masyarakat selalu telat untuk mengenal wajah para teroris. Bahkan abu dujana yang baru saja tertangkap dan zarkasih di dusun watugedeg desa donoharjo kecamatan ngaglik sleman, banyak masyarakat yang tidak mengenal mereka.  

                Ada dua alasan masyarakat tidak mengetahui informasi teroris tersebut pertama,  berkembangnya sifat individualisme di pedesaaan, sehingga kurangnya rasa keingintahuan masyarakat kepada tetangganya tentang aktivitasnya, asal daerah, alasan mereka pindah. Rasa ketidakingintahuan dari RT setempat serta sosialisasi informasi foto-foto para tersangka sangat kurang sangat mempengaruhi kurangnya informasi tersebut.  

                Kedua, informasi yang terlalu terbuka dan bebas disampaikan oleh media, sehingga informasi yang bersifat rahasia akan menjadi sumber informasi dari para teroris untuk merubah strategi mereka ke depan. Mereka akan lebih berhati-hati untuk berhadapan dengan masyarakat baik dari tingkahlaku dan kehidupan sehari-hari, karena mereka telah terlatih untuk beradaptasi dengan masyarakat.

                Meski hingga kini belum ada dampak secara langsung informasi yang telah disampaikan oleh media, namun informasi tersebut telah menjadi bahan referensi bagi para teroris. Ditangkapnya Abu duzana dan rekan-rekannya, akan membuat Noordin M.Top semakin berhati-hati  dalam melaksanakan strateginya. Begitu juga dengan letak lokasi persembunyian para teroris yang dipublikasikan secara lengkap.

                Kita tidak bisa menyalahkan media begitu saja, karena media juga ingin memberikan informasi kepada masyarakat agar ikut serta menjaga kewaspadaan, dan semakin aktif dalam menjaga daerah mereka ketika ada warga baru di lingkungannya. Jika tidak ada informasi maka masyarakat tidak akan mengetahui informasi para teroris tersebut meski selama ini informasi tersebut masih belum “dicerna” masyarakat dengan baik.

                Media juga harus menyadari berbagai isu tentang terorisme terus dilanda di Indonesia ini. Namun apabila media tidak memperhatikan segi batasan dalam pemberitaan terorisme, rencana-rencana pemerintah dalam melakukan penyergapan, media justru memicu berbagai kebocoran informasi dan semakin memperparah kinerja kepolisian. Kewajiban moral untuk mendinginkan suasan tanpa meninggalkan kebenaran, dengan demikian, merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar dan ditunda.

                Ada hubungan yang rumit antara teroris dan media. Kedua-duanya saling membutuhkan, tidak saling mengkooptasi secara langsung. Namun memang pada akhirnya praktik jurnalistik media, justru melahirkan pemberitaan yang dominan pada kepentingan teroris. Tanpa disadari oleh wartawan, orientasi pemberitaan mereka sebetulnya telah menjadi bahan pertimbangan dari teroris untuk bergerak.

                Demi sebuah kepentingan, pemberitaan tersebut memberikan informasi yang sekiranya baik bagi teroris, sehingga kepentingan sumber berita ini sering kali tidak disadari oleh media. Pengelola media tidak sadar, lewat teknik yang canggih, sebetulnya orientasi pemberitaan telah diarahkan untuk menguntungkan si teroris.    

 

                 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s