MULUTMU,HARIMAUMU

Mulutmu, harimamu memang merupakan kata-kata yang akrab ditelinga kita, apalagi kata-kata tersebut diangkat dalam sebuah iklan salah satu jaringan selular. Sepertinya kata-kata tersebut semakin tenar di kalangan masyarakat dan selalu diabadikan. Kata-kata ini selalu muncul jika ada sebuah omongan yang menyinggung perasaan orang lain, atau mengganggu lingkungan sekitar.

            Berkembangnya kalimat ini sepertinya cocok untuk dipetakan saat ini, apalagi di saat situasi kehidupan yang sering berselisih, bertikai antar masyarakat sendiri. Tidak ada asap kalau tidak ada api, tidak ada pertikaian, ketidaksopanan kalau tidak ada kata kata-kata tersebut. Fenomana seperti ini sepertinya sudah “maknyus” dipakai untuk memperingati situasi lingkungan masyarakat. Selama ini masyarakat bebas mengeluarkan pendapat, baik eksekutif maupun legislatif, yudikatif, pers, masyarakat. di saat masyarakat menderita, anggota DPR selalu berdebat dengan sesama anggota, sementara hasil perdebatan tersebut tidak menghasilkan buah segar, justru mendapatkan “buah simala kama” yang saling menjatuhkan lawan-lawannya.

            Perdebatan yang selalu dibahas oleh para eksekutif adalah persoalan yang tidak begitu penting dipandang dalam kehidupan masyarakat, sesuatu hal yang tidak begitu menyentuh dalam kehidupan sehari-hari. Justru hanya perdebatan kian hari tambah marak. Ucapan-ucapan elit politik yang mengatasnamakan rakyat, semakin membuat masyarakat sakit hati dan tersinggung. Pasalnya perkataan yang selalu mereka ucapkan, selalu tidak pernah dirasakan masyarakat. Istilah tersebut hanyalah sebuah kiasan untuk dapat menarik aspirasi masyarakat.

            Bayangkan permasalahan seperti hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Iraq atas perluasan industri nuklir saja, justru dibahas anggota MPR secara mati-matian, berdebat sana-sini. Apa yang dibahas, hanyalah sebuah sistem diplomatis, karena Presiden tidak mau datang dalam memberikan jawaban atas keputusan presiden terhadap industri Nuklir, sehingga muncul pertanyaan “penting ndak sih”. Perselisihan itupun tidak membuah hasil sama sekali, dari hari ke hari, minggu ke minggu permasalahan yang diangkat hanyalah ketidakinginan presiden.

            Di saat presiden memberikan jawaban atas resolusi PBB 1747, DPR justru berdiam diri membisu. Ketika presiden sebelumnya tidak mau bicara, DPR dengan gencarnya meminta Pesiden SBY untuk memberikan penjelasan. Tampkanya DPR hanya menunjukan sebuah gertakan harimau untuk menunjukan kepada masyarakat siapa mereka, seakan-akan menunjukan kepada masyarakat untuk membelah masyarakat miskin. Ternyata apa yang dibela, adalah kepentingan partai yang menaungi mereka bisa duduk di kursi DPR. Komitmen pada persatuan bangsa, pada orang kecil dan komitmen untuk merasa senasib sepenanggungan telah hilang dibenak hati wakil rakyat.                                                                            

            Bagaimana dengan kenaikan BBM, ketersediaan minyak tanah yang semakin dibatasi oleh Pertamina dan BP MIGAS. Keduanya  juga saling lempar tanggung jawab siapa yang salah dan benar. Mengapa anggota DPR tidak dapat mempermasalahkan ini secara berdebat. Bukankah permasalahan ini justru lebih menyentuh hati dan kepentingan masyarakat.   

            Era reformasi telah berjalan hampir satu dasawarsa. Tidak ada terasa sedikitpun buah dari reformasi tersebut, kecuali euphoria dan anarki masyarakat yang kian tidak ada formatnya dalam bentuk kekuasaan vulgar dan demo, serta unjuk rasa tanpa kesantunan. Hanya untuk kepentingan tertentu mereka para politisi/ wakil rakyat, mahasiswa rela menyuarakan “kepentingan masyarakat” sementara konsep yang mereka suarakan selama ini tidak jelas.

Masalah terbesar yang dihadapi masyarakat Indonesia sekarang adalah “pengkhianatan” yang dapat dilihat pada dua hal. Pertama, masyarakat Indonesia yang saat dikatakan telah sakti. Kedua, bangsa Indonesia dihinggapi masalah moralitas yang serius, yang terlihat pada berbagai kekerasan yang terjadi pada masyarakat. Akhlak manusia Indonesia sebenarnya tidak buruk, akan tetapi, benar jika dikatakan masyarakat sekarang keras. Masyarakat menjadi keras, karena tidak dapat berfikir panjang, sementara nilai-nilai luhurpun sudah tidak dapat lagi menyelamatkan mereka.

            Sandiwara-sandiwara yang digelar selama ini dalam pemilihan seorang presiden terus berlangsung. Di saat Gus Dur hingga Susilo Bambang Yudhoyono akan menjadi Presiden selalu ditopang masyarakat dan elit politik dan masyarakat. Kini ketika mereka menghadapi permasalahan, di saat kinerja mereka dianggap lemah, langsung diminta turun dari kursi kepresidenan. Ntah apa yang membuat masyarakat elit politik dengan sesuka hatinya merombak segala sesuatu tanpa ada keinginan masyarakat secara utuh.

Respons terhadap reformasi sekarang ini sudah sangat dingin, disebabkan beberapa faktor, antara lain: (1). Saat pertama kali reformasi digerakan, dengan cepat sekali slgoan reformasi diambil alih oleh partai politik. Setelah itu, bahasa reformasi menjadi bahasa partai atau bahasa elit, yang akhirnya semangat dari reformasi yang ternyata berbeda dengan semangat awal. Reformasi saat ini hanyalah sebuah reformasi semu karena tidak produktif. (2). Bangsa Indonesia tidak mempunyai basis kultural yang cukup untuk mengejawantahkan makna reformasi.

Mampukan Indonesia berkembang lebih maju lagi? Hanya masyarakat dan kalangan politisi yang mampu menjawabnya.

           

               

           

 

 

           

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s