Teknologi, pentingkah?

Jepang: Technology is Enough”

 

            Kalau mau belajar tentang teknologi, kita tentunya mengenal dengan negara Jepang. Negara  Jepang yang selalu terkenal dengan strategi geopolitik maupun ekonomi, yang sudah mendunia sejak dasawarsa 1970-an. Kehebatan negara Jepang baik dari pembangunan dan teknologi, terpancar dari banyaknya gedung pencakar langit, serta kemajuan tekonologi produk Jepang yang telah dipasarkan ke seluruh dunia. Segala produk mulai dari teknologi kecil hingga besar dapat disediakan oleh negara adidaya ini.

            Saya mempunyai seorang teman warga negara Jepang, asal Hiroshima yumiko nogami, yang kini kerja di salah satu lembaga sosial di Jepang. Bayangkan seorang warganegara Jepang menyebutkan, bahwa “technology is enough” tidak ada lagi namanya teknologi, tidak ada lagi kemajuan yang diharapkan mereka, Jangan ada lagi robot yang mempermudah segala aktivitas manusia, karena sebagai warganegara Jepang mereka sudah memiliki semuanya. Segala produk tersedia, mulai komputer, Global Positioning System dengan harga 1 milyar hampir dimiliki separuh warga negara Jepang. Ternyata tidak semua warga Jepang  mau bekerja di perusahaan GPS, karena mereka sudah jenuh akan teknologi tersebut. Untuk apalagi mereka membutuhkan teknologi yang lebih, karena mereka hidup di bumi bukan di planet lain.

            Ungkapan seperti ini terlontar langsung dari seorang warganegara Jepang, yang tentunya sudah “makan garam” menikmati kemajaun teknologi negaranya. Saya juga melakukan wawancara dengan salah seorang sosiolog dari Tokyo University Junko Sato, kemajuan teknologi Jepang sudah cukup pesat, tidak perlu lagi penemuan teknologi baru yang memang diperuntukan untuk kehidupan sehari-hari. Sebagai warganegara jepang tentunya mereka sudah dimanjakan dengan segala teknologi, dengan memencet satu tombol saja semuanya sudah dapat dikerjakan, tidak heran mereka selalu dimanjakan dengan kemajuan tersebut.  

            Perkembangan teknologi di Jepang hampir sama dengan separuh perkembangan penduduk Jepang, atau bisa disebutkan hampir sama dengan pertumbuhan penduduk  Indonesia, karena selangkah lebih maju dari pertumbuhan penduduk di Indonesia. Cerita pengalaman warganegara jepang tersebut menyimpulkan bahwa, ketika Jepang sudah memiliki lebih dari cukup kemajuan teknologi, Indonesia belum juga dapat berbuat apa-apa. Ketika muncul kata selesai, berarti teknologi yang benar-benar dirasakan masyarakat Jepang sudah memadai. Artinya mereka tidak mau membuat negara Jepang sebagai negara yang selalu dipenuhi oleh teknologi robot.

            Permasalahan yang dihadapi  warganegara Jepang  sama dengan yang dihadapi negara Indonesia. Hanya saja jepang mempermasalahkan, bagaimana men-stop kemajuan teknologi tersebut, sementara Indonesia masih mempermasalahkan bagaimana untuk mengembangkan teknologi. Itulah sedikit penggalan cerita bagaimana seorang warganegara Jepang  yang meresa puas akan teknologi mereka sendiri.

            Dalam sepuluh tahun berikutnya, sekitar tahun 1970-an, makin banyak bidang industri yang sebeumnya dikuasai oleh Barat, mulai dikuasai Jepang. Industri otomatif dan industri elektronik hanyalah dua diantaranya.  Memang supremasi Jepang hanya bertahan 15-20 tahun. Tahun 1980-an Korea selatan masih menunjukan gigi. Kemudian bangkitlah raksasa-raksasa Asia, cina, dan India, maka peta industri dunia pun berubah total.

            Bagaimana dengan negeri kita sendiri Indonesia? Industri kitapun pernah berkembang, tetapi karena pondasinya kurang kuat, dasar perekonomian kita lemah. Seperti wawancara saya dengan tokoh spiritual bapak Anand Khrisna menyebutkan, kita membangun, membangun, dan membangun, tapi lupa bahwa apa yang kita bangun pasti hancur.

Usai perang Dunia ketiga, Jepang hancur lebur, lebih tepatnya, kehancuran Jepang menyudahi Perang Dunia. Waktu belasan tahun dibutuhkan untuk membangun kembali ekonominya sudah porak-poranda. Berkat kerja keras, berkat upaya yang terencana dan terarah, maka jepang pun bangkit kembali, menjelma sebagai Raksasa Ekonomi Dunia.

            Jepang menyadari bahwa duaratus juta orang butuh makan, butuh tidur, butuh mandi, dan semua kegiatan rutin itu ada perlengkapannya. Untuk itu pemerintah Jepang memenuhinya dengan teknologi. Indonesia sendiri tidak memenuhi kebutuhan dasar itu, maka kita harus mengimpornya. Dan itu yang kita lakukan saat ini, kita sudah mulai impor apa saja.           

            Awalnya sistem management pembangunan di Indonesia sudah salah, pembangunan dulu baru sumber daya manusianya. Jepang sendiri sumber daya manusianya dulu, baru pembangunan. Selama ini kita sibuk membangun lupa menghancurkan. Maka terjadilah kehancuran secara otomatis, dengan sendiri.  Kita tidak perlu mengatakan bahwa pemerintahan Sukarno lebih baik dari pemerintahan Suharto, atau Suharto lebih baik dari Habibie, begitu juga dengan Gus dur Megawati ataupun SBY.

            Di Jepang ada industri yang mati, ada yang hidup. Ada yang dibiarkan mati, ada yang tidak. Ada yang sengaja dimatikan, ada yang sengaja dihidupkan. Antara pembangunan dan kehancuran terjadilah keseimbangan. Di negeri kita, keseimbangan semacam ini tidak pernah terjadi. Rasanya kitapun belum mencapai puncaknya. Kedua warganegara jepang tadi menunjukan bahwa teknologi di Jepang sudah mencapai “puncaknya”. Mereka sadar, industri mana yang harus dilindungi, sektor mana yang dibiarkan mati dan bidang apa yang harus dikembangkan.

            Negara kita harus menyadari, bahwa untuk kemajuan sebuah negara tidak pernah lepas dari kemajuan teknologi. Teknologi salah satu cara untuk membangun negara ini, karena segala sesuatnya untuk membangun dibutuhkan teknologi. Itulah sebabnya, mengapa pembangunan di Jepang cukup pesat.

            Gelombang penyempurnaan yang terus menerus bergulir di Jepang terus bergulir tidak bisa ditahan. Negara berkembang termasuk Indonesia, sepertinya hanya bisa pasrah menjadi target konsumerisme, dan tampaknya hanya tinggal regulasi yang bisa dimainkan.            

           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s