+TELEVISI LOKAL ETALASE BUDAYA NUSANTARA

 

            Belakangan ini televisi lokal sudah mulai muncul dimana-mana dengan membawa ciri khas dari daerahnya masing-masing. Hal ini tampak dari berbagai acara yang ditayangkan di masing-masing instansi dengan nuansa lokal. Sejumlah sumber data menyebutkan,  hampir 40 televisi lokal muncul di berbagai daerah di Indonesia baik aktif/ non aktif, bahkan di DIY sendiri terdapat dua televisi lokal yang eksis,  dan televisi komunitas serta televisi kampus. Keberadaan ini semakin memunculkan beberapa keragaman televisi, yang mempunyai “kesamaan” ciri khas untuk mengangkat citra dari budaya lokal.

            Namun yang menjadi pertanyaan apakah isi dari program acara televisi yang telah ditayangkan, sudah mampu sebagai jembatan budaya antar daerah sebagai dasar Bhinneka Tunggal Ika? khususnya seperti di DIY yang disebut sebagai Indonesia mini. Sejumlah media lokal seperti JOGJA TV, RB TV dan TVRI JOGJA berada di yogyakarta. Dengan kata lain, masyarakat terbuka dan beragam di DIY memerlukan aspirasi yang bisa membawa suara kepentingan mereka. Dan televisi lokal menjadi sala satu katalisator yang mampu membangun terpeliharanya sikap kritis dan terbuka tersebut.

Mengapa harus televisi lokal yang melakukan perombakan sebuah ideologi dari sang kapitalisasi media nasional hanya untuk mencapai nilai-nilai pancasila? Pasalnya Pancasila hanya ada di daerah atau desa, lingkungan yang masih kental kegotongroyongan, masih mengenal nilai-nilai Kebhinnekaan dibandingkan dari Jakarta. Di lingkungan seperti inilah, sebuah televisi lokal muncul untuk berdedikasi dengan masyarakat, menampilkan nilai-nilai kebudayaan Pancasila.

Beragam budaya ada di DIY, mulai dari sabang sampai merauke, bahkan sampai ke berbagai negara, ada yang melanjutkan pendidikan, bahkan menetap seterusnya di Yogyakarta. Bahkan separuh penduduk di Yogyakarta adalah pendatang. Dengan melihat ciri khas dari Yogyakarta ini, tentunya media lokal sudah mampu melihat segment pasar dan audience yang akan dijalankan. Televisi lokal harus mampu membuat  agenda setting, bagaimana sebuah keragaman budaya di DIY ini dapat disatukan dalam sebuah media  pertelevisian.

Namun, jiwa dan budaya yang bagaimana dibutuhkan di Yogyakarta, apakah hanya jiwa dan budaya asli Yogyakarta  sendiri, atau ikut mengembangkan beragam budaya yang ada di Indonesia dalam satu wilayah keistimewaan, yaitu Yogyakarta atas Kebhinekaan Tunggal Ika tanpa menghilangkan ciri khas budaya  Yogyakarta.

Salah satu kekuatan televisi lokal dalam mewujudkan pancasila berada pada segi bahasa dan budaya. Bahasa sebagai alat kendaraan kebudayaan, alat komunikasi antar budaya, alat penyimpan kebudayaan, dan juga alat kepribadian suatu bangsa. Seperti kata peribahasa “ Bahasa itu adalah bangsa dalam keseluruhan”  Jogja TV membuat sebuah program bahasa dan budaya dari beragam daerah dalam Warta Nusantara dengan bahasa melayu, sunda, jawa timur, dan mandarin. Bahkan program inyong siaran bahasa Banyumasan mampu memberikan ciri khas acara hiburan tapi mendidik dari segi bahasa.  Ada juga seperti JTV Surabaya, yang mampu memberikan suasana berbeda dengan menampilkan bahasa Madura dan Jawa Timur, meski televisi tersebut berada di salah satu kota terbesar di Indonesia.

Sebagai televisi lokal di Yogyakarta, instansi tersebut harus mampu menggali dan mengangkat jiwa dan roh dari masing-masing daerah, terutama dari segi bahasa dan budaya. Jika media tersebut tidak mampu mengangkat sebagian budaya dari masing-masing daerah, maka media ini belum mampu menyatukan Kebhinekaan Tunggal Ika di Yogyakarta, dan memperbaiki karakter yang sesuai dengan Identitas bangsa.

Televisi lokal jangan menutup mata karena Yogyakarta  memiliki beragam budaya dari sabang sampai merauke,  Yogyakarta harus bangga karena dari sinilah yang mampu menyatukan berbagai budaya nusantara. Alat pemersatunya apa? Salah satunya melalui media. Televisi lokal tidak boleh bersifat ‘egoisentris’ dengan mempertunjukan budaya lokal daeranya saja,  hendaknya program tersebut dapat dinikmati setiap warga masyarakat tanpa diskriminasi dengan memberi porsi sekian persen program acara dari budaya lain.

Selama ini media cetak elektronik nasional dan sebagian lokal masih mengarusutamakan segala sesuatunya dengan komersialisasi dan melupakan nilai-nilai ideologi Pancasila. Segala sesuanya dikomersialisasikan, dengan membawa nama pancasila, untuk apa seperti itu? Kini televisi lokal yang baru berkembang di tanah air, janganlah terbawa oleh arus sentralistis pusat.

Banyak televisi lokal sudah mulai menantang komersialisasi Televisi nasional dan media lokal. Misalnya BALI TV, kini membuat sebauh program yang bernama Suluh Indonesia yang dijaring oleh beberapa TV lokal di sejumlah Indonesia diantaranya di Bali, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Palembang, Aceh dan Surabaya, bahkan akan diperluas di sejumlah daerah. Dengan berlogokan kepulauan Indonesia, program ini mencoba mempersatukan beragam budaya di Indonesia melalui Televisi.

Bahkan televisi ini menerbitkan sebuah surat kabar bernama Suluh Indonesia dan Bisnis Jakarta yang akan digratiskan kepada seluruh pembaca demi menghilangkan sebuah komersialisasi di dunia pertelevisian dan media cetak. Keberadaan televisi seperti ini, akan dapat menjaga keseimbangan hubungan manusia, sang pencipta dan alam (Tri Hita Karana), menjaga keutuhan NKRI.

Contoh di atas mirip seperti penegak sejarah penny newspaper, dimana surat kabar  ini dijual murah  dengan harga satu penny, untuk melakukan perlawanan terhadap surat kabar mainstream, yang mampu diakses golongan ekonomi tinggi.

Televisi lokalpun bisa seperti itu, dengan menegakan nilai-nilai pancasila untuk menghapus nilai-nilai komersialisasi dari kalangan kapitalis, maka media tersebut dapat mengalahkan media-media besar yang hanya mampu menggali komersialisasi hingga miliaran rupiah. Karena selama ini media tersebut,  hanya mampu menegakan sebuah “idealis” kebudayaan lokal di atas komersialisasi  medianya.

Kunci kesusksesan media televisi lokal ini mampu mensinergikan Kebhinekaan Tunggal Ika diantaranya: konvergensi media yaitu memperluas dan meningkatkan sebuah ideologi media lokal, baik seperti sektor pendidikan, perekonomian dan pariwisata masing-masing daerah, mendorong pemberdayaan potensi lokal untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat, menggali, mempertahankan dan melestarikan budaya serta tradisi masyarakat, sejalan dengan proses perkembangan zaman, dan tidak lupa pada taat terhadap kode etik jurnalistik, etika penyiaran serta tata nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Jangan sampai otak televisi lokal malah mengalami regresi. Kebangsaan dan nasionalisme pun terlupakan sudah. Media ini hanya menciptakan kotak-kotak baru berdasarkan kepercayaan dan budayanya. Ada bahayanya, dan bisa saja mengancam keutuhan Indonesia. Sebenarnya jika semua media lokal bersatu, maka keutuhan Indonesia dapat dipertahankan meski mereka hidup dalam sebuah lingkup lokal. Televisi lokal harus dapat mengaplikasikan teknologi tanpa mengesampingkan tradisi adiluhung, semua ini tergantung dari regulasi kepentingan media.

Namun yang menjadi kendala dalam eksistensi televisi lokal dalam menegakan idealis tersebut pasar maupun iklan. Seperti diketahui bahwa televisi yang berbasis budaya, atau media yang tidak berbasis dalam hiburan maka akan sulit untuk memperoleh iklan. 

Membuat sebuah jaringan televisi merupakan sebuah modal untuk menyelamatkan eksistensi televisi itu. Karena jika media televisi tersebut mempunyai ideologi terhadap nilai-nilai budaya, maka akan sulit berkembang. Karena para perusahaan periklanan masih memandang sebelah mata televisi tersebut, karena penontonnya tidak sebesar dari lingkup nasional.

Sistem jaringan merupakan sebuah modal untuk mampu menyebarkan nilai-nilai budaya, sharing cultural antar jaringan televisi lokal, sehingga keutuhan sebuah budaya dapat dinikmati di sejumlah daerah, istilahnya; sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Meski televisi lokal juga hidup dari iklan, namun iklan bukan segala-galanya untuk sebuah program, jika sharing program budayanya menarik, maka iklanpun akan datang. contohnya saja jejak petualang trans7, mengangkat dunia pariwisata sebuah daerah terpencil dengan beragam adat dan istiadat, budaya, bahasa.  Bahkan bisa saja program-program yang menyerupai seperti ini ini akan dilirik  sejumlah kedutaan besar negara asing di Indonesia karena ciri khasnya.

Televisi lokal khususnya di DIY sebagai kota budaya dan pendidikan, harus membawa fungsi ideal media televisi dalam suatu demokrasi, diantaranya menjadi pengawas perkembangan sosial politik, budaya, mengidentifikasi masalah masyarakat yang paling relevan, penjaga akuntabilitas penggunaan kekuasaan dan lainnya. Jangan sampai media lokal ‘dikotori’ dengan komersialisasi media massa, yang menjadi  industri bisnis daripada bagian dari masyarakat sipil. Jangan mudah terpengaruh dan berpihak pada kepentingan pemasang iklan dan kepentingan industri.

Jika terjadi demikian, televisi lokal tidak ada bedanya dengan televisi nasional yang hanya meraup keuntungan sebesar-besarnya. Tanpa mengetahui aturan sebuah ideologi pancasila, televisi lokal tidak akan dapat mengerti kompleksitas permasalahan ini dan tidak dapat mengantisipasinya. Dulunya beberapa stasiun mula-mula tampak membangun stasion pusatnya di luar Jakarta. SCTV membangun di kawasan Darmo Permai Surabaya, dan ANTV membangun stasiun pusatnya di Lampung, tetapi mereka kembali ke Jakarta. Alasan utama yang terungkap dalam beberapa wacana adalah sulitnya mereka menghindari pemusatan iklan dan produksi acara di ibu kota.

Kini saatnya media lokal, harus mampu menjembatani semuanya, demi kepentingan masyarakat serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dan menegakan nilai-nilai pancasila. Menyebarkan informasi beragam kebudayaan, bahasa dan adat istiadat sebuah nilai yang mampu memperkaya sebuah karya anak bangsa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s