TERIMA KASIH COMPETITOR

Anthony Dio Martin

Ada sebuah kisah nelayan Jepang yang saya sukai. Berikut kisahnya.

Orang-orang Jepang terkenal menyukai ikan segar. Namun selama beberapa dekade terakhir, sudah semakin sulit mendapatkan ikan segar nan besar di perairan-perariran terdekat. Akibatnya, nelayan Jepang mulai membangun kapal besar sehingga bisa menuju ke laut lepas yang lebih jauh.

Namun, kenyataannya meskipun bisa menangkap lebih banyak ikan, perjalanan kembali ke daratan Jepang akhirnya memakan waktu yang lebih panjang. Saat tiba, ikanpun menjadi tidak segar lagi. Akhirnya, para nelayan Jepangpun menemukan cara lain yakni dengan membuat ruang pembeku ikan. Ikan-ikan yang tertangkap di laut, segera dimasukkan ke dalam ruangan pembeku ini.

Namun, celakanya ternyata masyarakat Jepang bisa membedakan mana ikan segar dan mana ikan beku. Ikan beku pun tidak disukai di pasaran. Maka, nelayan Jepangpun mulai mencari cara lain yakni membuat sebah tangki air laut besar dimana ikan-ikan bisa tetap dalam keadaan hidup setelah ditangkap.

Namun, tangki besar inipun tidak memecahkan masalah sebab ikan-ikan yang ditangkap, setelah berminggu-minggu menjadi jarang bergerak, malas dan kurus. Ketika ikan ini dijadikan santapan, oang-orang Jepangpun tidak menyukai rasanya. Akhirnya bagaimana akal terakhir para nelayan Jepang untuk mengatasi masalah ini?

Namun, tangki besar inipun tidak memecahkan masalah sebab ikan-ikan yang ditangkap, setelah berminggu-minggu menjadi jarang bergerak, malas dan kurus. Ketika ikan ini dijadikan santapan, oang-orang Jepangpun tidak menyukai rasanya. Akhirnya bagaimana akal terakhir para nelayan Jepang untuk mengatasi masalah ini?

Akhirnya, dengan cerdik nelayan-nelayan Jepang mulai memasukkan beberapa IKAN HIU hidup ukuran kecil dalam tangki tersebut. Ikan-ikan hiu kecil yang lapar akan mengejar ikan-ikan tangkapan tersebut dan memakan beberapa ekor diantaranya.
Namun jumlah ikan tangkapan masih akan tetap banyak jumlahnya dan yang jelas, rasanya masih tetap enak. Mengapa? karena mereka terus-menerus bergerak oleh adanya ancaman dimakan oleh ikan hiu tersebut. Sebuah cara yang sangat cerdik bukan?

Memakna Kompetisi Saya paling menyukai kisah nelayan Jepang ini.

Entah kisahnya benar atau hanya sebuah cerita rekayasa belaka, yang jelas pesan dari kisah ini sangat jelas: ketika kita kehilangan semangat berkompetisi, kita kehilangan bagian paling “excited” dalam hidup kita dan perlahan-lahan kita sedang menuju pada gerbang kematian.


Namun, umumnya kita membenci kompetisi. Kita memaknai kompetisi sebagai keadaan yang membuat stress, menekan dan membuat kita harus selalu waspada.
Tapi, hei… bukankah itu yang membuat hidup ini terasa indah?
Kompetisi memuat kita merangkak perlahan tapi pasti menuju kepada kesempurnaan. Tanpa adanya kompetisi, hidup kita stagnan, berhenti. Karena kompetisilah kita mulai memikirkan perlu kita terus-menerus memperbaharui diri, belajar dan meningkatkan kualitas dalam diri.
Organisasi mestinya melihat kompetisi sebagai sesuatu yang positif, demikian juga individu. Namun, seringkali hal yang demikian dilihat dari kacamata yang sangat negatif.

Pada awal tahun ini, ssebuah koran nasional pernah memuat berita mengenai seorang pemilik restoran di Cina yang menaruh racun pada makanan pesaingnya. Akibatnya, beberapa pelanggan kompetitornya keracunan, namun ia pun kemudian ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Sebuah cara berkompetisi yang konyol! Semangat Kompetisi dalam Karir


Cara bersaing yang sehat, tentulah bukan dengan merusak, menghancurkan atau membunuh kompetitor kita. Cara terbaik mengembangkan diri mestinya melalui jalur-jalur yang paling kreatif dan positif. Kompetisi dapat dilihat sebagai kesempatan untuk mencari solusi yang lebih praktis, lebih sehat, lebih baik, lebih efektif, lebih efisien, lebih nyaman, lebih bagus dibandingkan kompetitor kita.

Hal ini diibaratkan berlaku pula dalam perjalanan karir kita. Biasanya, kita membenci orang-orang se-‘level’ kita yang akan turut memperebutkan suatu posisi atau jabatan yang kita inginkan.
Sikap kita bisa positif atau destruktif. Kita bisa melihat rekan pesaing karir kita sebagai ancaman atau kesempatan berkembang bagi kita. Yang jelas, jika kita menyikapinya secara negatif, maka yang mungkin kita lakukan adalah membuat akal dan siasat bagaimana melemahkan rekan pesaing kita. Hubungan kita dengan rekan pesaing itupun menjadi tidak harmonis. Kita menjadi tidak tulus dan berpura-pura di depannya sambil terus berusaha menghembuskan isu negatif mengenai orang tersebut.

Namun, jika kita melihat rekan pesaing kita sebagai tantangan yang menarik, inilah yang mungkin kita lakukan. Kita akan lebih mengawasi sepak terjang dan gerak-gerik rekan pesaing kita tersebut. Mencoba melihat kualitas dan faktor apa pada dirinya yang tidak ada pada diri kita. Lantas, kita berusaha melebihi atau bahkan lebih baik daripada rekan pesaing tersebut dengan mengembangkan kelebihan pada diri kita.

 Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan kita.

Pengalaman Kompetisiku

Hal ini mengingatkan pengalaman saya sewaktu di Astra, pada saat ketika masih sebagai seorang junior di lembaga pendidikan di Astra. Saat itu saya memiliki seorang rekan selevel yang juga sama-sama berpeluang dipromosikan menjadi supervisor. Mulanya saya sering kesel karena dia terlalu ‘tangguh’ untuk dikalahkan. Idenya brilian, kualitas kerjanya bagus, kata-katanya banyak didengarkan oleh boss besar dan ia banyak dilibatkan dalam proyek.

Namun, kehadiran dirinya sungguh membuat saya tertantang. Saya pun berusaha mengembangkan diri saya. Berusaha belajar dan melatih kemampuan menyampaikan ide secara persuasif, yakni kualitas yang selama ini saya rasakan kurang pada diri saya. Di akhir karir saya di Astra, tetap saja saya tidak bisa mengalahkan rekan saya ini. Dia lebih maju. Tetapi, ternyata latihan pengembangan diri yang saya latih, tanpa sadar telah mambangun kualitas diri saya yang sangat berharga tatkala saya pindah ke tempat lain. 

Be Positive

Mari kita bersikap positif terhadap tantangan.

1.    Tantangan dan kompetisi membuat kita memeras diri sampai titik saripati yang terbaik dari diri kita.

2.   Tantangan membuat kita menggunakan seluruh daya fisik, mental maupun spiritual daam diri kita.

3.   Tantangan juga menbuat sebuah perjalanan terasa begitu ‘fun” untuk dijalani.

4.   Sama seperti halnya anak kecil biasanya malas jika disuruh berlari sendirian. Tetapi, ketika diciptakan suasana lomba dengan teman-teman sebayanya untuk berlari, mereka akan berusaha berlari dengan begitu gembira.

5.   Tantangan, akhirnya membuat hidup kita ‘lebih hidup’, seperti bunyi sebuah iklan.

6.   Tantangan juga membuat kita lebih dekat dengan pencipta kita karena kita jadi mengerti adanya keterbatasan kita dan akhirnya kita bersujud meminta bantuan kekuatan dari Sang Ilahi.

Mestinya kita senantiasa mengatakan,

“Terima kasih kompetitorku, karena anda maka hidup saya berkembang!”.

Tips Untuk Anda

Ada beberapa tips membangun semangat berkompetisi bagi Anda:

Pertama, jangan menghindar dari peluang berkompetisi. Daripada menghindarinya, ceburkan diri Anda dalam situasi berkompetisi tersebut. Disana Anda mulai akan belajar, dan mulai berkembang. Dalam situasi itu Anda pun akan mulai mengerti dimana kekuatan lawan Anda dan apa kelemahan Anda yang masih perlu Anad tingkatkan.

Kedua, lihatlah kompetisi dari kaca mata yang positif. Jangan berusaha membunuh, menghancurkan atau menghabisi kompetitor dengan cara-cara yang kasar, apalagi tidak etis. Bahkan jika perlu rawatlah situasi kompetisi itu. Ingatlah berterima kasihlah pada situasi kompetisi itu, karena itulah yang membuat diri Anda berkembang. Bahkan, dalam sejarah hidupnya Michael Jordan, sang maha bintang basket pernah berhenti bermain sebanyak tiga kali karena merasa tidak ada lagi kompetitornya di dunia NBA. Ia berhenti untuk memberi kesempatan munculnya bintang baru. Setelah muncul bintang baru, ia tertantang lagi untuk mengalahkannya dan mencapai kualitas yang lebih baik. Ini ia lakukan tiga kali hingga akhirnya ia betul-betul mengundurkan diri secara resmi dari bola basket.

Ketiga, terus-meneruslah menantang diri Anda untuk berkembang. Jika Anda telah mencapai tujuan Anda, ciptakan tujuan dan target yang lebih tinggi lagi. Teruslah menantang dan mengembangkan diri Anda. Kalaupun Anda tidak melihat adanya penantang, ciptakanlah musuh imajiner Anda dalam pikiran Anda yang menurut Anda lebih baik dan lebih hebat dari diri Anda. Dengan demikian, Anda akan terus mengembangkan diri Anda selalu. Ingat, masukkanlah ikan hiu dalam pikiran Anda dan dengan demikian, Anda akan terus menerus tertantang dan berkembang! 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s