Cup Of Coffe: Bicara tentang Penyiar Televisi

               Penyiar hm..mungkin siapa saja ingin menjadi penyiar terkenal di sebuah stasiun radio maupun di stasiun televisi. Dengan memiliki talenta dan suara yang bagus, wajah yang cakep dan cantik mungkin siapa saja bisa menjadi seorang penyiar. Modal-modal seperti itu kadang selalu menjadi sebuah kebutuhan utama bagi seseorang untuk ingin menjadi penyiar baik penyiar radio dan televisi. Penampilan dan gaya yang asik selalu mendambakan seorang untuk menjadi seorang penyiar yang baik, dan dia harus memiliki  talenta di dalam diri sendiri. 

 

            Namun siapa sangka bahwa semuanya itu tidak cukup. Banyak hal-hal yang mesti diperhatikan dalam melakukan siaran. Misalnya penyiar radio yang akan beralih ke penyiar televisi. Serupa tapi tidak sama, model ini memang sangat berbeda, mulai dari format suara hingga format penyampaian. Radio tidak membutuhkan penampilan bagaimana bisa memberkan Suara memang membentuk theater of mind, yang hasilnya bisa berbeda-beda di benak setiap orang. Itulah kekuatan dahsyat sebuah media bernama radio.

Ada yang menyebut profesi sebagai “Newsreader” atau “News Presenter:. Isitilah “Newscaster” adalah sebutan untuk Broadcaster yang bergerak di bidang News, tapi tidak eksklusif untuk penyiar Televisi. Sedangkan “News Anchor” merujuk pada fungsi penyiar tersebut menjadi kendali-acara bagi berbagai reporter yang sedang meliput berita di lapangan pada saat bersamaan.

 Memang istilah “newsreader” masih sedikit ditentang karena memberi kesan bahwa penyiar tersebut hanya membacakan naskah berita saja, padahal seorang penyiar berita televisi profesional juga turut sibuk mencari beritanya. Itulah sulitnya dan sangat lemah jika presenter yang kita pakai adalah mereka seorang freelance yang terkadang datang siaran, pulang bermain, demikian berikutnya.

Untuk menjadi penyiar di era sekarang ini lebih sulit karena anda harus punya lebih dari sekedar golden voice. Anda harus punya jiwa entertainer, harus mampu berekspresi secara flexible, harus terdepan mengikuti segala trend lifestyle dan information, dan harus siap (tanpa cengeng, tanpa mengeluh) untuk tampil di depan pendengar/ penonton manapun untuk memenuhi keinginan pemirsa dan klien yang membayar anda.

 Penyiar harus berwawasan agar siarannya hidup, dinamis, berisi, dan tidak monoton.  Jika anda tidak berbawasan jangan harap anda akan menjadi penyiar unggul dan berkualitas. Kosakata, varietas kata, improvisasi, hanya bisa dilakukan oleh penyiar yang berwawasan luas. Karena itu, banyak baca, jadilah orang yang haus pengetahuan! Dijamin, jika Anda berwawasan luas, takkan kehabisan kata-kata untuk berbicara.

Modal apa saja sih yang diharapkan untuk menjadi seorang penyiar?

Pertama, kita harus disiplinkan diri agar bisa selalu berusaha menghibur
Audience:jangan berfikir untuk jadi Penyiar jika Anda sulit menepati janji
dengan orang atau sering berganti mood setiap hari. Kalau Anda mengalami
kesulitan untuk mengendalikan ekspresi diri karena mood Anda mudah
berubah-ubah bagaikan cuaca, lebih baik Anda kerja di balik komputer
ketimbang di studio siaran.

Kedua, kita harus in-touch dengan apa yang sedang menjadi pusat perhatian Audience kita; dengan kata lain, kita harus “gaul” seperti mereka. Kalau ingin bekerja di radio otomotif, misalnya, biasakanlah diri dengan hobby mobil dan motor. Jika ingin menjadi pembaca berita di Metro-TV, biasakanlah mengkonsumsi berita setiap hari.

 Ketiga, kita harus terbiasa disuruh-suruh sesuai tuntutan klien atau program. Dalam prakteknya tuntutan ketiga ini sangat bervariasi, misalnya Anda :

  • Diberi jam siaran Minggu pagi, padahal Anda paling susah bangun pagi
  • Harus mewawancarai seseorang yang Anda sangat tidak suka
  • Dituntut memakai celana pendek saat jadi TV-host, padahal lutut Anda jelek.
  • Diminta diet drastis karena setelah melahirkan koq terlihat gemuk di kamera
  • Dengan kata lain, kalau Anda merupakan tipe orang yang cenderung membantah perintah atau setiap hari masih dibangunkan oleh Mama, maka sebaiknya Anda kerja di bank saja… atau bikin perusahaan sendiri.

Apalagi tugas sebagai Penyiar menuntut Anda bisa memenuhi keinginan Audience, no matter what the conditions and no matter who the Audience is.

Seorang penyiar sebenarnya bukan profesi yang mudah untuk dijalani, karena penyiar harus mampu berkomunikasi dengan baik kepada pendengarnya. Karena inilah yang menjadi modal utama bagi seorang penyiar radio. “Kalau kita mendengarkan radio dan menonton televisi, sepertinya penyiar itu kerjanya enak, cuma ngomong-ngomong saja. Tetapi itu sebenarnya sulit, karena kita harus selalu bisa bercerita. Kalau kita diam pasti tidak enak didengar pendengarnya.

Situasi seperti ini sering saya alami ketika saya sudah bersiaran selama 7 Tahun di dunia Broadcasting mulai dari radio UNISI, Kantor Berita Radio 68H Jakarta, dan terakhir di JOGJATV. Apalagi ketika kita akan melakukan siaran secara tiba-tiba atau satu jam sebelum siaran, kita diminta untuk membawakan acara dialog yang topiknya belum kita ketahui sama sekali. Nah di dalam kondisi seperti ini kita harus sudah mempunyai ancang-ancang dengan menyiapkan segala bahan penting untuk dialog, siapkan sebanyak-banyaknya dari pada kita tidak mempersiapkan sebanyak mungkin.

Misalnya kasus meninggalnya mantan presiden RI Suharto…Siapapun tidak akan dapat menduga kapan Suharto meninggal, meski dari awal kita sudah mengetahui bahwa Suharto dalam kondisi kritis. Nah di sini kita sudah mempunyai ancang-ancang yaitu mencari sebanyak-banyaknya data tentang Suharto.

Waktu itu saya mulai pesimis…bahwa Suharto akan sehat dan tidak jadi meninggal. Mendengar kabar tersebut kinerja kita mulai tidak menentu dalam mencari bahan bahkan saya mengambil jatah libur dalam beberapa hari ketika Suharto dalam kondisi kritis, namun kita tetap menyimpan data-data tersebut.  Ternyata tiba pada waktunya…Suharto meninggal, nah tepat pada hari penguburan saya harus membawakan siaran breaking news edisi perginya Suharto, mulai pukul 07.00-13.00WIB

Sementara waktu itu saya libur, artinya saya tidak mengikuti perkembangan kondisi kesehatan Suharto. Namun dihari penguburan saya harus membawakan siaran…beruntung saya sudah mempunyai data-data tentang kehidupan suharto, yang akhirnya kita berhasil membawakan siaran hingga setengah hari, tidak hanya breaking saja namun ada talksownya waktu itu bersama Nasruddin Anshory.

Menjadi seorang penyiar unggul tidak hanya enak-enaknya saja tapi harus merasakan pahitnya, mereka harus mampu berpikir kritis setiap harinya, rajin membaca dan siap menghadapi berbagai topik pembahasan mendadak. Dialog 30 menit di JOGJATV yang saya bawakan hampir 1 setengah tahun setiap hari, membuat saya harus berfikir setiap hari, apalagi saya sekaligus produser dan presenter.

Bagi setiap Stasiun TV adalah Anda dapat membuktikan kemampuan diri pada saat dilakukan screen-test, simulasi reportase & wawancara di lapangan, dialog di studio, dan menyampaikan berita dari materi yang muncul di Teleprompter. Sedangkan yang penting bagi Anda adalah persiapan sendiri : latihan mengatasi grogi di depan kamera serta membekali diri dengan pelatihan Penyiar yang berkualitas. Contoh: Jika ingin jadi penari balet yang handal, tentu Anda harus mencari guru yang telah menghasilkan penari2 balet terbaik.

 Kondisi ini kadang membuat pikiran jenuh..namun tips dan trik yang saya lakukan adalah, mencoba untuk menyenangi topik tersebut tanpa harus pilih bulu.  Selama ini saya membawakan siaran yang berisikan tentang Politik, Sosial, Budaya dan Perekonomian dan kehidupan masyarakat. Lalu..kita harus menyadari apakah kita sanggup membawakan topik tersebut jika tidak jangan sekali-kali diangkat.

Mencari bahan-bahan dialog harus rajin kita lakukan baik dari internet dan dan surat kabar, sekecilapapun referensi itu sangat penting sebagai bahan dialog kita. hal ini untuk menambah pengetahuan kita tentang segala sesuatu hal.

Ketika berkecimpung di dunia televisi saya banyak mengalami kendala dalam siaran, terutama mewawancarai mantan menteri, atau pengamat sosial seperti Anand Khrisna. Waktu itu saya pernah berdialog dengan mantan menteri kehutanan..(saya lupa namanya) mengangkat tema tentang pemanfaatan sumber daya alam…topik ini mendadak sekali karena ketepatan datang ke yogyakarta. Awalnya saya berkeringat dan grogi karena baru pertama kali menghadapi seorang menteri. Kata demi kata harus tersusun dengan rapi, karena sangat berpengaruh kepada citra diri kita. Trik yang saya lakukan adalah, forget all the question taq, gunakan cara dirimu ketika berbicara dengan orang lain, kembangkan apa yang telah dia jelaskan…misalnya “emang kenapa jika  hutan kita diberikan sebanyak-banyaknya kepada masyarakat….”

Di dalam buku ini saya tidak bercerita banyak bagaimana tips dan trik menjadi seorang penyiar yang baik, melainkan kesalahan-kesalahan apa saja yang harus dihindari seorang penyiar terutama dalam menjalankan talkshow dan  membaca berita. Banyak kesalahan-kesalahan seorang penyiar dalam membawakan sebuah acara talkshow, terutama mereka yang menganggap pekerjaan seorang penyiar hanyalah sampingan sekedar ceriwis dan ketawa, sekedar bertanya “apa..dan mengapa…apakah“ bukan menelahaan isi dari perbincangan ”datang berbicara lalu pulang” Banyak penyiar pemberitaan dan talkshow mengupas sebuah perbincangan dari luarnya saja sehingga dia tidak mampu membawakan dialog tersebut lebih bermakna dan lebih mendalam. 

Apakah anda siap untuk menjadi seorang penyiar yang baik…jika ya..anda bisa mengikuti beberapa pembahasan dalam buku ini.

2 thoughts on “Cup Of Coffe: Bicara tentang Penyiar Televisi

    1. That’s an adorable statement,… Hello my name is Nisa n Im a presenter in local television n My experiences to become a presenter, sometimes its too difficult n sometimes its too easy.n emang sich we r realy2 need some information and aknowladgment.tp sebel jg terkadang senior2 give me too much advice,pdhl terkadang mereka jg sering diomongin ama PD n PENGARAH ACARA…..actually i very appreciated to them but sometimes its too much.Btw,Thanx yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s