Jangan Biasakan Membaca…

Kasus seperti ini paling sering terjadi bagi sebagian penyiar televisi yang baru saja mengawali karirnya sebagai penyiar. 

Cara seorang Penyiar membaca materi berita dari teleprompter (atau naskah di meja siaran) haruslah seakan-akan dia memahaminya dan mengalaminya sendiri. Jika ia terkesan kaku atau malah terdengar hanya membaca naskah milik orang lain, maka penonton tidak akan terhibur mendengarnya/melihatnya.

Pemirsa akan berpikir, “Kalo baca aja sih, saya juga bisa sendiri dari koran!”. Karena asumsi sederhana inilah maka Dokter Penyiar meyakini bahwa berita di TV harus bisa memberi sebuah “pengalaman lebih” dibandingkan yang diterima pemirsa jika ia hanya membacanya (di koran) atau mendengarnya (di radio). Keistimewaan dunia televisi terletak pada kepandaiannya dalam “storytelling” sebuah berita, atau memunculkan video peristiwanya, maupun juga wawancara blak-blakan dengan seorang narasumber yang kompeten.

Tuntutan & keinginan pemirsanya harus dipenuhi Stasiun TV tsb. Kalau Anda ingin jadi Penyiar Berita TV tapi tidak mengerti ketiga hal tsb, sebaiknya Anda beralih ke profesi yang tidak terlalu “melayani orang lain”.

 

v      Hilangkan Jaga Image

 

v      Keberhasilan program tergantung dari kemampuan si penyiar

 

Sebagai langkah awal, sebagiknya diidentifikasikan dulu permasalahan apa saja yang lasim terjadi dalam pengolahan suaran maupun teknik berbicara:

  1. MASALAH SUARA DAN PERNAFASAN
    • Terdengar lemah dan kurang bertenaga
    • Nafas tersengal-sengal dan terdengar desahannya.
    • Parau serta serak
    • Ngotot dan nyaris berteriak.
  2. MASALAH BERBICARA

·         Pengucapan tidak jelas sehingga membuat orang bertanya.

·         Monoton di Intonasi maupun Aksentuasi

·         Kecepatan berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat

·         Ritme berbicara tidak stabil

Ada Sedikitnya 7 hal yang harus menjadi perhatian seorang presenter, khususnya yang menyangkut baku mutu suara dan cara berbicara, permasalahan ini sering sekali saya temukan ketika menghadapi sejumlah presenter di tempat saya berada:

·         Berbicara OLAHAN DIAFRAGMA

·         Bernicara dengan INTONASI yang tidak monoton.

·         Memperhatikan AKSENTUASI, berupa penekanan kata-kata tertentu sehingga memudahkan pendengar menangkap pesan anda dan sekaligus membuat pembicaraan menarik.

·         Ketika berbicara tidak seperti orang mengulum atau menggumam, untuk itu diisyaratkan harus melatih pula ARTIKULASI

·         KECEPATAN supaya diperhatikan, jangan terlalu cepat juga tidak terlalu lambat.

·         Waktu berbicara perhatikan pula RITME yang harus teratur…ibarat lagu, bila ritmenya tak beraturan, maka menyulitkan yang mendengarkan.

One thought on “Jangan Biasakan Membaca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s