Penyiar:Pekerjaan VS sampingan

Kebanyakan para penyiar menilai bahwa “profesi” sebagai penyiar adalah kerja sampingan, tertuama bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan utama maupun masih berstatus mahasiswa. Image seperti inilah membuat profesi seorang penyiar semakin menurun, pasalnya mereka bekerja tidak  secara serius, melainkan datang, cuap-cuap dan pulang. Jarang sekali seorang penyiar untuk mengevaluasi kekurangannya selama usai siaran, hampir usai siaran mereka langsung pulang tanpa meemeriksakan kembali hasil rekaman selama mereka melakukan siaran. Ada beberapa alasan yaitu sibuk dan ada kerjaan lain.

Proses-proses seperti ini akan dapat mengurangi kredibilitas dari penyiar tersebut. Bahkan penonton yang menyaksikannya si presenter tersebut tidak pernah belajar dari sebuah kesalahan, kesalahan demi kesalahan terus dia pergunakan dalam bersiaran hal hasil kesalahan tersebut akan menjamur dalam diri dia.

Pekerjaan sebagai presenter jangan diabaikan atau hanya sebagai pekerjaan sampingan saja, meski mempunyai pekerjaan tetap lain namun anggaplah itu salah satu pekerjaan utama anda sebagai penyiar, dan anggaplah bahwa diri anda itu sebagai sosok yang akan dipergunakan masyarakat untuk menghibur hati dan pikiran dari penonton.Artinya adalah belajar untuk memperbaiki sikap dan penampilan anda termasuk ubahlah braind pikiran anda menjadi lebih baik lagi dengan lebih cerdas, komunikatif dan menarik perhatian dari si penonton.

Selama saya bekerja di dunia televisi, kredibilitas si penyiar baik yang menganggapnya sebagai kerja sampingan membuat dirinya menjadi bodoh diantara penyiar lainnya. Cara dia membawakan siaran tersebut akan terlihat, mana yang benar-benar memanfaatkan dirinya sebagai penyiar dan mana yang menganggap bahwa menjadi status menjadi penyiar tersebut hanya 30 atau 1 jam saja, lepas dari situ anda bukan penyiar.

Cara dia menyampaikan kadang tidak sesuai dengan target keinginan dari si produser, bahkan titik point yang disampaikan tidak sampai sehingga pembicaraan tersebut menjadi “ngawur kidul” beda jika anda menjadi presenter televisi komedi. Bahkan kekompakan antara dari si penyiar dengan si narasumber selalu tidak tepat. Di saat si narasumber sedikit lembut dan diam, si penyiar justru “terkakak..kikik…” atau justru senyum yang terlalu dibuat-buat untuk menjunjukan rasa empati dia terhadap narasumber dan program tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s