Televisi Bukanlah Radio

 

 Televisi bukanlah radio..ya itulah yang mungkin bisa disampaikan terlebih dahulu kepada seseorang yang ingin menjadi anchor/penyiar. Mereka terlebih dahulu harus memilih jenis media apa yang harus mereka jalani, jangan sampai kedua media mereka jalani secara bersama-sama, sementara belum memiliki keahlian sama sekali dalam bidang kepenyiaran.

Hukum sebuah penyiaran adalah format suara dari radio belum tentu pas buat format televisi. Karena gaya dan cara penyampaian sudah berbeda walau sama-sama menyampaikan sebuah siaran. Biasanya seorang penyiar radio belum tentu mampu siaran di sebuah televisi, namun seorang penyiar televisi biasanya lebih mahir ketika mereka hendak menjadi seorang penyiar radio, karena tingkat kesulitannya lebih rendah daripada radio.

Banyak memang seorang penyiar televisi awalnya dari seorang penyiar radio, namun banyak juga seorang penyiar radio justru gagal untuk menjadi seorang penyiar televisi walau tidak dapat kita pungkirin ada juga yang berhasil.

 Kesalahan seorang penyiar yang berasal dari seorang broadcaster radio adalah cara pembawaan mereka ketika dihadapkan pada dunia televisi, apalagi ketika mereka dihadapkan pada sebuah siaran berita…kakunya bukan main, badan bergerak ke sana kemari, mimik yang begitu lentur sehingga pengaturan bibir ketika hendak siaran menjadi tidak tegas.

Selama saya menjadi produser dan redaktur pelaksana di JOGJA TV dan melakukan pelatihan di sejumlah lembaha, banyak penyiar-penyiar berita kami yang berasal dari radio gagal untuk siaran di televisi. Itu memang sudah merupakan sebuah pengaturan sistem, mereka sudah dibentuk siaran radio seperti itu yang akhirnya ketika dibawa ke dunia televisi akan gagal.

Banyak pertimbangan yang harus dilakukan ketika anda beralih profesi dari radio ke televisi. Anda harus menyadari bahwa televisi tidak hanya mengunggulkan suara anda saja, melainkan sebuah penampilan menyampaikan sebuah berita, dan cara berbicara di depan kameran. Jangan terlalu bangga dulu walau anda sudah biasa siaran namun untuk di depan televisi lebih berat dari radio.

Dulu kami memiliki sekitar 6 orang penyiar televisi semuanya berasal dari radio. Namun setelah mereka melaksanakan siaran selama beberapa minggu, ternyata mereka gagal dalam segi penampilan dan mimik penyampaian.

Ada beberapa hal kesalahan seorang penyiar radio beralih ke televisi:

  • Gaya penyampaian radio yang biasanya dibarengi dengan gerak badan ke kanan ke kiri menjadi sebuah kebiasaan ketika mereka muncul di depan televisi..sehingga pernah seorang penonton memberi komentar kepada kami apakah penyiar anda ambeyen…bergerak ke sana kemari…” mengapa dengan bibir penyiar anda, melengkung ke kiri dan ke kanan”
  • Atau justu sikap badan yang kaku, banyak para penyiar muda kurang memperhatikan dan melakukan evaluasi sikap mereka ketika berbicara di depan kamera. Selama ini mereka terbiasa dengan suara, namun lupa akan gerakan yang formal di depan kamera. Hal hasil sebuah gera 
  • Kesalahan dalam memilih penampilan atau penggunaan kostum yang terlalu berlebihan. Penampilan dalam berkostum sangat berpengaruh dalam memberikan image yang bagus dalam siarannya tersebut.

Ada beberapa perbedaan dalam melakukan wawancara di radio dan televisi, diantaranya: di televisi jika si presenter dalam melakukan wawancara melihat si narasumber tampak berkeringat dan matanya sedikit aneh, ada kemungkinan bahwa si narasumber merasa tidak nyaman dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Sementara jika di radio tidak ditemukan hal-hal seperti ini. Nah di sinilah sikap dari penyiar yang biasanya beralih dari radio ke televisi menyikapi situasi seperti ini.  Karena itulah sebagai penyiar harus wajib hukumnya memiliki pengetahuan yang tinggi terhadap aktivitas seseorang atau ‘inquisitive about other people’s business’

Radio mampu memberikan style suara namun belum mampu meberikan keutuhan secara keseluruhan baik dalam sikap, penampilan dan cara berbicara yang baik. Namun jika anda bekerja awalnya dari radio hal itu merupakan nilai positif, karena anda sudah mempunyai bekal menjadi seorang penyiar, baik dari suaru dan cara berbicara.

Hal lain yang paling mengejutkan bagi para Penyiar Radio yang mencoba jadi Penyiar TV adalah transisi dari studio siaran yang hanya dia seorang diri (dan leluasa berekspresi dengan segila-gilanya) lalu berganti menjadi sebuah studio siaran TV yang dipenuhi oleh petugas2 lainnya, misalnya:

·         Kamerawan (satu/dua untuk News, hingga tiga untuk program)

·         Floor Director (menjembatani antara tuntutan Produser dengan kondisi kerja Penyiarnya)

·         Scriptwriter (utk mengedit teleprompter atau menambahkan materi jika ada Breaking News)

·         Petugas make-up/wardrobe yang siap menyempurnakan wajah/ rambut/ dan busana anda

·         Program Director / Producer (biasanya di ruang Master Control mengawasi urutan item Berita dan menyutradarai programnya secara umum)

Kerumitan dan perhatian berbagai orang tsb harus Anda netralisir (baca: cuekin) karena perhatian Anda adalah berinteraksi dengan Audience melalui materi baca. Belum lagi jika ada urutan perpindahan kamera yang harus Anda hafalkan, misalnya Opening di Cam-1, Materi Berita di Cam-2, dan Closing di Cam-3. Sambil ini semua berlangsung, waktu dan siaran berjalan terus sehingga Anda tak pernah boleh lupa atau salah bicara.

Floor Director(FD) membantu Anda dalam berbagai hal, misalnya memberi Anda aba-aba “5, 4, 3, 2…”, memeriksa sudut & zoom Camera terhadap Anda, memastikan semua peralatan (mic, kamera, lampu, monitor, dll) bekerja dengan baik, dan mengoperasikan scrolling pada teleprompter.

Bagi anda yang ingin beralih dari radio ke televisi anda bisa melihat perbandingan di bawah ini, Menurut survey di Amerika Serikat, penyiar yang disukai apabila:

·         Mempunyai kepribadian yang mengesankan “humble (suka merendah)”, tidak sok atau merasa lebih tinggi, dan harus berjiwa besar.

·         Selalu “segar (fresh)” dalam membawakan acara atau menyampaikan berita dan “menyenangkan” dalam setiap performance-nya. (Catatan: Menyenangkan bukan berarti harus selalu melawak).

·         Setiap apapun yang disampaikannya selalu sangat berarti bagi pendengar/penontonnya.

·         Mampu mengendalikan situasi agar tetap dalam jalur acara, sementara tetap menghargai tamu, penonton atau pendengar.

 

One thought on “Televisi Bukanlah Radio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s