TELEVISI LOKAL, BENARKAH BARU?

TELEVISI LOKAL, BENARKAH BARU?

Sihar Harianja, Jurnalis dan sekretaris FBMM

(Forum Bahasa Media Massa DIY)

 

            Perkembangan televisi lokal di Indonesia semakin tidak dapat dibendung. Kemajuannya di tanah air ini ibarat bak air yang membanjiri seluruh kota Indonesia dengan membawa idealisme, visi dan misinya masing-masing. Kehadirian televisi lokal di Indonesia memang membawa pencerahan baru, format baru dan pendekatan baru kepada penontonnya.

Dari sekian banyak format yang disajikan televisi lokal di Indonesia mulai dari format penyiaran dan jenis programnya dapat dikriteriakan:

1. format yang terbarukan

2. Produk lama yang diregenerasikan

3. Serupa tapi tak sama.

Ketiga format tersebut memang melekat di hampir semua televisi lokal di Indonesia. Format-format seperti itu banyak mengikuti format-format televisi yang telah ada di Indonesia bahkan menjiplak, hanya saja dipoles sedikit saja maka program tersebut sedikit berbeda dengan televisi lainnya.

Pertama, format yang terbarukan, mengapa demikian? Kehadirian televisi lokal Indonesia di masing-masing daerah telah memberikan angin segar bagi penonton di tanah air dari sajian program yang ditampilkan. Ketika televisi Jakarta menyiarkan siaran sinetron dan hiburan, televisi lokal menyajikan program yang berbeda, seperti pendidikan, seni dan budaya serta produk-produk kearifan lokal.  

Banyak program-program televisi lokal tidak diperoleh di televisi Jakarta, seperti program budaya, hiburan lokal serta bahasa daerah. Jika di Trans hanya memiliki format berita Indonesia, Metro  TV memiliki format bahasa Mandarin dan Inggris, maka di Bali TV menggunakan bahasa Bali, Jogja TV menggunakan bahasa Jawa, Jawa Pos TV menggunakan bahasa Jawa Timuran, dan televisi lokal lainnya menggunakan bahasa daerah masing-masing.

 Banyak pihak mengatakan, bahwa kehadirian televisi lokal di Indonesia merupakan sebuah identitas baru kearifan lokal masing-masing daerah, sehingga pihak tv lokal mesti memutar otak bagaimana programnya tersebut mampu menarik perhatian masyarakat lokal.

Jika di televisi nasional ditemukan film-film box office, maka di televisi lokal ditemukan program wayang, dan ketoprak dan budaya. Untuk mendirikan sebuah televisi lokal memang telah diatur bahwa untuk jenis program harus bermuatan lokal.

Kedua Produk lama yang diregenerasikan, mengapa diregenerasikan? Jika awalnya memiliki format berbeda, namun jika kita melihat  secara teliti dengan membandingkannya dengan televisi lainnya dengan TVRI, maka programnya tidak jauh beda. Banyak program tv lain yang meregenerasikan program-program televisi lain seperti dialog dengan Pemerintah setempat. Jika  TVRI sering mengadakan dialog dengan pemerintah setempat,maka televisi lokalpun demikian juga. TVRI biasa berdialog dengan instansi pendidikan terkait visi dan misi perguruan tinggi tersebut, maka televisi lokal melakukan format yang sama.

Televisi lokal bisa disebut sebagai jejaring format TVRI dan Televisi lain. Jika dialog di TVRI sedikit monoton maka televisi lokal mencoba untuk memperbaiki penampilannya seperti desain latar backdrop, penampilan si penyiar yang sedikit menghibur serta tema-tema yang sedikit hangat.

Program bahasa daerah ini pernah digarap di Trans TV, mungkin dikarenakan segment penontonnya kurang mendukung dari pemasaran maka televisi lokal mencoba untuk mengangkatnya dan sesuai dengan format lokalnya.

Format diregenerasikan merupakan bentuk format penyiaran yang telah ada, namun formatnya sedikit dirubah oleh televisi lokal. Atau bisa juga mengangkat kembali program-program televisi yang sebelumnya mati kini dihidupkan kembali oleh televisi lokal.

Lihat saja format wayang, TVRI sering menyiarkan format ini. Televisi lokal mencoba bagaimana mengubah format wayang tersebut agar sedikit berbeda dengan TVRI. Misalnya televisi lokal mencoba menghadirkan dalang dan pemusik karawitan dari warga negara asing, siaran langsung dari sejumlah perguruan tinggi serta penyiaran yang rutin. Bahkan program wayang kini sudah mampu dijual ke pihak pengiklan.

Ketiga Serupa tapi tak sama, masalah inilah yang berkaitan dengan identitas dan kredibilitas televisi lokal di Indonesia. Kalimat serupa tapi tak sama ini berhubungan dengan keberadaan televisi lokal yang memiliki program dan style yang tidak jauh beda dengan TV Jakarta. Banyak televisi-televisi lokal di Indonesia hanya menjiplak format dari televisi di Jakarta baik dari segi bahasa dan gaya penampilan. Lihat saja Jak-TV yang berdomisili di Jakarta, program-programnya sama persis dengan televisi “nasional” baik dari segi penampilan dan jenis programnya.

Kesamaan program dan penampilan memang harus mereka jalani karena harus bersaing dengan televisi “nasional: yang berdomisili di Jakarta. Apalagi televisi tersebut harus mengikuti arus trend metropolitan kehidupan masyarakat di Jakarta.  Jika tidak demikian maka instansi televisi tersebut akan kehilangan penonton dan pasar.

Namun bagaimana dengan televisi lokal di luar Jakarta? Apakah mereka harus mengikuti seperti televisi di Jakarta. Banyak demikian terjadi, bahkan sejumlah televisi lokal melakukan konvergensi dengan sejumlah televisi Jakarta seperti program berita dan program hiburan musik. Identitas lokal hanyalah sebuah label di instansi televisi tersebut agar dapat diterima di lingkungan masyarakat.

Sajian format televisi Jakarta yang diduplikat televisi lokal memang sedikit berbeda. Hal ini untuk menghindari image bahwa program tersebut sama persis seperti Televisi Jakarta. 

Hal yang perlu dipertanyakan, kemana eksistensi televisi lokal itu sendiri? Jika televisi lokal bermain di lingkup lokal dengan format Jakarta, maka dijamin televisi tersebut eksistensinya tidak akan lama. Selain mencontek format yang sudah ada maka televisi tersebut akan ditinggal oleh penontonnya. Jikalau TV Jakarta telah eksis dengan program-programnya, maka janganlah mencontoh program-program mereka, karena televisi tersebut akan menghadapi persaingan yang jauh dari televisi raksasa tersebut.

Saat ini sekitar 7 televisi lokal akan masuk ke Yogyakarta, dan sebagian televisi tersebut merupakan “peranakan” dari televisi Jakarta. Jika mereka berada di Yogyakarta sudah dipastikan bahwa tujuan utama pendirian televisi tersebut hanyalah sebagai bisnis, dan memperluas jaringan konverergensi sesuai dengan UU Penyiaran, Siarannya? Masih menjadi pertanyaan besar. Jikalaupun KPID tetap meloloskan televisi yang sebagian formatnya 70 persen berjaringan dengan Jakarta, maka keberadaan televisi lokal untuk memperkuat eksistensi lokal akan pudar.

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “TELEVISI LOKAL, BENARKAH BARU?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s