[Liputan Menuju Eksekusi Mati Amrozi Cs]

 on-copy

Hampir dua minggu lamanya saya bertugas di Cilacap tepatnya di Dermaga Wijaya Pura, satu-satunya dermaga yang mampu mengangkut semua kendaraan sepeda motor maupun transportasi lainnya untuk menuju Pulau Nusakambangan. Jarak antara Dermaga Wijaya pura dengan Pulau Nusakambangan hanya memakan waktu perjalanan sekitar 10 menit, menggunakan kapal Pengayom I milik Dephankam. Semenjak adanya kabar rencana eksekusi mati Amrozi, Imam samudra dan Ali Gufron alias Mukhlas, kapal tersebut cukup terkenal.  

 

Dermaga Wijaya Pura selama liputan eksekusi mati amrozi sebagai tempat mangkal semua media massa baik lokal, nasional dan internasional. Di tempat inilah semua media lalu lalang melakukan peliputan situasi dermaga maupun informasi lainnya terkait rencana eksekusi mati Amrozi Cs.

 

Mengapa mesti dermaga Wijaya Pura? Mungkin itulah yang sering ditanya masyarakat. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya bahwa di dermaga inilah sebagai tempat satu-satunya lalu lintas kendaraan besar maupun kecil. Artinya pihak kepolisian, tim regu tembak, kepolisian yang melakukan pengawasan di pulau nusakambangan serta akitivitas pengamanan lainnya menjelang eksekusi amrozi Cs, melintas dari dermaga ini. Meski demikian tim eksekutor baik kejaksaan melintas dari dermaga lain, yang bebas dari akses media seperti dermaga Pol Air dan dermaga Kopassus. Kalaupun dapat berarti media beruntung, kalau tidak dapat media akan kecolongan. 

grabbed-frame-1kawat1

 

Selama berada di dermaga banyak sekali duka yang dihadapi para media massa, meski duka tersebut tidak seberapa bagi mereka yang meliput di daerah perang ataupun Tsunami yang pernah saya alami tahun 2004 lalu di Aceh. Di tempat ini segala informasi terkait rencana eksekusi Amrozi Cs mengalami kesulitan, karena satupun pihak tidak ada yang bisa memberikan keterangan tentang rencana demi rencana. Mungkin ini semua rahasia inteligen dan operasional. Alhasil bagaimana? Semua mediapun menggunakan trik “menurut narasumber kami…menurut informan kami…” apalagi diperkuat dengan “menurut sumber informasi kami yang terpercaya…” Hasilnya? Semua media massa di dermaga tersebut ibarat dukun yang bisa menerka dan menebak, bagaimana informasi saat ini. Meski informasi yang mereka terima dari informannya tidak pernah benar…

 

Siapakah informan itu? Informan yang dimaksud selama liputan adalah mereka yang terkait dengan rencana eksekusi Amrozi Cs, seperti Sipir, Kejaksaan dan Kepolisian bahkan Masyarakat. Di lain sisi informan yang mereka maksud adalah diri mereka sendiri. Akibatnya dalam situasi seperti ini, si jurnalis kerap menjadi sumber informasi bagi dirinya karena memang tidak ada informasi yang dapat diperoleh di Dermaga tersebut. Apalagi akses informasi bagi jurnalis diputus oleh kepolisian, semenjak seluruh pekerja, masyarakat dan Sipir alat komunikasinya diamankan oleh pihak kepolisian.

 

grabbed-frame-6patroli12

Tidak hanya itu, detik-detik menuju eksekusi pada sore harinya, tim komunikasi Polda Jawa Tengah melakukan jummper (mematikan/mengacak sistem jaringan seluler) akhirnya semua media massa tidak dapat menerima atau melakukan panggilan melalui seluler, jika ingin melakukan panggilan harus keluar dari daerah dermaga. Tujuannya melakukan jummper ini untuk menghalau segala jaringan komunikasi, alhasil semua media massa tidak dapat melakukan komunikasi ke siapapun, dan sebagian mobil SNG televisi nasional terpaksa pindah keluar dari dermaga Wijaya Pura karena hilang sinyal jaringan HP dan satelit.

 

Kesimpangsiuran informasi di dermaga Wijaya Pura sudah terasa sejak adanya informasi rencana eksekusi mati Amrozi Cs, semua media massa beropini sendiri, mengeluarkan keputusan sendiri berdasarkan informasi yang mereka dapat. Media televisi yang biasanya berbicara melalui gambar kini berbicara melalui kata-kata tanpa penyesuaian lagi dengan gambar, hal ini sering dilakukan salah satu televisi nasional berwarna merah putih. Si reporter hampir setiap harinya memastikan bahwa eksekusi mati Amrozi Cs akan dilakukan malam hari ini juga…besoknya malam hari ini juga…dan besoknya diperkuat malam hari ini juga. Mendengar prediksi tersebut sudah dapat dipastikan tidak ada sumber informasi yang dipercaya dan tidak ada sumber informasi yang berkompeten menyampaikan itu.

 grabbed-frame-51dscn2212

Mendengar adanya kabar hampir setiap hari dikabarkan/dipastikan/ dimungkinkan eksekusi malam hari ini juga..semua media massa ikut kalang kabut menerima telepon dari Bos yang minta klarifikasi kebenaran informasi tersebut. Mendengar kabar bohong itu semua jurnalis terpaksa tidak bisa tidur setiap malamnya. Jika sudah melewati jam 3 subuh tidak ada kabar eksekusi, barulah si jurnalis dapat tidur tenang, karena patokan eksekusi jam 3 Subuh. Anehnya lagi ketika eksekusi tidak jadi malam itu, si reporter kembali meralatnya “bahwa menurut sumber informasi kami..eksekusi tidak jadi dilakukan pada malam hari ini” Mendengar informasi tersebut semua media ketawa mendengarnya.

 

Karena tidak adanya keseimbangan dan kebenaran informasi, munculah manipulasi berita yang dilakukan media. Kembali lagi ke televisi berwarnakan merah putih tersebut. Mulai dari jadwal eksekusi  yang mengada-ngada, kini mengenai manipulasi gambar. Kesalahan fatal yang dilakukan si televisi tersebut adalah, ketika memberitakan tentang “Koppasus Menyisiri Pulau Nusakambangan” Di gambar itu dimunculkan sekelompok marinir yang sedang mendayung perahu di pulau nusakambangan, berisikan  8 orang dengan berpakaian lengkap marinir.

 

Si reporter menjelaskan dan menekankan “secara tidak sengaja kami mendapatkan gambar” (kira-kira begitulah isinya) sekolompok anggota koppasus sedang menyisiri pulau nusakambangan untuk menjaga keamanan di sepanjang dermaga. Sentak semua media ketawa dan kecewa dengan pemberitaan tersebut, karena si jurnalis telah melakukan pembohongan publik yang sangat fatal. Mengapa? Karena marinin yang sedang mendayung tersebut adalah sekelompok marinin dan bukan koppasus. Mereka sedang melakukan latihan di sepanjang pulau nusakambangan dan tidak ada hubungannnya dengan keamanan terkait eksekusi Amrozi Cs. Apalagi dalam kata-kata disebutkan “secara tidak sengaja…”sementara marinir tersebut dapat dilihat dengan mata terbuka oleh wartawan dan masyarakat sekitar. Artinya tidak perlu menekankan dengan kata-kata “secara tidak sengaja…”

 

Saat itu juga kami dan sejumlah jurnalis lainnya langsung menghubungi komandan Koppasus untuk mengklarifikasi pemberitaan itu dengan menjelaskan, sejak kapan anggota Koppasus menjadi regu tembak Amrozi Cs. Saat bersamaan sang komandan juga mendapat teguran dari atasan terkait pemberitaan tersebut, apalagi pengambilan gambar yang memang tidak diijinkan. Langsung malam harinya komandan koppasus datang dan menegur si reporter E sewaktu jeda iklan. E..pun kembali meralat pemberitaannya sekitar pukul 12 malam.

 

Permainan duitpun mulai dilakukan sejumlah media untuk mendapatkan gambar yang  exclusive. Media mulai melakukan penyogokan kepada sejumlah sipir yang bertugas di Nusakambangan untuk mengambil gambar kondisi Amrozi Cs serta Helipad yang digunakan untuk mengangkut Amrozi Cs ketika telah dieksekusi. Pembayaran tersebut berkisar antara 2,5 Juta hingga 3 Juta rupiah (ntah sekali ngambil atau seterusnya). Sayangnya sebagian gambar yang dimunculkan adalah gambar terbaru dipadukan dengan gambar tahun lalu, sehingga visual exclusive yang didengungkan menjadi pertanyaan besar? Benarkan gambar terbaru atau gambar masa lalu?

 

Tidak itu saja banyaknya kesalahan pemberitaan yang dilakukan si merah putih tersebut, membuat produser telelvisi M dengan produser televisi  merah putih bertengkar pagi harinya. Si produser M langsung menegur presenter si merah putih dengan mengatakan berita yang disampaikan ibarat sebuah sinetron, pemberitaan yang tidak memiliki alur jelas dan kebohongan publik.

 

Malam hari tepat pada jadwal eksekusi 9 November 2008 pukul 00.00 WIB, Amrozi Cs pun di eksekusi. Pemberitaan tersebut terdengar dari kabar TV One yang disampaikan reporter Ecep. Mendengar kabar tersebut ntah darimana terdengar kabar bahwa sebagian Korban eksekusi akan dibawa ke bandar udara  Tunggul Wulung, Cilacap. Mendengar kabar itu saya dan kameraman beserta media lain langsung terjun ke bandar udara tersebut, dengan harapan fakta tewasnya Amrozi Cs dapat terbukti dengan jelas melalui gambar. Sebagian tim kita pertahankan di Dermaga untuk memantau perkembangan terkait sudah di eksekusinya Amrozi Cs.

 

[Media Tertipu oleh Agen Inteligen]

 

Sayang, pagi harinya kabar akan diangkutnya Imam Samudra melalui bandar udara tunggul Wulung masih jauh dari fakta, yang terdengar masilah kabar burung yang terdengar dari sejumlah Media Massa. Pukul 06.00 tibalah 2 Ambulance dari Nusakambangan menuju Dermaga Wijaya Pura. Sentak…semua media yang masih dalam keadaan lelah menunggu semalaman kabar telah dieksekusinya Amrozi Cs terbangun. Dengan segera para jurnalis memakai pakaian apa adanya menuju dermaga, mereka menuju dermaga dan mengambil gambar. Lagi-lagi harapannya, mendapatkan gambar fakta kebenaran eksekusi tersebut.

 

Ambulance tersebut berisikan sejumlah regu tembak dengan memakai cadar, selebihnya tidak kelihatan. Semua media mengabarkan bahwa yang di dalam ambulance adalah Imam  Samudra, karena Amrozi dan Ali Gufron/Muklas telah diangkut menggunakan Helikopter. Imam Samudra ini dikabarkan akan diangkut menggunakan helikopter jenis MI P5006 milik Polda Jateng, yang sudah berada di Tunggul Wulung.

 grabbed-frame-9grabbed-frame-4

Tidak lama kemudian kedua ambulance tersebut meluncur kencang keluar dari Dermaga Wijaya Pura melewati kru wartawan di lokasi tersebut. Keluarganya ambulance tersebut mediapun langsung menyiapkan kendaraannya masing-masing untuk mengejar ambulance tersebut menuju bandar udara. Kru yang berada di dermaga langsung menghubungi kita di bandar udara yang semalaman nginap di sana, bahwa ambulance sedang menuju dermaga.

 

Kita bersama media lain sudah bersedia di bandara menunggu kedatangan Ambulance. Namun setelah beberapa menit kemudian datanglah sejumlah Wartawan Dermaga Wijaya Pura menuju bandara. Setelah sampai mereka langsung menanyakan “Mana Ambulancenya….” kita dan wartawan lain bengong karena dari tadi tidak ada satupun ambulance yang sampai ke bandara.

 

Setelah beberapa menit kemudian, barulah kita diceritakan oleh salah satu Intel yang menjaga bandara tersebut, bahwa ambulance tersebut hanyalah akal-akalan untuk mengelabui wartawan, yang ketika itu dua buah helikopter melintas dari belakang pulau Nusakambangan. Datangnya ambulance tersebut juga dibarengi dengan keluarnya dua buah helikopter dari balik pulau nusakambangan, sehingga satupun media tidak melihat keluarnya helikopter tersebut. Hanya satu orang wartawan yang melihatny, itupun setelah heli hilang beberapa detik kemudian.

 

Bagaimana dengan dua buah helikopter yang berada di bandar udara? Itu juga sebagai skenario kepolisian untuk mengelabui media. Helikopter tersebut hanyalah sebagai alat transportasi untuk mengangkut sejumlah jaksa eksekutor atau polda kembali ke daerahnya masing-masing.

 

Selama melaksanakan liputan, memang sudah terasa bahwa pihak inteligen dan kepolisian sudah melakukan berbagai taktik pengamanan bagi media massa, agar selama proses pelaksaaan eksekusi, semua media massa tidak mendapatkan informasi sedikitpun. Memang kali ini kepolisian tidak bersahabat dengan wartawan, semuanya tutup mulut tanpa ada komentar. Yang ada hanyalah class action pihak kepolisian yang berjaga-jaga di sepanjang dermaga dengan menunjukan superior seorang aparat kepolisian.

 

[Suka Duka]

dsc_0077

Keresahan media massa selama meliput rencana eksekusi mati Amrozi Cs cukup melelahkan dipadu dengan luapan emosi wartawan. Kenapa? Karena media berfikir, kenapa sih hanya rencana eksekusi mati saja media dipersulit terutama dalam penyampaian informasi oleh pemerintah, apalagi mereka adalah teroris yang telah membunuh ratusan masyarakat di Bali.

 

Sehebat apa dan sepenting apa sih mereka, sehingga kami dan media harus menanti-nanti eksekusi yang tidak pasti. Jikalau pemerintah berani bersikap tegas, mungkin media massa tidak akan meluapkan perasaan emosinya. Jika saja pemerintah menentukan, bahwa besok adalah eksekusinya mungkin media tidak akan sesulit itu.    

 

Sembari menunggu kabar yang tidak pasti, wartawan mencoba mencari hiburan seperti jalan-jalan ke teluk Penyu sembari melihat objek wisata dan juga melihat kondisi laut, apakah ada sekelompok eksekutor melintas menuju nusa kambangan. Tidak itu saja Metro TV juga masih menyempatkan diri untuk bakar-bakar ikan di lingkungan dermaga bersama kru lainnya. Mencium aroma ikan bakar tersebut apalagi di tengah malam yang dingin, tentunya aroma tersebut mengundang rasa lapar.

 

Tidak itu saja, para jurnalis juga sempat diajak berjalan-jalan kepolisian dermaga mengitari laut lepas, dengan syarat tanpa kamera. Hal ini untuk menghindari pengambilan gambar di sepanjang pulau nusakambangan.  Ada lagi yang menarik adalah bermain kartu sesama jurnalis untuk menghilangkan kejenuhan. Sayangnya permintaan acara dangdut..tidak juga dikabulkan, apalagi permainan olah raga.

 

Mengitari kota Cilacap merupakan aktivitas sehari-hari untuk menghilangkan kejenuhan di dermaga. Mengitari kota Cilacap yang tidak begitu besar memberi manfat untuk refreshing mata dan melihat kehidupan lain dari dermaga. Cilacap memang kota yang tidak besar, jika kita kemana-mana pasti ujung-ujungnya sampai ke daerah itu juga.

 

Sayang…hiburan tersebut tidak seberapa dari rasa capek dan lelah yang dialami kalangan jurnalis. di saat informasi yang tidak jelas, kami dan para jurnalis rela tidur di dermaga beralaskan koran, tikar atau tanpa alas apapun hanya untuk menunggu kepastian yang tidak jelas. Dengan jam tidur sekitar 3 jam  selama dua minggu, membuat para jurnalis kelelahan, apalagi mereka harus dihadapkan dengan target pemberitaan setiap harinya.  

 

Teriknya sinar matahari tentunya membuat kulit-kulit para jurnalis yakin tidak ada yang mulus…Sepulang dari Dermaga dijamin,  satupun tidak ada wartawan yang memiliki kulit yang bagus setelah balik dari  dermaga. Sebanyak apapun sun block yang digunakan tentu tidak dapat mengalahkan teriknya sinar matahari. Apalagi jadwal mandi hanya sekali sehari, tentunya ini membuat seluruh tubuh tidak nyaman dalam beraktifitas. Namun apa boleh dibuat, demi menjalankan tugas semuanya dihalalkan. Kecuali bagi wartawan yang baru saja mampir ke dermaga Wijaya Pura.

 

Jika dihitung-hitung obat yang paling banyak dibeli selama di dermaga Wijaya Pura adalah obat diare. Hampir semua jurnalis bersama timnya mengalami sakit perut, hal ini disebabkan makan yang tidak teratur serta makanan yang tidak bersih. Hampir setiap menitnya “bilik termenung” gardu pandu bersebelahan dengan dermaga, selalu “dikunjungi” para jurnalis untuk mampir.

 

Tidak ada yang bisa dilakukan para jurnalis di tempat itu, selain berkhayal dan memimpikan kapan ingin pulang ke daerahnya masing-masing. Pekerjaan yang paling membosankan adalah, menanti kabar yang tidak pasti. Jurnalis hanya tampak bengong, duduk, ngobrol di warung, dermaga sambil melihat-lihat siapa saja yang melintas dari dermaga Wijaya Pura.  Penantian yang tidak pasti inilah kadang membuat para jurnalis resah..ntah apa yang harus mereka lakukan di sana. Isu yang berkembang menjadi kekuatan berita yang akan diterbitkan di sejumlah surat kabar, dan dikabarkan melalui radio. Bagaimana dengan televisi? Trik tersebut tidak dapat dilakuan, karena kami butuh gambar. No picture no news. Namun tidak semua televisi melakukan itu, kembali lagi ke televisi merah putih. Jika kita menonton televisi tersebut, janganlah lihat gambarnya..dengarkan saja apa yang dia katakan, karena hubungan gambar dan kata-kata tidak ada yang sama. 

 

Kebersamaan dari para Wartawan sangat jelas di Dermaga tersebut, karena mayoritas mahluk hidup yang berada di dermaga tersebut adalah para jurnalis dan pihak intel berpakaian preman. Namun komunitas para Intel ini jarang berkumpul dengan para jurnalis karena mereka harus menjaga kerasahiaan eksekusi. Hanya satu, dua saja intel yang mau memberikan informasi tersebut.

 

Kadang kebersamaan ini membuat pemberitaan para media menjadi “seragam” mulai isu yang berkembang hingga fakta jelas yang diperoleh di lapangan. Memang untuk bisa mendapatkan berita di dermaga tersebut, para jurnalis harus melakukan pendekatan sesama wartawan, karena informasi lebih dominan datang dari telinga ke telinga para jurnalis. Jika kita tidak gaul di tempat itu, jangan harap kita akan mendapatkan pemberitaan yang lebih lanjut untuk dimuat di surat kabarnya.

 

Selama pendekatan ini, banyak para jurnalis beralih profesi sementara, mulai menjadi  tukang urut gratyis, hingga menawarkan parfum isi ulang kepada para jurnalis, terutama yang tidak pernah mandi. Ternyata tawaran demi tawaran seperti itu sangat manjur dilakukan.

 

[Mengecewakan: Amrozi bagaikan Pahlawan]

Waktu pelaksanaan eksekusi Amrozi Cs semakin dekat. Berita-berita yang menyiarkan soal ketiga terpidana mati Bom Bali I itu juga semakin gencar. Menjelang pelaksanaan eksekusi mati tersebut, banyak media massa (dalam dan luarnegeri) sudah berkumpul di sekitar Cilacap dan kampung halaman para terpidana itu.

 

Berita mengenai eksekusi Amrozi Cs sangat menyita perhatian publik, khususnya keluarga korban Bom Bali I. Selama bertahun-tahun mereka menunggu dan berharap Amrozi Cs segera diekeskusi. Setelah Kejagung mengumumkan waktu pelaksanaan eksekusi tersebut, mereka sangat gembira bercampur cemas. Kecemasan mereka cukup beralasan, karena dari berita-berita yang beredar kelompok pendukung Amrozi Cs akan melakukan aksi balas dendam pasca dieksekusi mati.

 

Mengecewakan memang, setelah melakukan peliputan sekian minggu banyak masyarakat merasa iba terhadap Amrozi Cs. Bahkan media menganggapnya menjadi seorang pahlwanan yang dianggap membela kebenaran melalui Jihad.

 

Adanya superhero tersebut memang dirasakan sejumlah media massa terutama kritikan terhadap televisi merah putih itu. Pemberitaan yang dianggap terlalu over pemberitaan Amrozi Cs dengan menghadirkan keluarga dan sanak saudara membahas tentang rencana eksekusi .

 

Saya tidak berbicara banyak mengenai “Amrozi bagaikan Pahlawan” karena agenda setting yang dilakukan sejumlah media terutama televisi melangkah salah yang mengundang persepsi simpatik bagi media. Tentunga aksi bagaikan pahwalan ini, tidak terlepas dari peran Kejaksaan Agung yang tidak memiliki sikap tegas dan pihak yang tidak berani pegang omongan terhadap rencana eksekusi mati Amrozi Cs. Jikalau kejaksaan agung mengumkan bahwa eksekusi dilakukan antara tgl. 6-9, maka pemberitaan tersebut tidak akan sevulgar yang diberitaan saat itu.  

 

Media yang ingin menampilkan informasi exlusive tentang amrozi telah menghasilan persepsi yang salah. Karena masyarakat juga tidak menginginkan adanya informasi yang mendalam apalagi hingga mewawancarai sanak saudara/ keluarga dari Amrozi Cs.

 

Sadar tidak sadar media telah menejadikan dirinya sebagai public relation officer Amrozi Cs, kemudian Amrozi Cs ditampilkan setiap saat seolah-olah mereka adalah pahlawan. setiap tindak kejahatan seuharusnya tidak boleh mendapatkan manfaat dari penyiaran berita. Saat ini media justru melakukan sebaliknya, yakni memberikan manfaat penyiaran berita sebesar-besarnya kepada pelaku kejahatan.

 

Tidak itu saja kejanggalan lain yaitu, media di Australia (Radio ABC dan Sidney Morning Herald) banyak menyiarkan berita-berita mengenai adanya ancaman dari kelompok Amrozi Cs. Mereka mengutip surat elektronik tertanggal 22 Okotber 2008 berisi ancaman Amrozi Cs dalam satu laman yang tak disebutkan untuk mencegah publik mengaksesnya.

 

Dalam surat elektronik tersebut, salah seorang terpidana mati Bom Bali I, Imam Samudra menyatakan Barat dan para penghukumnya tak akan mendapat apa-apa dari tindakannya mengeksekusi mereka. Media massa Australia juga mengutipkan hasil wawancara antara Dan Rivers dari CNN dengan Amrozi cs, di mana Amrozi Cs mengingatkan warga Australia untuk jangan lagi mengunjungi Bali karena para pendukungnya tidak segan untuk mengulangi aksi mereka pada 2002.

 

Bukan hanya Amerika Serikat, Australia dan dunia Barat yang diancamnya, ketiga terpidana mati ini juga mengancam pejabat pemerintah Indonesia yaitu Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalatta dan para hakim yang mengadilinya.

 

Sangat disayangkan, berita-berita yang disiarkan media Australia tersebut. Tidak hanya di indonesia saja, banyak kalangan di negeri ini mengkritik pemberitaan ini. Mereka menyatakan keheranannya karena media massa begitu mudahnya memperoleh akses ke ketiga teroris itu sehingga mereka bisa menyampaikan hasutan dan ancaman ke tengah publik.

 

Semua tergantung dari media dan masyarakat menyikapinya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s