Pisowanan Agung

PISOWANAN AGUNG

“DIANTARA KEPENTINGAN DAN NURANI”

 

grabbed-frame-13

 

“Dengan mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dan dengan niat yang tulus memenuhi panggilan pada Ibu Pertiwi, dengan ini saya menyatakanan: Siap maju menjadi Presiden 2009….”

 

grabbed-frame-8

            Setelah Sri Sultan  Hamengkubuwono X selesai membacakan keputusannya tersaebut, ribuan masyarakat bersorak-sorai menyambut keputusan Sultan untuk maju menjadi Presiden 2009. Sultan menegasikan akan menjadi pemimpin masa depan dengan dasar Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

            Keputusan ini memang merupakan keputusan politik dan nurani, atas apa yang telah disampaikan Sri Sultan kepada masyarakat Yogyakarta. Keputusan Sri Sultan yang disampaikan sekitar 1 menit tersebut memang keputusan yang sudah tidak mengejutkan lagi bagi masyarakat. Kesediaan maju ke kancah nasional diungkapkan Sultan dalam pidato singkat di atas podium pada pisowanan agung, 28 Oktober 2008. Masyarakat mendukung penuh Sultan maju sebagai capres. Sultan juga memperkenalkan jargon kampanye “Apa bisa tahan?”

            Melihat perisitiwa Pisowanan Agung saat itu ada dua konteks yang menengarai Pisowanan Agung, diantaranya sebuah Kepentingan dan hati Nurani. Kepentingan dan hati nurani ini menyatu dalam sebuah pagelarang Pisowanan Ageng sejak 1998 silam. 

            Kepentingan yang dimaksud adalah trik politik yang dilakukan Sultan untuk maju pada pamor pemilihan Capres 2009. Pernyataan kesiapan itu hanyalah sebuah konspirasi politik yang sudah lama dipersiapkan oleh Sultan, karena tidak masuk akal jika Sultan belum memiliki kesiapan politik untuk pemilu 2009 apalagi keikutsertaan sultan pada awal reformasi 1998. Bagi sebagian kalangan pernyataan kesiapan Sultan untuk maju sebagai Capres mendatang sudah tidak mengejutkan lagi.

            Tapak-tapak kekuatan Sultan ini hadir secara perlahan-lahan melalui konsep budaya yang telah dibangunnya sejak lama. Mulai mendamaikan berbagai pihak yang terlibat dalam konflik, serta mengunjungi daerah-daerah transmigrasi yang sebagian besar penduduknya berasal dari pulau Jawa.

grabbed-frame-22grabbed-frame-27

            Bukan tidak mungkin rencana sebuah pisowanan ageng ini merupakan perpaduan antara budaya dan politik, apalagi Yogyakarta yang masih kental dengan kekuatan Kasultanan Ngayogyakarta. Kekuatan politik ini bisa dilakukan dengan melalui cara Pisowanan Ageng, sebuah cara bagaimana bisa menyatukan masyarakat memberikan suara bulat atas keinginan Sultan maju sebagai capres mendatang. Serta membuat konspirasi politik yang baru pertama sekali terjadi di Indonesia, masyarakat berkumpul untuk memberikan suara bulat mendukung Sultan sebagai capres.

            Tentu tidak semua masyarakat setuju atas keputusan Sultan, hanya saja suara yang tidak setuju ini terbendung dengan suara pro yang terkumpul dalam sebuah perisitiwa pisowanan agung. Mereka yang tidak setuju hanya bisa mendengarkan tanpa bisa memberikan arti yang mendalam terhadap keputusan Sultan.

            Mereka yang berdatangan dalam Pisowanan Agung tersebut, ternyata sebagian besar dibayar sekitar 5 ribu rupiah untuk datang ke Alun-alun utara oleh salah satu partai politik. Para warga yang diundang datang justru sebagian besar tidak mengetahui tujuan kedatangan mereka ke Alun-Alun. Mereka hanya dibayar dan disuruh datang ke alun-alun bersama rombongan. Fakta-fatak tersebut juga dipertegas dalam pemberitaan Harian Jawa Pos Radar Jogja, dalam pemberitaan tersebut warga dibayar salah satu parpol dan disuruh datang ke Alun-Alun utara tanpa mengetahui tujuannya.

            Ternyata masih ada juga partai politik yang masih memanfaatkan moment budaya ini untuk kepentingan politik. Segala celah dilakukan partai politik untuk bisa menarik simpatik masyarakat. Biasanya partai politik yang melakukan moment seperti itu adalah, partai politik yang ingin mencari ketenaran, namun memiliki pendukung yang sedikit, tidak ternama dan mencari tampang dari masyarakat sekitar.    

            Tujuan Sultan untuk maju ke tingkat pusat memiliki banyak dasar: mulai dari sosok dirinya seorang Sultan yang mampu memberikan panutan bagi banyak orang dan masyarakat, serta memiliki track record baik selama memimpin Pemerintahan DIY. Memang sepantasnya mereka yang terjun dalam kursi kepresidenan haruslah mereka yang pernah memimpin dalam kursi pemerintahan di Daerah, jika berhasil barulah mereka terjun ke tingkat pusat.   

            Taktik yang digunakan Sultan dalam Pisowanan Agung, yang isinya mengungkapkan dirinya bersedia maju dalam kursi presiden 2009 mendatang, cukup praktis dan menarik. Terlepas dari “sakral” nya Pisowanan Agung memang sudah bisa ditebak, bahwa tujuannya lebih kepada tujuan politis. Hanya untuk sekedar mengucapkan bersedia, tidak perlu beramai-ramai berkumpul di Alun-alun dengan menggelar berbagai acara, cukup diumumkan saja dalam sebuah media massa. Namun karena banyaknya “keinginan masyarakat” agar kesediannya maju atau tidak diumumkan dalam Pisowanan Agung, maka digelarlah Pisowanan itu.

Riak-riak akibat guncangan politik mulai mewarnai kehidupan masyarakat. Keguyuban yang biasanya diusung ketika memperjuangkan roh keistimewaan DIY, mulai menunjukan perpecahan. Kegelisahan ini mulai mengkritisi sejumlah paguyuban yang memeliki kepentingan tertentu dalam keistimewaan diy. Dulunya sejumlah paguyuban bersatu, kini terpecah belah. Dulunya konsisten terhadap penetapan, kini justru berbelok ke arah pemilihan. Banyak kritik sosial  terhadap gelaran pisowanan ageng 28 oktober, yang berisi pidato keputusan sultan terkait isu calon presiden.

 

surat-deklarasi

Kini Pisowanan telah berlalu, HB X telah menyatakan bersedia untuk maju pada capres 2009 mendatang. Akankah makna Pisowanan Agung akan berarti di kemudian hari, jika Sultan kalah dalam kursi politik. Akankah timbul sebuah konflik dan egoisme masyarakat, jika Sultan kalah? Ini akan menjadi pertanyaan besar di kemudian hari.

 Saya khawatir, jika Sultan kalah pada Pemilu 2009 mendatang, apalagi Keistimewaan DIY belum juga terselesaikan, akan timbul sebuah konflik dan bisa jadi DIY akan memisahkan diri dari Indonesia, segal sesuatnya bisa terjadi  

            Semoga mimpi tersebut tidak menjadi kenyataan, karena saya yakin bahwa masyarakat Yogyakarta memiliki pemikiran yang intelektual, yang mengerti akan sistem pemerintahan dan mengetahui keinginan masyarakat yang seutuhnya. Jangan sampai di kemudian hari akan menimbulkan sebuah perpecahan yang tidak berarti apa-apa.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s