Tuhan Itu Ada…

 “Pilihan Untuk Hidup”

Kisah Nyataku

 

 “bagi mereka yang ingin mengetahui tujuan sebuah kehidupan”

 

Kata-kata ini merupakan hal yang paling kurasakan selama perjalanan hidupku. Adakah tujuan hidupku? Adakah tujuan hidup kita…dan seberapa beruntung perjalanan hidup kita ini. Kadang aku merasakan sebenarnya mengapa saya masih hidup, dan mengapa kehidupanku seperti ini tanpa melihat keberuntungan atau tidak. Bagi masyarakat yang tidak mengetahui apa arti kehidupan yang dia jalankan, maka kehiduapn itu tidak berarti apa-apa bagi dirinya. 

 

Banyak masyarakat tidak menyadari bahwa sebuah kehidupan berasal dari sebuah rencana Yang Maha Kuasa, dan tidak mengetahui rencana hidup yang dia jalankan. Terlepas apakah kehidupannya tidak seberuntung orang lain, atau sebaliknya. Begitu juga terlepas dari miskin ataupun kaya.

 

TUJUAN HIDUP….

 

Pengalaman pribadi saya ini mungkin menjadi pelajaran dan pengalamian setiap orang, dan mungkin orang pernah merasakan seperti apa yang telah saya jalankan ini.

 

Tahun 1994, saya bersekolah di SMP Cinta Rakyat 2, Pematang Siantar. Saya masuk ke sekolah tersebut kelas dua, pindahan dari SMP Methodist Pematang Siantar. Tidak ada yang tahu bahwa apa tujuan saya masuk ke sekolah tersebut, dan tidak ada yang menonjol dalam perjalanan hidup saya waktu itu. Semuanya berjalan normal tanpa tanda-tanda.

 

Selama 3 tahun saya selalu berangkat dari rumah ke Sekolah menggunakan angkot GMSS jaya dan satu-satunya menuju kota. Angkot ini armada paling laris digunakan para pelajar, masyarakat dan pekerja. Karena angkot ini waktu itu  armadanya masih baru, bagus dan penuh nuansa musik. Hanya satu kekurangannya yaitu ugal-ugalan.

 

Setiap pagi saya selalu berangkat sendiri dan kadang bersama teman-teman menuju sekolah, sekitar pukul 7 pagi. Mau jam berapapun masuk, saya selalu berangkat pukul tujuh pagi dari rumah karena sudah kebiasaan berangkat pukul sekian. Namun saya harus berjalan sekitar 200 meter untuk menuju jalan, karena rumah berada di ujung gang.

 

Perjalanan menggunakan angkot sudah merupakan tradisi saya bersama teman-teman. Waktu SMP saya memang termasuk nakal ketika pulang sekolah..pasalnya setiap pulang sekolah saya bersama teman-teman selalu mengambil angkot yang sudah penuh dan “nggandul” beramai-ramai di atas angkot…pengalaman SMP yang tidak pernah terlupakan.  

 

Hanya itulah sepenggal cerita saya di waktu SMP

……..(berhubungan dengan cerita)

 

Tahun 1997, saya bersekolah di SMU Negeri 1 Siantar, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Sebuah sekolah negeri yang berada di Kabupaten Simalungun dan sekolah Negeri satu-satunya di kabupaten tersebut. Awalnya saya tidak ingin bersekolah di tempat ini, berbagai cara dilakukan agar saya bisa bersekolah kembali di kota, yang sebagian besar sekolah favorit di Pematang Siantar. Saya mencari-cari sekolah mana yang bisa menerima saya sesuai dengan tingkat NEM/ THB yang saya miliki. Namun sayang, satupun tidak ada yang lolos karena kalah di koma. Memang banyak para siswa berlomba-lomba bersekolah ke kota, karena memiliki kualitas pendidikan yang bagus, serta bergengsi.

 

Keinginan saya yang tidak kesampaian bersekolah di kota membawa saya sempat marah kepada TUHAN, karena belum diijinkan bersekolah di kota. Bahkan semenjak saya tidak masuk saya lemas dan bahkan tidak menerima semua kondisi tersebut.

 

Namun Dewi Fortuna belum berpihak kepada saya. Awalnya saya menerima masuk ke SMU Negeri 1 ini, karena sekolah ini bisa menjadi “sekolah lompatan” ke sekolah lain. Karena adanya iming-iming seperti itu sayapun menerima tawaran tersebut dan mendaftarkan diri. Sayapun melanjutkan perjalanan hidup saya bersekolah di tempat itu….

 

Awalnya saya tidak bersemangat bersekolah waktu SMU, bahkan mau tinggal kelas ataupun naik kelas, sudah tidak saya pedulikan lagi. Saya sudah merasa putus asa bersekolah di tempat itu. Namun perjuangan hidup bersekolah harus saya lakukan, demi melanjutkan perjuangan pendidikanku.

 

Kebiasaan buruk saya yang “nggandul” sepulang sekolah dan kebiasaan saya berangkat sekolah masih tetap saya lakukan ketika duduk di bangku SMU. Hingga keberangkatan pada pagi hari pukul 7. Biasanya saya berangkat menuju kota, namun sejak SMU beralih menuju kabupaten. Walau arahnya berbeda, namun suasananya sama ketika saya duduk di bangku SMU. Hiruk pikuk kendaraan yang lalu lalang dan sejumlah supir angkot GMSS ugal-ugalan pada pagi hari, sudah menjadi pemandangan biasa terjadi di tempat saya.

 

Kadang saya kangen ketika ingin menuju kota pada pagi hari..melihat suasana kota yang padat dengan keramaiannya. Kini beralih ke daerah yang penuh dengan perumahan dengan panorama alam yang masih hijau. Tidak ada bangunan gedung yang tinggi, yang ada hanyalah rumah, kehidupan masyarakat di Desa.

 

Memang situasi ini berubah total ketika saya bersekolah di kota waktu SMP. Namun saya masih tetap bisa menyesuaikannya, karena memang saya hidup di desa. Mendapat suasana baru memang sangat menyenangkan, termasuk tempat-tempat baru, yang bisa dijadikan tempat membolos..hahaha..

 

***[Namun di pertengahan catur wulan kedua pada kelas 1 SMU…situasi berubah, dan sangat berubah….]***

 

Saya tidak ingat tanggal dan bulan berapa peristiwa ini…

 

Pagi harinya saya ke sekolah dengan biasa tanpa suasana yang berubah dengan hiruk pikuk yang padat. Suasana lalu lalang kendaraan masih terasa waktu itu dengan segala kesibukan masyarakat, satupun tidak ada tanda-tanda alam yang terjadi waktu itu.

 

Tepat pukul 7 pagi saya berangkat ke sekolah dengan menaiki GMSS Jaya, jurusan Perumnas Batu IV. Ketika itu tepat dibelakang angkot saya adalah GMSS Jaya nomor BK 7581…, yang biasa saya naiki ketika duduk di bangku SMP. Kenangan waktu SMPpun teringat kembali, ketika saya menaiki angkot tersebut baik pergi maupun pulang sekolah.

 

Tapi apa mau dibuat, situasi sudah berubah…angkot tersebut menuju kota, sayapun melanjutkan menuju kabupaten. Ketika GMSS tersebut melintasi angkot yang saya tumpangi, saya masih sempat melihat angkot tersebut bersama isi penumpangnya yang sebagian besar sering bareng saya waktu SMP dan teman abang saya.

 

Secara cepat..angot tersebut melintas dan berpisah di pertigaan, dia belok ke kiri, angkot sayapun lurus. Sayapun tidak mendengar kabar angkot tersebut hingga saya sampai ke sekolah.

 

Sesampainya di sekolah, saya masih sempat berbincang-bincang dengan teman kelasku…berbincang tentang segala hal. Selang beberapa menit kemudian, datanglah teman saya tergesa-gesa masuk ke dalam kelas. Teman saya ini rumahnya di kota, namun sekolah di desa. Dengan wajah pucat dan berkeringat teman saya ini bercerita, bahwa ada dua buah angkot di karyawan (nama daerah) tabrakan, dan semua penumpang di dua kendaraan tersebut meninggal. Kalau tidak salah dalam satu angkot bisa menampung 8 penumpang, jika dua artinya 16 penumpang.

 

Sentak…saya terkejut mendengar cerita tersebut bersama teman-teman saya, dan cerita tersebut memang benar karena sudah tersebar di sekolah saya..dan menghebohkan. Apalagi lokasi peristiwa tersebut tidak jauh dari rumah dan daerah yang sering saya lintasi ketika waktu SMP.

 

Keterkejutan tersebutpun berhenti hingga menjelang siang karena kesibukan belajar dan mengajar. Namun pikiran saya tetap tidak tenang mendengar kabar tersebut.

 

Siang harinyapun saya pulang menuju rumah, dan di situ sudah ada abang dan kedua orangtua saya. Biasanya saya pulang selalu paling “belakang” kabar adanya tabrakan tersebutpun juga terdengar di lingkungan rumah dan luar rumah. Cerita tersebut sangat menghebohkan.

 

Tidak lama kemudian saya menyempatkan diri menyetel radio swasta yang berisikan lagu-lagu anak muda. Tidak lama kemudian radio tersebut juga mengabarkan bahwa dua buah angkutan GMSS Jaya tabrakan di “Karyawan” dan seluruh penumpangnya meninggal di tempat dan sebagiannya rumah sakit. Hanya satu orang supir angkut yang selamat.

 

Sayapun mendengar lanjutan berita tersebut…dikabarkan bahwa jenis angkutan GMSS Jaya yang tabrakan itu, salah satunya berplat BK 7581…

….

….

….

Mendengar kabar tersebut, saya terkejut “setengah mati” bahkan tidak bisa berkata-kata apapun tentang kejadian itu, selain hilang rasa dan pikiran kosong. Pasalnya angkot  tersebut  adalah angkutan yang sering saya naiki. Apalagi waktu peristiwanya sekitar pukul 7.15 WIB, berarti tepat jam kebiasaan saya berangkat ke sekolah waktu SMP. Dan berketepatan juga, angkot itu melintas di belakang angkot saya pagi tadi.

 

Setelah mendengar kabar itu, sayapun terdiam, sedih dan tercengang….Sedih. Karena mengapa peristiwa itu harus terjadi, mengapa hingga memakan korban jiwa dan seakan tidak percaya.

 

Sayapun tidak mengatakan diri saya beruntung, namun saya mendapat arti sebuah kehidupan dalam peristiwa tersebut, saya mendapat arti rencana sebuah kehidupan yang saya jalani waktu itu, termasuk mengatasi hawa nafsu yang saya hadapi untuk bisa masuk ke SMU di kota.

 

Jikalau saya mengambil sekolah di Kota dan memaksakan akan mengambil sekolah di Kota, mungkin saja hidup saya tidak akan sepanjang saat ini, dan mungkin saja saya ikut dalam peristiwa maut tersebut. Saya tidak bisa memastikan jikalau saya bisa saja terjadi ikut dalam perisitiwa itu jika bersekolah di kota. Namun berdasarkan kehidupan nyata dan keseharian yang saya jalani, kedekatan kemungkinan itu kuat bisa terjadi.

 

Sejak perisitiwa itu TUHAN ternyata memiliki rencana untuk kehidupan manusia, TUHANlah yang mengatur kehidupan, karena belum waktunya saya dipanggil saat itu. Namun kita tidak akan mengetahui kapan TUHAN akan memanggil kita.

 

Mungkin ada rencana lain yang kita jalankan hingga saat ini, beruntung atau tidak beruntung, kaya ataupun miskin semuanya itu adalah rencana Yang Maha Kuasa. Dengan mengambil hikmat dari cerita nyata yang saya alami ini akan mampu mengajak semua orang, bahwa kita harus berfikir dan mensyukuri atas kehidupan yang kita jalani saat ini. Banyak tantangan dan hambatan yang kita jalani dalam kehidupan ini, sebagai tanda bahwa kita harus tetap mengingat pada Yang Kuasa.

 

Ingatlah, bahwa perisitiwa atau perjalanan hidup yang kita jalani saat ini…semuanya memiliki makna dan tujuan tertentu? Jika kita belum berhasil tentunya itu ada tujuan, jikalau kita belum beruntung dari orang lain, tentunya itu ada tujuan. Hanya saja kita harus merasakan langkah demi langkah tujuan hidup yang kita jalani saat ini. Di saat kita bangun pada pagi hari, baiknya kita mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa, bahwa kita masih diberi kesempatan untuk hidup. Di Saat kita masih hidup, kita harus hati-hati untuk melangkah. Berbuatlah yang terbaik bagi orang lain selagi kita masih Hidup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s