Negara Kecil dalam Kereta Lokomotif

“Nasi ayam…nasi ayam, nasi telor…nasi telor…”

 

 suasana_ka_ekonomi_serpong

Bagi anda yang sering menaiki kereta api ekonomi  jurusan Yogyakarta-Jakarta atau jurusan manapun pasti sudah sering mendengar kata-kata di atas, dengan membawa sebuah keranjang dan menawarkan minuman dan barang-barang lainnya, para pedagang tersebut akan menemani anda selama perjalanan menuju kota yang akan anda tuju.

 

Memang fenomena ini sudah biasa dan tidak ada sebuah yang istimewa untuk diteliti. Namun jika kita merasakan adanya keberadaan mereka kita dapat membayangkan bahwa ada negara kecil dalam sebuah kereta lokomotif. Di situ ada perekonomian, di situ ada kehidupan, dan di situ jugalah muncul “kekeluargaan” sementara, karena keberadaanya yang hanya beberapa jam, setelah itu akan berganti.

 

Karena saya ingin melihat fenomena yang menarik dalam sebuah kereta ekonomi, saya mencoba melakukan penelitian selama perjalanan menaiki kereta ekonomi Yogyakarta-Jakarta dan sebaliknya. Selama saya melakukan survey, saya sempat berbicara dengan sejumlah pedagang dan ketika saya menaiki kereta ekonomi di kemudian hari, saya sudah kenal dengan mereka.

 

Survey ini hanya iseng-iseng saja, tidak ada sebuah penelitian khusus baik metode penelitian maupun konsep penelitian. Namun saya memiliki teori dan kaidah survey yang biasa saya lakukan di tempat saya bekerja. “Sambil menyelam minum air, sambil jalan-jalan saya melakukan survey. Sambil jalan-jalan hemat ongkos sayapun naik kereta ekonomi. Cukup membayar Rp.38.000, anda sudah bisa sampai ke Jakarta” Mungkin itu prinsip saya

 

Kata “Negara kecil dalam Kereta Lokomotif” ini terinspirasi dari sejumlah pedagang asongan di kereta ekonomi Progo, jurusan  Yogyakarta-Jakarta. Dari ungkapan yang serupa tapi tak sama namun mereka memiliki prinsip kehidupan yang sama yaitu ingin hidup di luar kehidupan saat ini.

 

Sistem kerakatan para penumpang dan hirup pikuk keramaian penumpang dan pedagang berkumpul dalam sebuah gerbong. Segala aktivitas ngobrol, transaksi perdagangan dan tidur ada di gerbong tersebut. Awalnya mereka tidak kenal satu sama lain, namun ketika mereka sudah duduk dalam satu gerbong dan duduk bersamaan di kursi yang sama, telah membawa keakraban antar penumpang.

  

Seandainya Pak SBY naik kereta Ekonomi

Dari sejumlah pedagang asongan mengungkapkan bahwa mereka tidak mengetahui kehidupan di luar sana, mereka hanya mengetahui tentang kehidupan di sebuah gerbong kereta. Mereka tidak mengetahui bagaimana situasi di luar sana, baik perekonomian dan kehidupan masyarakat. Mereka lebih mengetahui bagaimana kehidupan di gerbong kereta, mereka hanya tahu bahwa mereka hidup dalam sebuah negara kecil yang memiliki sistem perekonomian, pemimpin dan tatanan kehidupan masyarakat. Mereka berada dalam sebuah negara di dalam negara. Mereka tidak menghasilkan uang dari luar, namun mereka mendapatkan uang dari lokomotif sebuah kereta. Mereka tidak mengenal siapa menteri keuangan, dan mereka tidak mau tahu apa yang dilakukan presiden SBY, karena mereka tidak pernah melihat Presiden SBY atau menteri menaiki kereta ekonomi.

 

Hal yang menggelitik adalah ketika para penjual makanan itu menanyakan

 

“kapan ya Pak SBY mengunjungi negara kecil kita ini?” Kita ingin sekali pak SBY tuh naik dan merasakan negara kecil kita ini, diluar kehidupan yang enak di luar sana. Seharusnya pasti bisa mas “wong pak SBY saja pernah tidur di gunung  merapi waktu erupsi merapi tuh, di tenda lagi…”

  

Sistem perekonomian yang berjalan di lokomotif ini berasal dari sistem transaksi antara pedagang dengan penumpang, mulai sore hingga pagi hari sistem transaksi masih terus terjadi. Tentunya membuat ketenangan penumpang sedikit terganggu akibat hirup pikuk suara di lokomotif ekonomi.

 

Para pedagang ini adalah sekelompok penduduk yang setia menemani para penumpang dalam melakukan perjalanan. Kadang keberadaan mereka tidak diperhatikan para penumpang atau diolok karena menganggu para penduduk yang sedang beristirahat. Sementara para pedagang ini bersusah payah untuk menjajakan dagangan mereka demi memenuhi kebutuhan keluarga dan dirinya sendiri. Tentunya ini menjadi pelajaran bagi penumpang

 

Kehidupan “penduduk” di sebuah kereta seperti sebuah roda kehidupan yang berputar sesuai dengan jadwal kereta. Jika sampai ke kota tujuan “penduduk” itu akan berganti, namun yang tidak berganti adalah para pedagang asongan di tempat itu.  

 

Mengapa ada negara kecil ? ternyata kehidupan para pedagang asongan ini tidak hanya berjalan di situ-situ saja, mereka mampu meningkatkan taraf penjualan dan perekonomian mereka. Bahkan ada sejumlah pedagang asongan yang dulunya hanya berjualan makanan kecil kini  sudah mampu berjualan lebih besar lagi seperti minuman meski di lingkup kerete saja. Bahkan dari sebagian pedagang asongan, ada yang telah menyekolahkan anaknya hingga lulus SMU dan telah bekerja.

Tidak itu saja dari pedagang asongan tersebut sudah ada sebagian telah mendirikan usaha kelontong di daerah Cirebon. Semuanya mereka kumpulkan dari hasil jerih payah yang mereka lakukan selama berjualan di dalam kereta, tentunya mereka lakukan dengan tekun dan penuh senyuman.

 

Hal yang paling mengagumkan adalah, dari sekian banyak pedagang asongan tersebut ada yang telah berhasil menjadi Manager/ Supervisor. Keberhasilan tersebut mereka peroleh dari rasa keberanian mereka menjual dagangannya ke para penumpang tanpa rasa malu, dan bernegosiasi dengan penumpang beberapa kali agar dagangannya laku terjual. Dari keberanian itulah mereka beralih menjadi seorang tenaga salesmen alat-alat rumah tangga dan perkantoran, hingga akhirnya mampu menjadi seorang Manager/ Supervisor.

 

Mengapa mereka memilih berjualan di kereta api ekonomi? Ada beberapa alasan diantaranya: broken home, sebagian pedagang memiliki permasalahan di lingkungan keluarganya hingga melarikan diri dari rumahnya karena tidak mampu menafkahi keluarganya, sementara adik-adiknya bekerja dan sudah mampu mencari penghasilan. Selain itu masalah perekonomian, sebagian besar para penjual asongan ini melakukan pekerjaan tersebut karena tidak memiliki pilihan lain. Mereka tidak mau hidup dari pengangguran saja, mereka ingin bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ketiga, sekedar iseng. Awalnya para penjual ini hanya ikut teman-temannya untuk berjualan dan karena senang berkelana kemana saja akhirnya mereka menjadi pedagang di kereta tersebut.

 

Namun tidak semuanya pedagang asongan memiliki niat baik untuk berjualan. Bagi para penumpang jurusan Purwokerto – Cirebon, berhati-hati terhadap barang-barangnya. Karena sebagian pedagang, pengamen asongan kereta jurusan Purwokerto-Cirebon dari kereta progo Yogyakarta, adalah “banditnya”  meski tidak semua, namun para pengamen jurusan tersebut kerap melakukan kekerasan dan pencurian terhadap barang sejumlah penumpang. Dua kali saya melakukan survey di kereta ekonomi tersebut, kelompok tersebut sekian kali melakukan pemalakan terhadap penumpang. Bahkan saya sudah mengenal dan berhasil memoto para pengamen tersebut.

 

Sejumlah pengamen dan pedagang ini sudah bekerja sama, terutama untuk melakukan pencurian di gerbong tersebut. Biasanya para pengamen ini kerap melakukan pemalakan atau pemaksaan kepada penumpang untuk memberikan uang kepada pengamen ini. Bahkan ketika penumpang sudah tertidur lelap, mereka kerap memaksa dengan membangunkan penumpang. Bahkan jika diberikan hanya 100 rupiah para pengamen nakal ini memaksa untuk meminta lebih. Biasanya komplotan ini mengamen secara berkelompok terdiri dari 3 orang atau lebih, dengan ciri berbadan besar dan berusia sekitar 30 tahun ke atas.  

 

Kini tiket kereta api sudah naik, sayangnya fasilitas dan kenyamanan dari penumpang belum juga terjawab. Seandainya naiknya tiket harga kereta api dibarengi dengan perbaikan fasilitas yang memadai, tentunya negara kecil tersebut tidak akan separah dengan kondisi saat ini. Pemerintah harus mengetahui bahwa selain kehidupan di luar sana masih ada kehidupan lain di atas gerbong kereta.

2 thoughts on “

  1. Awalnya bagus bro, tapi tiba2 terakhirnya terjadi gejolak resesi ekonomi kali ya😉 sehingga “pemerintahannya” (petugas station KA, Red) tidak sempat ikut diceritakan… Boleh tuh untuk bagian 2 nya. Di tunggu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s