Harga Diri vs Kebutuhan Pokok

Jika anda warga Negara Indonesia tentu merasakan bahwa semua harga-harga kebutuhan pokok serba naik seperti Sembako. Naiknya kebutuhan harga kebutuhan pokok ini telah berpengaruh terhadap harga-harga kebutuhan lainnya seperti Minyak tanah, Gas elpiji, dan kebutuhan non pokok lainnya. Selain kebutuhan pokok semua harga kebutuhan lainnya ikut-ikutan naik, karena semuanya tidak mau ketinggalan harga. Alasan naiknyapun beragam, mulai dari penyesuain harga hingga untuk memenuhi kebutuhan hidup serta alasan lebih luas yaitu krisis global.

 

Bila dipikir-pikir masyarakat menjadi bingung kog semuanya jadi ikut naik, apa sih yang tidak naik? Atau adakah harga yang bisa turun di saat situasi seperti ini. Tentunya jawabannya itu pasti  dan dijamin harga tersebut turun. Taukah kita bahwa yang turun itu adalah harga diri.

 

Turunnya harga diri dan naiknya harga kebutuhan ini saling bersaing dalam versinya masing-masing dan keduanya saling berpengaruh. Naiknya harga bahan pokok telah membuat harga diri di Negara ini menjadi turun. Di saat harga kebutuhan pokok masih dapat diatasi dengan segala trik dari sistem perekonomian namun persoalan harga diri masih belum dapat terselesaikan dengan baik. Pemerintah dan masyarakat boleh sibuk ria bagaimana mengatasi naiknya kebutuhan pokok agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan perekonomian masyarakat. Bahkan pemerintah dan masyarakat langsung merespon cepat bagaimana mengatasi krisis ekonomi tersebut.

 

Lihat saja jika BBM akan naik, pemerintah mengambil langkah cepat dengan mengurangi pasokan premium, sementara seluruh masyarakat di Indonesia antri untuk membeli BBM sebanyak-banyaknya sebelum BBM naik, sementara pihak SPBU membatasi penjualan agar tidak rugi.  Sementara untuk mengatasi naiknya harga kebutuhan pokok, para pedagangpun mengambil langkah ikut menaikan harga kebutuhan lainnya untuk dapat menyeimbangkan naiknya kebutuhan. Semua pihak bisa menjadi Unit Reaksi Cepat untuk mengatasi harga kebutuhan pokok.

 

Namun sayang, ketika semuanya naik yang turun hanyalah harga diri. Ketika kebutuhan naik harga diri  semakin diperas dan dijatuhkan. Mengapa ketika harga diri turun, masyarakat atau pemerintah tidak mau merespon? Bahkan bersifat dingin, dan tidak ada yang mampu bersikap seperti Unit Reaksi Cepat, seperti masyarakat dan pemerintah mengambil langkah mengatasi kebutuhan pokok dan non pokok.

 

Masyarakat lebih penting merespon naiknya harga kebutuhan pokok sekitar 1.500 maupun BBM yang dulu 4500-6000. Respon tersebut seperti kebakaran jenggot, hingga melakukan penimbunan BBM meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Namun ketika harga diri yang tak ternilai harganya justru dibiarkan begitu saja tanpa ada penyelesaian bersama.

 

Lihat saja naiknya kebutuhan pokok membuat kemiskinan semakin merajalela. Status perekonomian masyarakat tidak ada yang sama. Jika kalangan menengah ke atas masih mampu memenuhi kebutuhan pokoknya tidak menjadi masalah. Bagaimana dengan kaum fakir miskin yang hanya memiliki uang terbatas, bahkan untuk memenuhi kebutuhannya masih belum mampu.

 

Tidak itu saja, di saat naiknya harga kebutuhan pokok…turunnya harga diri semakin merajalela. Pertikaian antar warga dengan alasan SARA kini terjadi di Maluku, NTT dan daerah-daerah Timur lainnya. Bahkan pertikaian tersebut telah menimbulkan banyak korban nyawa dan harta. Apa yang dilakukan pihak kepolisian hanyalah menurunkan pleton sebanyak-banyaknya tanpa ada penyelesaian masalah tanpa gencatan senjata. Mungkin dengan menurunkan pleton sebanyak-banyaknya akan dapat mengatasi pertikaian tersebut. 

 

Masyarakat? Sangat disayangkan…tidak ada niat dari masyarakat Indonesia untuk menyerukan perdamaian secara bersama-sama dan menaikan harga diri dari masyarakat yang menjadi korban pertikaian. Hanya segelintir kelompok saja yang ingin menyerukan perdamaian. Namun himbauan tersebut tidak pernah didengarkan dan disuarakan seperti menyuarakan naiknya harga BBM dan kebutuhan pokok.

 

Mengapa tidak ada niat masyarakat secara umum menyuarakan sebuah perdamaian. Mungkin masyarakat kita terlalu sibuk memikirkan perekonomian yang semakin sulit, kemiskinan yang semakin bertambah, biaya pendidikan yang semakin tinggi. Mahasiswa sibuk bentrok dengan sesama mahasiswa. Sehingga boro-boro memikirkan pertikaian di daerah Maluku dan daerah lain 

 

Inilah yang membuat harga diri manusia tidak dapat dinaikan seiring kenaikan naiknya harga kebutuhan pokok, karena memiliki versinya masing-masing dan tidak saling mempedulikan antara sesama manusia. Memang begitulah sifat manusia, di saat masalah tersebut berhubungan dengan dirinya maka masyarakat akan meresponnya dengan cepat. Namun jika tidak ada berhubungan dengan dirinya sendiri maka manusia tersebut tidak akan meresponnya,

 

Naiknya kebutuhan pokok harga diri menjadi turun. Pelanggaran HAM masih terjadi dimana-mana, kekerasan dan perdagangan anak dan wanita masih terus berjalan-jalan. Lagi-lagi pemerintah belum mengatasinya, dan lagi-lagi pemerintah mengambil langkah yang belum bermanfaat bagi semua orang. Negara Indonesia telah merativikasi sejumlah UU berkaitan tentang HAM, baik diskriminatif dan perdagangan namun masih belum mampu mengatasi kasus tersebut.

 

Sudah turunkah harga diri anda? Jikalau belum bantulah masyarakat yang harga dirinya terinjak dan direndahkan. Hidup saling berdampingan dan saling tolong menolong adalah salah satu cara untuk membangkitkan harga diri manusia. Namun jika anda juga tidak mau….ya begitulah Manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s