“Stressaholic”

Ah…ini mah julukan dari aku saja, “Stressaholic” itu julukan orang yang ‘doyan’ stress. Maklum begitu banyaknya pekerjaan sehingga sampai-sampai membuat rambut rontok, jidat keriput, pikiran no connection. Minggu lalu bos saya baru datang dari Singapore dan membeli sebuah buku berjudul Managing Stress. Tujuannya sih memang karena minggu depan akan ada pelatihan stress management.
“Simple, fresh n menarik” itu yang saya tangkap dari buku ini. Belum sampai ke halaman dua, pandangan saya tertuju pada sebuah kertas dan tester yang ditempelkan pada sebuah bungkus plastik kecil. Tahu-tahunya itu adalah tester untuk menguji apakah seseorang mengalami stress atau tidak. Tingkat stress akan diketahui dari warna yang muncul dari tester tersebut, semakin warnanya pekat akan menunjukan bahwa seseorang tersebut memiliki tingkat stress yang tinggi…

namun semakin warnanya biru, tingkat stressnya rendah (normal). Awalnya saya tidak percaya, namun saya coba di tangan saya, wah warnanya pekat itu artinya saya lagi stress. Lalu dicoba ditangan teman saya, ternyata dia tidak stress (betul) wong kerjaanya juga blum banyak.

Ini nih covernya “Managing Stress” dari tampilannya sudah kelihatan unik, dengan warna dominan kuning dan putih, membuat tampilan buku ini menarik untuk dilihat dan dibaca.

ini “dalamannya” alat tester ini sudah ditaruh di dalam buku bersama keterangannya, siapapun yang melihat tentunya sudah bisa menebak apa fungsi benda ini

Tester awalnya digenggam dalam waktu sekitar 5 detik. Biarkan tester tersebut akan membaca suhu tingkat stress seseorang…

Test pertama hasilnya Biru, artinya tingkat stressnya rendah (normal) atau tidak mengalami stress. Hasilnya pun baik.

Test kedua dengan orang yang berbeda, menunjukan tingkat stress sedikit lebih tinggi dari yang pertama. Namun masih dianggap normal karena belum mencapai warna coklat atau hitam pekat.

Jadi, yang manakah tangan saya?

5 thoughts on ““Stressaholic”

  1. Wahh …. ini alat hebat banget ya … Tapi seberapa besar akurasinya? Kalo orangnya lagi sakit panas / demam, apa dia termasuk stress? Suhu luar tubuh apa nggak diperhitungkan? Misalnya musim dingin atau panas? Kalo bang poltak, pasti hasilnya stress mulu … lihat aja jidatnya .. wooowww … silau man! wkwkwkkwk … piss ah bang !

    1. Hm akurasinya sebesar dia mempercayainya atau tidak dan mengetahui apakah dia benar-benar lagi dalam keadaan stresa atau tidak dan dicocokan saja dengan hasilnya. Wah kalau sakit ntar aku tanya sama dokter stress dah, hahaha…jidat tuh gara2 terlalu kesenangan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s