Mereka hanya beribadah dengan Cara Berbeda

“Mereka hanya beribadah dengan Cara Berbeda”

“Sampai kapan pemerintah membiarkan penganut Ahmadiyah diperlakukan seperti buruan? Sudah puluhan kali rumah dan masjid mereka dibakar dan tragedi di Cikeusik belum lama ini semakin membuat kita prihatin. Penyerang kini tidak hanya membakar, tapi juga membunuh tiga anggota Ahmadiyah……”

Kita akan mempertahankan kemerdekaan kita, kebebasan kita. Atas dasar Kebangsaan! Satu Bangsa, Satu Bahasa, Satu Budaya, Satu Tanah Air-Indonesia. Kita tidak akan membiarkan “dasar” itu diganggu oleh siapa saja atas nama agama dan kepercayaan.

Bila kita tidak waspada, tidak berhati-hati, apa yang pernah terjadi di Timur Tengah sana bisa terjadi di sini. Menggunakan “Senjata Demokrasi Barat” seseorang yang mengaku dirinya  Menggunakan “Senjata Demokrasi Barat” seseorang yang mengaku dirinya “ahli agama” naik tahkta dan yang dilakukannya pertama adalah menyingkirkan, membunuh setiap orang yang pernah membantunya. Cara dia berpikir barangkali sangat sederhana “Bila mereka dapat menghianati majikan lamanya, mereka juga dapat menghianati majikan baru!” Hingga hari ini hak-hak rakyatnya disandera oleh sekelompok “ahli agama”, dan atas nama agama-tentunya agama sebagaimana mereka tafsirkan. Anda tahu persis siapa yang kumaksud. Membunuh bukanlah tindakan yang baik, tetapi “tepat” bila dilakukan oleh seorang prajurit di medan pertempuran, demi keselamatan bangsanya.

Semakin muda mereka dibentuk, semakin kuat pola tersebut mencengkeram diri mereka. Para pelaku kekerasan tidak sadar bahwa panggilan suci mereka adalah panggilan ‘mindset’ yang sengaja dibentuk oleh para pencetak pelaku kekerasan. Para pelaku merasa berjalan menapaki jalan suci, padahal mereka korban pembentukan mind-set, mereka menjadi budak dari pikiran bawah sadar yang telah terbentuk sejak kecil.

Terorisme lahir dari kekerasan, dan kekerasan adalah ciri khas kesadaran rendah, kesadaran hewani, kesadaran lymbic. Terorisme atau kekerasan adalah sifat hewani yang tersisa di dalam diri manusia. Bila tidak diolah dan diubah menjadi kasih dan kelembutan, sia-sialah wujud manusia pemberian semesta kepada kita. Kita lahir dengan potensi sebagai manusia, tetapi kita tak pernah menjadi manusia bila potensi tersebut tidak dikembangkan. Mereka yang baru menyadari kekasaran diri tidak dapat menghargai kelembutan. Hanya mereka yang telah menemukan kelembutan diri akan menghargai nyanyian, tarian, kesenian, menghargai kebudayaan.

Karena manipulasi pikiran, ada sebagian dari masyarakat kita yang merasa memperoleh mandat dari Yang Maha Kuasa untuk merusak apa saja yang mereka tidak suka. Merusak atas nama, kepercayaan, dogma, doktrin, dan peraturan-peraturan menurut pemahaman mereka. Dan “majority yang silent”, membuat negara kita semakin parah. Janganlah kita melakukan kekerasan, tetapi jangan pula membiarkan kekerasan terjadi pada diri kita. Itu bukan “Non Violence”, itu bukan “Ahimsa”. Menolak kekerasan berarti menolak segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan yang ditujukan kepada kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s