Benarkah Engkau Menangis?

SBY menangis menonton film Ayat-Ayat Cinta. Saya belum dengar Presiden menangis ketika Konstitusi dan Pancasila diinjak-injak; Masjid Ahmadiyah dibakar, hak manusia dan rakyat untuk memeluk agama diancam, dan Indonesia yang bhinneka tunggal ika hendak dikuburkan.

Dua kalimat cukup panjang itu disampaikan melalui SMS yang lazimnya singkat, bahkan sering dipaksakan amat singkat hingga harus mengamputasi kewajaran tiap kata. Tapi dua kalimat itu datang dengan pesan yang benderang, tanpa disingkat, seolah tak hendak ada makna dikebiri. Dan pesan itu datang tepat ketika kita dihantui kecemasan, meski peristiwa menangis tersebut terjadi tahun 2009 silam.

Bagi yang masih ingat, di layar kaca, Mr. Presiden yang senantiasa ingin tampak berwibawa itu menangis ketika menonton Ayat-Ayat Cinta. Air mata itu, barangkali karena bergulir dari indera penglihatan seorang presiden di tengah eforia atas kelahiran satu produk budaya pop, seolah mengandung banyak tafsir. Air mata itu seolah bukan sekadar wujud keharuan yang tulus, tanda suka cita atas keberhasilan sekelompok warga yang berkarya, melainkan sebuah ekspresi yang dibaliknya tersembunyi semacam kalkulasi politis.

Sebagai seorang politikus, Presiden barangkali sadar bahwa curah air mata untuk serangkaian adegan melodrama dalam sebuah film dengan klaim “memberi pencerahan” lantaran dianggap menyuarakan norma-norma agama tertentu, bisa mendatangkan simpati massa. Barangkali ia juga sadar bahwa, sebaliknya jika ia menangis untuk para pemeluk Ahmadiyah yang jadi korban kekerasan, dan disesatkan, ia bisa kehilangan dukungan massa.

Seiring dalam doa “semoa negeri ni seger punya presiden yang tak hanya ingin sekedar tampak, melainkan bisa sungguh-sungguh berwibawa. Bukan karena penampilannya yang gagah, bukan ula karena wajah yang seolah terus berfikir sehingga tak sempat tersenyum, melainkan karena ketegasan, keberanian, kebijakan, dan keberpihakannya pada rakyat yang memberinya mandat. Negara bukan panggung sandiwara, Rakyat tidak butuh presiden yang mahir berpura-pura. (Shr)

One thought on “Benarkah Engkau Menangis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s