Mendidik Dengan Kapur Tulis

MENDIDIK DENGAN KAPUR TULIS

Masih ingatkah kita ketika  duduk di bangku sekolah , guru kita masih menggunakan alat tulis mengajar dari kapur tulis. Budaya kapur tulis di sejumlah daerah mungkin masih sering digunakan, terutama di pedesaaan. Dulunya kapur tulis masih menjadi alat unggulan bagi guru untuk mengajar.

Kapur tulis adalah alat tulis sederhana yang masih efektif digunakan seorang guru dalam mengajar hingga kini. Biasanya ketika hendak masuk ke dalam ruangan untuk mengajar, sebatang kapur atau lebih sudah ada di tangan sang guru yang dibawa dari kantor bersama penghapus untuk mengajar. Dengan bentuknya  sepanjang jari telunjuk dan berwarna-warni, sebatang kapur mampu menemani para siswa dalam belajar dan mengajar, dari bentuk dan gerakannya kapur tulis  mampu menghasilkan sesuat yang bermakna bagi anak didik.

Seiring perkembangan zaman keberadaan kapur tulis sudah mulai memudar. Beberapa sekolah sudah beralih ke spidol dengan white board yang kapan saja dapat digunakan, karena tintanya dapat diisi ulang. Sedangkan kapur tulis tidak dapat diisi , jika sudah habis maka harus menggunakan kapur tulis yang lainnnya.

Dahulu fenomena kapur tulis ini merupakan sebuah simbol potret pendidikan kita, mengapa bisa demikian? semboyan Habis kapur Boleh Pulang selalu lekat dalam dunia pendidikan masa itu, Pasalnya sedikit banyaknya kapur sebagai penentu jam pelajaran. Sebuah kota kecil di Pematang Siantar, Sumatera Utara. kota  yang memakan waktu perjalanan sekitar tiga jam dari kota Medan sering menerapkan sistem pendidikan ini.

Ketika seorang guru hendak mengajar biasanya akan membawa kapur yang telah disediakan dari kantor. Mungkin karena jumlahnya yang terbatas seorang guru harus berbagi-bagi kapur dengan guru lainnya, apalagi ketika siang hari biasanya persediaan kapur sudah mulai habis.

Biasanya para siswa sangat senang ketika melihat gurunya membawa kapur yang sedikit, berarti jam pelajaran tidak akan berlangsung lama . Karena jika kapur habis,  gurupun akan menyelesaikan pelajarannya, dan meminta siswa melanjutkannya di rumah masing-masing. Apalagi ketika guru itu sangat senang  dengan menulis daripada memberikan penjelasan seperti Catat buku Sampai Habis (CBSA). Bahkan banyak cara yang dilakukan oleh murid bagaimana mengurangi kapur yang ada di meja guru. Misalnya: mencuri kapur diam-diam ketika guru keluar sebentar, atau memboroskan kapur ketika akan menulis di depan kelas.

Dengan kondisi pendidikan seperti itu, banyak juga kalangan pelajar yang telah berhasil melanjutkan pendidikan mereka sampai jenjang karir. Mengapa dengan sistem belajar menggunakan kapur tulis, anak didik mampu mencapai cita-cita mereka?

Makna sebuah kapur tulis lebih dalam inti serta jiwanya dalam pendidikan daripada pendidikan saat ini. Begitu banyak kenangan dan tanggungjawab yang harus diemban seorang siswa ketika itu. Dengan jam pendidikan yang terbatas, dan sarana alat tulis yang kurang memadai para murid mampu menjalaninya dengan penuh tanggung jawab. Kapur tulis mampu meberikan sebuah “tekanan” disiplin bagi pelajar sekaligus makna penting sebuah pendidikan.

Meski berdampak negatif karena jam pelajaran terbatas, dan terpaku pada sistem kemalasan, namun mampu menghasilkan nilai positif yaitu kemauan dan disiplin. pendidikan seperti ini mampu memberikan Sistem pendidikan empiris dan pragmatis, dimana para pelajar diajak untuk dapat menjiwai pelajarannya dengan menyatukan seluruh tubuh , jiwa dan raganya. Sementara pendidikan saat ini lebih bersifat teoritis dan bukan merupakan sebuah pencapaian atau proses, melainkan lebih berfokus pada tujuan.

Hasilnya apa? para siswa dipaksa untuk menghalalkan segala cara agar mereka dapat lulus pada ujian. Berbagai permasalahanpun terjadi, ujian lulus sekolah yang dulu bernama EBTANAS tidak pernah dipersoalkan, karena merupakan sebuah proses tujuan  pendidikan yang harus dijalani dan ditekuni. Kini UNAS (Ujian Nasional) menjadi kontroversi bagi para pelajar, bahkan persyaratan kelulusan tingkat pendidikan yang mereka jalani ini, justru diprotes para siswa sendiri.

Sungguh menyedihkan memang, di saat pendidikan sekolah kita semakin maju dan terus berkembang, justru sistem pendidikannya semakin lentur dan dimanjakan,  Sepanjang sejarah tidak pernah proses ujian kelulusan sekolah diperdebatkan. Sebenarnya sistem dan peraturan pendidikan yang salah dan bukan proses pendidikan?

Seharusnya dengan kemajuan pendidikan harus dapat diseimbangkan dengan sistem pendidikan saat ini. Mereka yang dulu hanya menghandalkan sebuah kapur tulis, mampu menghadapi persaingan, mengapa zaman yang lebih maju saat ini tidak bisa?

Seni kapur tulis harus mampu menjadi sebuah simbol awal sebuah pendidikan. semakin sering kapur itu digunakan, akan semakin bertambah pula sumber ilmu pengetahuan yang disampaikan seorang guru.

Jadi kemajuan sebuah pendidikan tidak hanya tergantung dari kemajuan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk dana alokasi pendidikan, meski semuanya itu dibutuhkan. Namun hal paling utama adalah minat dan kemampuan anak didik dalam melanjutkan dunia pendidikan.

Belakangan ini tersiar kabar bahwa sekolah favorit di Yogyakarta kalah bersaing dengan sekolah non favorit dalam bidang pendidikan, ntah kenapa namun ini merupakan sebuah bukti. Tingkat pendidikan di daerah pedalaman jangan terlalu disepelekan dalam sebuah kancah pendidikan.  Seni kapur tulis masih memiliki arti sebuah pendidikan.

Mengapa orang tua kita yang dulunya mempunyai keterbatasan sarana pendidikan, namun  mampu menghadapi dunia persaingan kerja, dan bahkan mampu mengembangkan segala sesuatu dalam dunia perkembangan pendidikan. Kini anak didik menikmati semua apa yang telah dilakukan oleh  orang tua kita.

Memang dunia pendidikan sejak dulu hingga sekarang tidak ada bedanya, semuanya memiliki kesulitan yang sama dalam menghadapi pendidikan. Hanya saja yang dihadapi saat ini adalah alur pendidikan dalam bidang kemajuan teknologi, termasuk tuntutan pendidikan dari pemerintah yang selama ini masih dipermasalahkan bagi kalangan masyarakat. Mulai dari nilai standar UNAS, penarikan buku sejarah, mahalnya biaya pendidikan, hingga semakin beragamnya  mata pelajaran yang diajarkan bagi anak didik.

Apapun sistem yang digunakan dalam dunia penddikan ini jika tidak mampu diseimbangi dari kemauan anak didik, maka tidak akan menghasilkan apa-apa, justru semakin mempersulit anak didik dalam melanjutkan pendidikan mereka. Untuk itulah kita harus belajar dari sebatang kapur tulis, yang mengingatkan bahwa pendidikan kita tidak akan ketinggalan sampai kapanpun.

Jayalah Terus Pendidikan Indonesia Demi Indonesia Berkibar

One thought on “Mendidik Dengan Kapur Tulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s