Mengapa Orang Batak Sulit Menjadi Gubernur SUMUT

tumblr_static_pemilukada_sumutIseng-iseng, pertanyaan saya ini menjadi sebuah pemikiran yang pantas menjadi sebuah pertanyaan besar saat ini. Sejak tahun 2008 – 2013 Gubernur SUMUT dipimpin mereka yang bukan Batak (bukan bermaksus etnisitas) Namun seyogyanya mereka yang ikut dalam pemilihan pada tahun-tahun tersebut sebagian besar keturuan Batak. Namun pemilihan tersebut sepertinya akan menjadi perjuangan berat bagi mereka. Lihat saja Tengku Rizal Nurdin (1998 – 2005), Syamsul Arifin (2008-2011), Gatot Pujo Nugroho (Peride terkini), mereka dapat berkibar dengan cemerlang diantara para Pejabat Gubernur Batak sebelumnya.

Memang tidak dapat dipungkiri persaingan antara non batak dan batak sepertinya hal yang sulit di Sumatera Utara. Apa yang menjadi penyebab semua ini? Hal ini dikarenakan “terpecahnya” etnis batak dalam pemilihan Gubernur Sumut.

Mengapa bisa terpecah, coba perhatian siapa calon Gubernur dan Wakil Gubernur 2013 sebelumnya?

  1. Gus Irawan Pasaribu – Soekirman 
  2. Effendi Simbolon-Djumiran Abdi
  3. Chairuman Harahap – Fadly Nurzal Pohan
  4. Amri Tambunan – Rustam Effendy Nainggolan
  5. Gatot Pujo Nugroho – Tengku Erry Nuradi

 

Dari yang terpampang di atas, empat calon diantaranya adalah etnik Batak, selebihnya adalah non batak. Tidak ada yang salah dalam pemilihan ini, namun dapat diyakini bahwa kekuatan etnik lokal belum tentu dapat menjadi sebuah kekuatan dan jaminan untuk menjadi seorang Gubernur dengan mudah. Tentu ini menjadi tantangan yang menjadi berat bagi para tokoh ini.

Bayangkan, berapa banyak suara masyarakat Batak terpecah belah dikarenakan untuk memilih calonnya yang notabene berketurunan Batak. Misalkan saja ada calon yang marga Harianja, pasti 90% saya akan memilih calon tersebut. Meski tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan ‘Miss’ jika calon tersebut benar-benar bermasalah.

Apa yang menjadi penyebab sulitnya mencapai suara maksimal dari calon-calon asli daerah SUMUT tersebut.  Beberapa penyebanya diantaranya di bawah ini nih:

  • Kedekatan, masyarakat Batak dikenal memiliki budaya yang sangat kuat dan mempunyai persatuan yang kokoh. Dimana orang batak berada di seluruh Indonesia akan membentuk persatuan dan rasa solidaritas mereka yang sangat tinggi. Mereka seperti itu karena dari para leluhur dan nenek moyang mereka mengajarkan seperti itu dari dulu hingga sekarang.  Mereka yang memiliki marga yang sama dengan calon Gubernur tentu lebih besar akan memilih Calon Gubernur yang sama dengan marganya: Pasaribu, Simbolon, Harahap, Tambunan, Nainggolan. Belum lagi keturunan marga masing-masing calon, serta hubungan darah dan keberabatan calon.
  • Sosiologis (Penelitian Sosiolog, Paul F. Lazersfeld ) Teori yang pernah saya baca, setiap manusia terikat didalam berbagai lingkaran sosial, setiap manusia terikat di dalam berbagai lingkaran sosial, contohnya keluarga, lingkaran rekan-rekan, tempat kerja dsb.  Selain iut partai politik atau calon pejabat publik yang punya platform keagamaan yang sama dengan karakteristik keberagamaan pemilih, cendrung juga akan didukung oleh pemilih tersebut.
  • Faktor Psikologis (Non Batak), mereka yang ikut berpartisipasi bukan dikarenakan kondisinya lebih baik secara sosial ekonomi, atau karena berada dalam jaringan sosial, atau etnis tertentu. Akan tetapi karena ia tertarik dengan politik, punya perasaan dekat dengan partai tertentu (identitas partai), punya cukup informasi untuk menentukan pilihan, merasa suaranya berarti, serta percaya bahwa pilihannya dapat ikut memperbaiki keadaan (political efficacy).

Saya coba buka kembali Sensus Penduduk 2010, penduduk Sumatera Utara ada sekitar 13 juta orang. penduduknya terbagi atas suku Jawa sebanyak 33,4 persen, Batak Toba (22,3 persen), Batak Mandailing (9,5 persen), Nias (7,1 persen), Melayu (6,0 persen), Batak Karo (5,5 persen), Batak Angkola (4,1 persen), Tionghoa (2,7 persen), Minang (2,6 persen), Batak Simalungun (2,4 persen), Aceh (1,0 persen), Batak Pakpak (0,8 persen), dan suku lain sekitar 2,6 persen. Dari sisi agama, tercatat 66 persen pemeluk Islam, 31 persen Kristen (Protestan/Katolik), dan 3 persen agama lain.

Proporsi keragaman penduduk itu ternyata tersebar tidak merata dan menciptakan kantong etnisitas dan agama tertentu. Wilayah Pantai Timur Sumut dikenal dengan daerah konsentrasi suku Jawa, Melayu, dan yang sebagian besar beragama Islam. Wilayah Tapanuli Selatan dengan kekhasan suku Mandailing yang sebagian besar beragama Islam. Sebaliknya, wilayah Tapanuli Utara bersuku Batak Toba yang sebagian besar beragama Kristen.

Bila diperhatikan, Kombinasi pasangan tersebut memperlihatkan proporsi kelompok suku Jawa, Batak dan Melayu yang berkelindan dengan agama Islam atau Kristen yang dianut setiap kandidat. Banyaknya perpecahan suara ini membuat jumlah suara yang memiliki elektabilitas diatas 50% sulit dicapai. Lihat saja perbandingan di bawah ini:

  1. Gatot Pujo Nugroho – Tengku Erry Nuradi – 33% suara
  2. Effendi Simbolon – Djumiran Abdi – 24% suara
  3. Gus Irawan Pasaribu – Soekirman – 22% suara
  4. Amri Tambunan – RE Nainggolan – 12% suara
  5. Chairuman Harahap – Fadly Nurzal-  9% suara

Bila dilihat dari sebaran suara di tingkat Kabupaten/Kota, pasangan Gatot-Tengku Ery berhasil memenangi 15 Kabupaten Kota. Gatot sebelumnya adalah pelaksana tugas Gubernus Sumatera Utara, Sementara wakilnya adalah Bupati Serdang Bedagai yang dikenal sebagai tokoh Melayu. Lumbung suara terbesar pasangan ini berasal dari kabupaten kota disepanjang pantai timur Sumatera, meliputi dari Kabupaten Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Asahan, Tanjung Balai, Hingga Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara dan juga Labuhan Batu Selatan. Yang mengejutkan, pasangan ini juga unggul di Kabupaten Mandailing Natal, Tapanuli Tengah dan juga Phak Phak Barat, yang mayoritas masyarakatnya adalah juga muslim.

Dari sisi demografi, kawasan sepanjang pesisir timur Sumatera, mayoritas warganya adalah bersuku Jawa-Melayu dan beragama Islam. Dari hasil Sensus Penduduk tahun 2010, Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Langkat adalah tiga kabupaten/kota dengan urutan teratas yang memiliki jumlah penduduk terbanyak yang masing-masing berjumlah 2.109.339 orang (16,24 persen), 1.789.243 orang (13,78 persen), dan 966.133 orang (7,44 persen).

Prilaku pemilih yang primordial tidak hanya terlihat dari hasil suara yang diperoleh setiap kandidat, namun juga bisa dilihat dari penentuan kandidat yang diusung setiap Partai. Semuanya selalu mempertimbangkan faktor agama, etnis dan suku, karena dianggap bisa menjadi senjata ampuh dalam menarik dukungan massa. Primordialisme adalah paham atau ide dari anggota masyarakat yang mempunyai kecenderungan untuk berkelompok sehingga terbentuklah suku-suku bangsa. Dengan komposisi seperti itu saja, siapapun pasangan yang unggul di daerah ini, besar kemungkinan ia akan menjadi pemenang.

Selanjutnya, perolehan suara terbanyak kedua diraih pasangan pasangan Effendi Simbolon-Jumiran Abdi dengan perolehan 24,34 persen atau 1.183.187 suara. Pasangan ini menang di 13 kabupaten kota, umumnya yang berada di pesisir Barat Sumatera Utara yang mayoritas dihuni Kristen dan Batak, antara lain di Kabupaten Nias, Nias Barat, Nias Utara, Kabupaten Simalungun, Kota Pematang Siantar, Tapanuli Utara, Sibloga dan beberapa daerah lain.

Namun bila melihat keterpilihan berdasarkan etnis, agama dan juga partai, tentu hal ini menjadi suatu kewajaran. Dari lima pasang calon, terdapat dua kandidat yang beragama Kristen, yakni Effendi Simbolon dan RE Nainggolan yang berpasangan dengan Amri Tambunan. Sementara jumlah pemilih beragama Kristen berjumlah sekitar 3 juta orang. Artinya, bila dibagi dua, maka jumlah pemasukan suara sudah cukup signifikan. Karena hanya ada dua calon yang beragama Kristen, maka daerah yang mayoritas beragama Kristen juga dikuasai dua pasangan ini. Dua basis masa Kristen itu adalah di sepanjang dataran tinggi Tapanuli, yakni Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir, Samosir, Simalungun dan juga Nias. Pasangan Effendi berhasil mengusai semua basis massa Kristen, dan sisanya diambil oleh pasangan Amri Tambunan dan RE Nainggolan.

Dalam Pilkada Sumatera Utara, faktor gereja tidak bisa diabaikan. Meski gereja tidak berpolitik, namun dukungan gereja sangat dibutuhkan oleh pasangan calon dari etnis Batak serta lembaga adat atau marga-marga yang banyak dipengaruhi oleh raja-raja. (Salomo Panjaitan)

Gus Irawan juga dikenal memiliki harta berlimpah dan paling royal dalam anggaran karena ia dikenal sebagai mantan Dirut Bank Sumut. Sementara pasangan Chairuman Harahap – Fadly Nurzal yang mendapat 9.22% berhasil mengandalkan suara Primordialisme Batak dan Islam di daerah kelahiran Chairuman, yakni di Padang lawas dan Padang lawas Utara. Bila melihat sebaran suara tersebut, maka akan terlihat jelas bahwa wilayah kemenangan pasangan calon itu adalah kantong pemilih dengan konfigurasi agama dan suku yang sama dengan kandidat yang dipilih.

Siapapun mereka dari keturunan Batak yang akan menjadi Calon Gubernur berikutnya, mereka adalah tokoh yang benar-benar menjadi panutan, pengaruh besar bagi masyarakat SUMUT.  Sangat jelas terlihat bahwa pemilih memilih kandidat berdasarkan faktor etnis dan agama diluar dari faktor Psikologis (yakni identifikasi partai yang ikut berperan dalam perilaku memilih) . Selain itu, wilayah kemenangan kandidat juga menggambarkan bagaimana faktor agama dan suku sangat berpengaruh besar.

Akhir kata, semoga ini bisa menjadi panutan bahwa tokoh yang memiliki etnisitas kuat di SUMUT belum tentu menghasilkan suara yang besar.

14 thoughts on “Mengapa Orang Batak Sulit Menjadi Gubernur SUMUT

  1. Analisa cerdas,
    Pemilihan didaerah lain juga masalah utamanya itu. kesukuan-marga orang batak yang menjadi biang perpecahan, sulit bersatu jika ada lebih dari satu kandidat yang punya marga, masing-masing mendekatkan diri pada kedekatan marganya.
    Susah memang halak batak ini😀.

    Horas.

  2. Itu pertanda bahwa tidak cerdas berpolitik. Butuh pengetahuan menerima dan bekerja sama dengan hal-hal yang berbeda, untuk mencapai tujuan bersama.

  3. Sebenarnya simpel saja Bung. Yang diinginkan oleh masyarakat pemilih adalah calon yang bisa diterima oleh semua kalangan dan bisa memperjuangkan kepentingan umum — bukan kepentingan marganya, etnisnya, atau agamanya saja. Kalau sudah ada orang Batak yang seperti itu, jangankan Gubernur Sumut, kursi Presiden-pun akan mudah diraih.

    1. Terima kasih masukannya mas, namun kesimpulan seperti itu yaa..ok bisa saja dan pada umumnya memang seperti itu.
      Namun secara tidak langsung etnisitas tetap bisa mengena mas AASM, khusus Sumatera Utara,untuk daerah lain saya tidak tahu. Etnik batak yang kita anut sangat dekat dengan yang namanya marga baik secara langsung maupun tidak langsung seperti hanya kesamaan marga dan silsilah keturunan yang sama. Masalah Presiden, sampai sekarang belum ada capres orang Batak jadi saya tidak bisa memberi komentar🙂

  4. Hallo sumut.
    Saya mau komen saja. Utk hal gubernur sumut. Hampir semua kandidat calon gunernur pastilah main uang yg pasti.
    Dan mengandalakan kekuatan sendiri dan .tambah pendekatan ke semua aspek sosial dll. Terutama orang batak. Kurang menyikapi persatuan.
    Sy lebih lebih tertarik dari kisah musa orang israel .memjadi perdana mentri di tanah mesir pd jaman firaun. Krn dia percaya. Tuhan buka jln. Mari batak bersatu .dll. Gbu

  5. Analisa yg bagus, tp saya ingin komentar ya…
    Klo batak bersatupun belum tentu menang, karna total suku batak masih kalah jumlahnya dibanding gabungan suku lain.
    Dan untuk diketahui, negara yg katanya paling demokratispun seperti amerika dan eropa TETAP memilih calon dari KEDEKATAN SOSIAL yg sama (bisa agama, suku,dll), apakah warga amerika/eropa akan memilih calon presiden yg beraga islam??? Saya yakin 1000% ini blm akan terjadi. Sama aja di negara lain, dimana2 mayoritas lah yg menang🙂

  6. Kita harus berpikir tentang mayoritas, apapun agamanya itu ia pasti sangat panatik terhadap, karna dalam benak nya siapapun nanti yang akan duduk pasti sama saja,,

  7. Suku apa saja yang memimpin SUMUT tidak masalah yang penting. Pemimpinnya berwawasan Nasional dan Internasional,tidak membedakan Suku Agama & Ras.Tambahan cara memimpin dan bertindak gabungan dari karakter budaya Jawa & Batak. Berbicara sopan santun dan mengurus masalah sampai tuntas dan cepat, lugas.Dan satu hal yang penting harus bisa mengandalkan IPTEK bukan mengandalkan kekayaan alam semata.KEKAYAAN SUMUT adalah memajukan warga SUMUT menjadi pakar teknologi baik teknologi pertanian,teknologi peternakan,teknologi industri,teknologi robotik,teknologi komputer dan teknologi animasi. Kesemuanya teknologi yang dikuasai akan bisa mengkelolah kekayaan alam SUMUT.MOTTO:Kekayaan alam no, Kekayaan IPTEK yes.Jepang tidak memiliki kekayaan alam yg menjanjikan tapi negara bisa disejajarkan dengan negara Maju.SUMUT kenapa tidak bisa, pakar teknologi atom ada orang batak sekarang berdiam di negara lain, HORAS BATAK kamu pasti bisa.

  8. Patut diakui, Masalah SARA masih kental dalam menentukan pemimpin apapun. Tapi perlu dicatat, Sekarang ini masyarakat sudah semakin Cerdas asalkan Calon yang mau maju tersebut dapat menyentuh sampai kelapisan paling bawah dan benar-benar mempunyai Program, misi dan visi sederhana yang masuk akal. Tidak perlu janji-janji yg terkesan berlebihan. Buktikan dengan kerja dan pendekatan secara emosional. Ahok telah membuktikan di DKI Jakarta dan masalah SARA sudah tidak Populer lagi dibahas saat ini. Masyarakat butuh Bukti bukan Janji bung. Thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s