Buruh Migran: Mereka yang Diperas, Dibenci namun ‘Dibanggakan’

1820412-tki-bermasalah-620X310

“Devisanya mau, tapi untuk mengurus masalahnya, negara malah cenderung sangat lamban bahkan tidak mempedulikannya”

Kata bijak diatas memang pantas saya layangkan bagi Pemerintahan kita tercinta ini. Bukan itu saja, bagi sebagian penduduk negeri ini, bekerja di mancanegara tampaknya dianggap sebagai satu-satunya cara untuk terlepas dari kemiskinan dengan cara yang relatif instan. Hanya dengan bekerja di luar negeri, mereka bisa membangun rumah berdindingkan bata, anak-anaknya bisa bersekolah, bisa membeli beberapa ekor sapi atau beberapa petak kebuh dan sawah.

Untuk sebuah negeri Indonesia yang indah dengan tingkat pengangguran yang amat tinggi pengiriman buruh ke mancanegara mungkin memang sebuah keniscayaan. Indonesia yang mencapai angka pengangguran sekitar 7,4 juta dari total sekitar angkatan kerjanya sebanyak 120,17 juta jiwa.

Selain itu, dalam 10 tahun terakhir jumlah warga negara Indonesia yang menjadi korban perbudakan modern yang tercatat meningkat lebih dari 300% !. Jika di tahun 2013 berjumlah 210,970 orang maka di tahun 2014 meningkat menjadi 714.300 orang.

Kemiskinan dan kegagalan pemerintah dalam mendorong pencitaan lapangan kerja, tentu saja merupakan faktor utama yang membuat orang harus berbondong-bondong peri mengail rejeki di negeri orang. Tak terbayangkan setiap tahun mereka menggelontorkan devisa hingga senilaI 70 Triliun ke negeri ini.

Suatu devisa yang amat besar dan jumlahnya hanya bisa disaingin oleh ekspor migas. Kata lainnya adalah, ekspor nonmigas terbesar negara kita ini sesungguhnya para buruh migran itu. Bisa dimaklumi jika negara pun sangat berkepentingan dengan lancarnya pengiriman buruh migran ini.

“Toh, di mata sebagian kalangan, negara cenderung melihat persoalan buruh migran ini hanya dari sisi manisnya saja kog. Devisanya mau, tapi untuk mengurus masalahnya, negara malah cenderung sangat lamban.”

Ironisnya, Indonesia seringkali membanggakan pendapatan jutaan dolar yang berasal dari buruh migran perempuannya, dan mengklaim bahwa ini akan berkontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi negara, meskipun pada faktanya pendapatan jutaan dolar ini dinodai dan dilahirkan dari perbudakan ekonomi dan kekerasan terhadap kaum perempuannya.

Persoalan seperti ini sudah terjadi sejak semenjak mereka hendak berangkat ke mancanegara. Masa sih banyak dari mereka harus tinggal di penampungan yang sempit dan pengap. Mereka yang tinggal di penampungan selama 3-5 bulan yang seharusnya diisi dengan acara pelatihan dan peningkatan skill, habis waktunya untuk berebut kamar mandi dan toilet.

289030_menlu-retno-marsudi-dengan-para-tki-tkw-buruh-migran_663_382

Negara, sekadar mengambil contoh, nyaris tak pernah hadir saat para buruh migran harus bertaruh melawan majikan di pengadilan. Dalam peradilan pidanapun, negara lalin-lagi kerap absen mendampingi para buruh migran yang tersandung masalah hukum.  Ada sekitar 265 TKI yang terancam hukuman mati di luar negeri. Sepanjang 10 tahun terakhir, ada tiga buruh migran Indonesia yang dieksekusi mati tanpa pembelaan yang berarti dari pemerintah. Tiga buruh itu adalah Yanti Iriayanti, Agus Damansiri dan Ruyati. Belum lagi kasus kejadian yang datang di bawah ini:

Siti Zaenab dipidana atas kasus pembunuhan terhadap istri dari pengguna jasanya yang bernama Nourah Binti Abdullah Duhem Al Maruba pada tahun 1999. Dia kemudian ditahan di Penjara Umum Madinah sejak 5 Oktober 1999.

Setelah melalui rangkaian proses hukum, pada 8 Januari 2001, Pengadilan Madinah menjatuhkan vonis hukuman mati

Karni Binti Medi Tarsim, TKW asal Brebes dijatuhi vonis hukuman mati oleh Mahkamah Umum Yanbu pada bulan Maret 2013 dengan Amar Putusan Persidangan Nomor 34206523 atas tuduhan pembunuhan terhadap anak majikan.

Mestinya pemerintah bisa mengambil pelajaran dari banyak kasus yang menimpa buruh migran Indonesia. Nyatanya, perbaikan itu tak kunjung datang Kita tetap saja mengirim buruh migran dengan ketrampilan yang sangat rendah. Mereka juga tak menguasai bahasa, hingga kebudayaan dan teknologi di negara tujuan.

Belajar dari kasus Siti Zaenab dan Karni Binti Medi Tarsim, bahwa buruh migran di berbagai negara Timur Tengah selalu terkuruh oleh hukum yang kurang transparan. Banyaknya buruh migran Indonesia yang diseret ke pengadilan pidanan di sejumlah engara Arap, tanpa mendapatkan bantuan hukum yang memadai, atau bejibunnya buruh migran di kolong jembatan Khandaran, Jeddah, menunjukan betapa pengiriman TKI sarat masalah.

12976784001090548521

Munculnya ribuan orang di kolog jembatan Khandaran adalah salah satu bukti banyaknya orang yang diusir majikannya. Banyak yang tidak memiliki dokumen lengkap, mereka pun kahirnya menggelandang. Umumnya buruh migran yang dikirim ke Timur Tengah tak memiliki visa kerja. Sebagian besar mereka dikirim ke sana dengan visa umroh. Nah, saat mereka diusir oleh majikannya, atau melarikan diri karena tak tahan terhadap perlakuan majikannya, pemerintah Indonesia pun tak bisa berbuah banyak.

Lebih runyamnya lagi, kabarnya pemerintah biasanya juga sangat lamban bertindak. Entah berapa bulan setelah munculnya gerombolan orang Indonesia di kolong Khandara, Pemerintah baru berusaha untuk melakukan pemulangan.

Sayangnya, selama masih menerapkan sistem Kapitalisme, maka negeri ini tidak akan memiliki solusi tuntas menyelesaikan TKW, karena sistem ini telah menghalalkan keringat dan darah anak bangsa  sebagai tumbal keserakahan segelintir manusia. Derita para TKW akan berakhir hanya jika terwujud pemerintah yang tulus ikhlas mencintai rakyatnya, melindungi mereka sekuat tenaga dan tidak rela jika darah mereka tertumpah karena kedzoliman pihak lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s